Tampilkan postingan dengan label Editing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Editing. Tampilkan semua postingan

Betulkah Bentuk Mengkritisi?

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Rabu, 04 Agustus 2010

(Ilustrasi: Ella Dallus)

Oleh: J.S. Badudu

Menggunakan bahasa secara tepat dan benar tidaklah mudah. Tentu saja diperlukan pengetahuan tentang bahasa itu melalui pelajaran khusus. Pengetahuan berbahasa secara alami saja tidak cukup. Di sekolah, guru mengajarkan kepada murid-muridnya bagaimana bahasa yang benar tentang makna kata, bentuk kata, dan susunan kata dalam kalimat.

Ada dua segi bahasa yang utama, yakni bentuk dan isi. Yang dimaksud dengan isi adalah makna, arti, atau maksud yang terkandung dalam bentuk bahasa itu. Bentuk dan isi tentu harus sejalan. Kalau bentuk salah, misalnya susunan kata-kata dalam kalimat tidak teratur sesuai dengan struktur kalimat, arti atau maksud kalimat itu akan kabur atau tidak dapat dipahami.

Mari kita tinjau sepatah kata yang sering dipakai orang, padahal kata itu salah bentuknya. Yang saya maksud adalah kata “mengkritisi”. “Dia mengkritisi bahasa saya” bukanlah kalimat yang benar. Kata “kritisi” adalah kata bentuk sebagai bentuk jamak dari “kritikus” — orang yang ahli mengkritik. Baik kata “kritikus”, maupun kata “kritisi”, berasal dari kata “kritik”.

Kata “kritik” dipungut dari bahasa Belanda yang padanannya dalam bahasa Indonesia adalah kata “kecaman”. Kata kerjanya ialah “mengkritik” atau “dikritik”. Berikut adalah contoh pemakaiannya.
  1. Tabiat manusia pada umumnya suka “mengkritik”, tetapi tidak senang bila “dikritik”.
  2. Alm. H.B. Jassin adalah seorang “kritikus” sastra yang terkenal.
  3. “Kritisi” sastra Indonesia sangat sedikit, malah boleh dikatakan orang yang melakukan kerja “kritik” secara teratur, seperti H.B. Jassin, hampir tidak ada.
Dengan penggunaannya dalam kalimat seperti pada contoh-contoh di atas, kita dapat melihat bagaimana penggunaan kata-kata itu secara benar dalam kalimat. Dalam bahasa Indonesia tidak ada bentuk kata kerja “mengkritisi” dan “dikritisi”. Kedua bentuk itu adalah bentuk yang salah kaprah. Jadi, jangan digunakan. Contoh lain seperti itu, misalnya “politik”, “politikus”, dan “politisi”.

Kesalahan kedua yang sering kita jumpai dalam tulisan-tulisan dewasa ini ialah bentuk kata “berpetualang”. Kata ini dibentuk dari kata dasar “tualang”, diberi awalan pe-, lalu diberi lagi awalan ber-. Kata “petualang” berarti orang yang bertualang. Kata ini tidak mungkin diberi lagi awalan ber- karena maknanya tidak sesuai dengan nalar.

Sebagai bandingannya, dapatkah kata “pedagang” dan “petani” diberi awalan ber-, menjadi “berpedagang” dan “berpetani”? Tidak mungkin, bukan? Itu sebabnya bentuk “berpetualang” bukanlah bentuk yang benar.

Dari bentuk dasar “tualang” (yang tidak dapat digunakan tanpa imbuhan) muncul kata “bertualang” sebagai kata kerja. Orang yang “bertualang” disebut petualang dan pekerjaannya itu sendiri disebut “petualangan”. Hanya ada tiga kata bentukan dari bentuk dasar kata “tualang” itu, tidak ada bentuk yang lain lagi.

Contoh lain seperti tualang ialah “ungsi”. Bentuk ini tidak dapat dipakai sendiri tanpa imbuhan. Hanya muncul sebagai “mengungsi”, “pengungsi”, “mengungsikan”, “diungsikan”, “pengungsian”, dan mungkin juga bentuk “terungsikan”.

Berikut contoh dalam kalimat.
  1. Korban bencana alam itu “mengungsi” ke tempat yang aman.
  2. Para “pengungsi” terdiri atas laki-laki dan perempuan, bahkan orang-orang yang sudah tua dan anak-anak.
  3. Pemerintah “mengungsikan” semua penduduk dari daerah bencana itu.
  4. Jumlah orang yang “diungsikan” lebih dari seribu orang.
  5. Tempat “pengungsian” tidak hanya satu, tetapi beberapa.
  6. Orang yang “terungsikan” merasa bersyukur karena luput dari bencana gempa dan tsunami itu.


Penggunaan Huruf Kapital atau Huruf Besar

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Senin, 19 Juli 2010 9 komentar

Ilustrasi: Banksy

Huruf Kapital atau Huruf Besar

1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.

Misalnya:
Dia mengantuk.
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu belum selesai.
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya:
Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"
Bapak menasihatkan, "Berhati-hatilah, Nak!"
"Kemarin engkau terlambat," katanya.
"Besok pagi," kata Ibu, "Dia akan berangkat."
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:
Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen
Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.
Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya:
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Imam Syafii
Nabi Ibrahim

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar, kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
Tahun ini ia pergi naik haji.
5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husen Sastranegara
Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian
Gubernur Irian Jaya

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.

Misalnya:
Siapa gubernur yang baru dilantik itu?
Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.

Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
Halim Perdanakusumah
Ampere

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama sejenis atau satuan ukuran.

Misalnya:
mesin diesel
10 volt
5 ampere
7. Huruf kapital sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.

Misalnya:
bangsa Indonesia
suku Sunda
bahasa Inggris

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya:
mengindonesiakan kata asing
keinggris-inggrisan
8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Misalnya:
bulan Agustus hari Natal
bulan Maulid Perang Candu
hari Galungan tahun Hijriah
hari Jumat tarikh Masehi
hari Lebaran
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.

Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Misalnya:
Asia Tenggara Kali Brantas
Banyuwangi Lembah Baliem
Bukit Barisan Ngarai Sianok
Cirebon Pegunungan Jayawijaya
Danau Toba Selat Lombok
Daratan Tinggi Dieng Tanjung Harapan
Gunung Semeru Teluk Benggala
Jalan Diponegoro Terusan Suez
Jazirah Arab

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.

Misalnya:
berlayar ke teluk
mandi di kali
menyeberangi selat
pergi ke arah tenggara

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.

Misalnya:
garam inggris
gula jawa
kacang bogor
pisang ambon
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.

Misalnya:
Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak
Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.

Misalnya:
menjadi sebuah republik
beberapa badan hukum
kerja sama antara pemerintah dan rakyat
menurut undang-undang yang berlaku
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".
14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

Misalnya:
Dr. doktor
M.A. master of arts
S.H. sarjana hukum
S.S. sarjana sastra
Prof. profesor
Tn. tuan
Ny. nyonya
Sdr. saudara
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.

Misalnya:
"Kapan Bapak berangkat?" tanya Harto.
Adik bertanya, "Itu apa, Bu?"
Surat Saudara sudah saya terima.
"Silakan duduk, Dik!" kata Ucok.
Besok Paman akan datang.
Mereka pergi ke rumah Pak Camat.
Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.

Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
16. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.

Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda telah kami terima.


(Sumber: Link)


(Tabel) Kata/Frase yang Ditulis Serangkai

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On 0 komentar

(Maaf ya kalau tabelnya terlalu ke bawah. Sudah saya cari tahu penyebabnya, tetapi tidak ketemu juga. Jadi saya biarkan saja seperti ini. Semoga tidak mengganggu, ya)








BENARSALAH
apabila
barangkali
bilamana
belasungkawa
daripada
halalbihalal
kacamata
kasatmata
kosakata
lokakarya
manakala
olahraga
radioaktif
saputangan
sediakala
segitiga
sukacita
sukarela
sukaria
apa bila
barang kali
bila mana
bela sungkawa
dari pada
halal bihalal
kaca mata
kasat mata
kosa kata
loka karya
mana kala
olah raga
radio aktif
sapu tangan
sedia kala
segi tiga
suka cita
suka rela
suka ria

Sumber dari wikipedia, tapi kami pilah lagi satu persatu, sebab ternyata banyak juga kata-kata yang seharusnya dipisah malah diserangkaikan oleh wikipedia. Alhasil, kami harus pilah satu-satu dengan menggunakan KBBI dalam jaringan. Semoga bermanfaat.

Salam,
SindikatPenulis.com


Related Posts with Thumbnails
Diberdayakan oleh Blogger.