Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Lima Unsur dalam Fiksi yang Mesti Kita Tahu

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Rabu, 05 Mei 2010 3 komentar

(Ilustrasi karya: Ella Dalus)


Dunia fiksi adalah dunia kebebasan tanpa batas. Kita bisa pergi ke mana saja, melanglang buana semau kita, menghentikan waktu dan menjalankannya kembali, semua itu bisa kita lakukan kapan saja. Kita juga bisa menciptakan makhluk-makhluk aneh yang belum sempat tuhan ciptakan, membangun sebuah pulau yang tak pernah tercatat dalam sejarah, mematikan tokoh protagonis, memberi penghargaan kepada tokoh antagonis, membalik segalanya, merusak segalanya, mendekonstruksi realita sehari-hari dengan imajinasi. Ya, dengan menulis fiksi, kita bisa melakukan apa saja.

Namun, kita juga mesti tahu, bahwa sebebas apa pun kita menulis fiksi, ada beberapa panduan yang mesti kita ikuti.

Penulisan fiksi yang bagus sekiranya harus memiliki lima unsur. Kesemua unsur tersebut adalah bahan paling penting untuk kita gunakan dalam membuat cerita fiksi yang memikat, indah, menawan, memukau, sehingga membuat pembaca begitu betah berlama-lama membaca cerita kita.

Kelima unsur penting itu adalah sebagai berikut:

  • Karakter
  • Plot / Alur
  • Seting / Latar
  • Tema
  • Style / Gaya
Jika kelima unsur di atas terjalin mulus dan terpilin dengan begitu rapi, kita akan bisa membuat cerita fiksi yang—katakanlah—berhasil.

So, here we go!

KARAKTER
Kebanyakan orang merasa bahwa karakterisasi adalah unsur paling penting dalam naskah fiksi. Penggambaran karakter yang kuat bisa membuat pembaca merasa memiliki hubungan emosional dengan tokoh karakter yang kita karang itu. Karakter yang kuat di sini maksudnya bukan berarti harus berbadan six pack seperti model iklan L-Men, melainkan karakter itu memiliki keunikan, tidak stereotip, dan mampu membuat pembaca berfikir bahwa karakter tokoh karangan kita itu benar-benar ada di dunia nyata. Cerita fiksi tanpa adanya karakterisasi atau penokohan, adalah cerita yang bisa dikatakan sangat tidak menarik.

PLOT / ALUR
Plot juga merupakan unsur yang penting dalam cerita fiksi, yaitu rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu. Plot tidak bisa disamakan dengan jalan cerita, tapi lebih kepada hubungan sebab-akibat. Cerita seperti: “Saya bangun tidur, melamun sebentar, kemudian beranjak mendekati jendela.” Ini namanya jalan cerita, bukan plot. Jika cerita itu diubah seperti ini: “Saya bangun tidur dan merasa tenggorokan saya kering, Dengan langkah perlahan saya langsung menuju kulkas.” Inilah yang dinamakan plot. Ada hubungan sebab-akibat di dalam cerita itu. Itu hanya contoh sederhananya. Jadi di sini sudah jelas betapa pentingnya plot dalam cerita fiksi. Plot yang baik dapat menggugah rasa ingin tahu pembaca akan kelanjutan cerita kita.

SETING / LATAR
Seting adalah informasi yang menggambarkan waktu dan tempat dalam sebuah cerita fiksi. Kapan cerita itu terjadi dan di mana kisah itu berlangsung. Hal ini penting sekali, sebab dengan adanya seting, pembaca bisa lebih menghayati cerita fiksi yang kita buat itu. Dengan seting (tempat dan waktu) kita juga bisa menciptakan karakter tokoh dengan baik, dan dari seting kita juga bisa menentukan konflik demi mendapatkan emosi pembaca. Seting yang baik bukanlah cuma dijadikan sebagai latar belakang sebuah cerita fiksi saja, melainkan juga merupakan satu kesatuan dari cerita. Saling berkesinambungan.

TEMA
Tema adalah inti dari apa yang sebenarnya ingin kita ceritakan. Atau, bisa juga disebut sebagai ide pokok dari rangkaian cerita fiksi yang ingin kita tuliskan. Kita akan kesulitan menulis jika kita belum memiliki tema. Dengan tema yang menarik, pembaca akan antusias dengan tulisan kita. Jadi, jika kita ingin menulis, tentukan tema sekarang juga.

STYLE / GAYA
Apabila kita ingin menulis tentang tema yang—katakanlah—sudah klise, misalnya kisah tentang pertaubatan seorang pendosa, kita tetap bisa membuat cerita itu menjadi menarik.
"Lho, kok bisa?"
"Ya bisa, dong!"
"Bagaimana caranya?"
"Gampang!"
"Gampang bagaimana? Kasih tahu, dong!”
"Sabar, dong!"
"Aduuuh... bikin penasaran aja, deh!"
"Hehehe... gampang. Jawabannya adalah dengan gaya tulisan kamu!"

Ya, dalam menulis cerita fiksi, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat cerita fiksi kita menjadi menarik, salah satunya adalah: gaya menulis. Mungkin kita bisa menulis cerita dengan menggunakan gaya punggung... eh, ini mah renang! Maaf, maksud saya, kita bisa menulis cerita dengan berbagai macam gaya. Komponen-komponen dalam gaya bisa berupa sudut pandang yang unik, narasi yang aduhai, rima yang memesona, ending yang mengejutkan, dan lain sebagainya. Tapi, kita mesti ingat, jangan terlalu sering bermain-main dengan gaya, sebab takutnya kita malah dianggap sebagai badut atraksi kata-kata. Gaya hanyalah salah satu hal yang dapat membantu menjadikan cerita fiksi kita menjadi semakin memukau.

KESIMPULAN
Apa sih pentingnya kita memahami unsur-unsur fiksi tersebut? Bukankah lebih baik kita duduk di depan komputer dan mulai menulis, lantas biarkan energi kreativitas kita yang akan melakukan hal tersebut?

Hmm... Sebenarnya dengan kita paham dan akrab dengan unsur-unsur fiksi tersebut, itu akan menguntungkan kita sebagai seorang penulis. Di antaranya adalah sebagai berikut:
  • Mengetahui semua unsur-unsur ini akan memudahkan kita untuk berbicara dengan cerdas mengenai menulis fiksi.
  • Kita akan dapat mengidentifikasi masalah dengan lebih mudah.
  • Memahami unsur-unsur ini akan memberikan kita perspektif baru sebagai pembaca fiksi.
  • Jika unsur-unsur cerita fiksi adalah bahan bangunan, maka kita harus tahu apa yang harus kita kerjakan selanjutnya.
Ya, kamu mungkin bisa saja cuma duduk dan langsung menulis dengan kreativitas yang—katakanlah—masih mentah, dan bisa jadi hasil tulisan itu akan menjadi tulisan yang baik. Namun, semakin kamu memahami unsur-unsur di atas tadi, semakin lengkaplah kamu untuk menjadi seorang penulis fiksi yang baik. Semoga bermanfaat! (Noor H. Dee)


Menyelesaikan Novelmu dalam Empat Tahapan Sederhana (bagian 1)

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Selasa, 04 Mei 2010 16 komentar

(Ilustrasi karya: Ella Dalus)

Kau harus memiliki stamina untuk mentransformasikan sebuah draft pertama yang ringan menjadi sebuah cerita dengan kekuatan yang simultan.

Gunakan empat strategi ini untuk membuat draftmu menjadi novel yang berbobot dan berkembang. Namun, sebelum itu saya akan menjelaskan siapa novelis itu: novelis adalah pelari jarak jauh yang harus memiliki stamina yang tangguh; seorang supir truk tronton antar provinsi atau pengarung samudera atau Cheng-Ho-nya di dalam samudera penulisan. Tidak ada pelari sprint, atau penulis karbitan di dalam pembuatan novel. Jika memang ada—di dalam dunia penulisan—tentunya tidak untuk novelis.

Mengapa?

Sebab permasalahannya, di dalam novel terdapat banyak karakter, terdapat banyak scene/adegan, terlalu banyak struktur cerita dan halaman yang harus dibangun, dan kalimat yang unik untuk dituliskan, bahkan ditulis ulang, direvisi, dan dipoles, dipercantik seperti sepatu kulit Edward Forrer.

Ketahanan/stamina memang merupakan kunci untuk menyelesaikan sebuah tugas. Meski demikian, stamina tidak juga menjadi faktor penentu. Karena, jika penulis novel diibaratkan sebagai sesuatu yang harus menjelajah jauh, maka pembaca novel bisa juga diibaratkan sebagai pelari maraton olimpiade.

Bayangkan, mereka harus berlari puluhan kilometer, dan ini berarti proses revisi harus seimbang dengan proses panjang yang harus mereka lakukan di dalam berlari. Proses revisi itu mesti berdarah-darah, harus berhati-hati memilih kata dan bahasa karena jika kata salah digunakan, maka kata-kata itu seperti halnya kubangan di tengah jalan yang akan mencelekai dirimu ketika kau mengendarai motor di jalan Margonda. Itulah, mengapa sudah kukatakan saudara, proses revisi itu mempertaruhkan passion, mempertaruhkan hasrat pembaca, dan tentu saja, mempertaruhkan harga diri kita, agar si pembaca mau mengikuti, berkeliling-keliling, dan masuk menjelajah tulisan kita.

Membuat novel bukanlah sebuah pekerjaan ringan. Dalam pembuatan narasinya kita harus berputar-putar, dan seperti itulah yang harus dilakukan, yakni: membuat pembaca mabuk hingga tetesan terakhir 'tinta' yang kita tuangkan. Sebagai seorang novelis, kamu tentu memerlukan strategi/teknik yang kongkret untuk menjadikan draft pertamamu menjadi kisah panjang yang bisa membuatmu berdiri tegak.

Inilah aturan-aturan yang akan membuat pembacamu tidak jatuh tertidur karena bosan, atau menyerah dan modar sebelum mereka menuntaskan bab terakhir masterpiece-mu: novelmu.

TULISKAN SELURUH DRAFT PERTAMAMU DENGAN CEPAT

Aturan pertama dalam membuat novel adalah haram untuk memfokuskan diri dengan revisi. Dalam sesi ini kamu harus benar-benar menggodam atau menghancurkan hasrat untuk merevisi yang kamu tulis. Pokoknya, tuliskan saja!

Well, jika kamu perfectionist, sok sempurna, hal ini akan menyulitkan kamu, karena proses penulisan draft pertama dengan cepat berarti mencoba memaafkan tulisanmu yang, amit-amit butut.

Cepat memang berarti kacau balau dalam pemilihan diksi, sintaks, susunan/kaidah berbahasa, tapi meski dengannya, merasa mengkhianati ego, tetap saja hal itu sebanding dengan harga yang kau bayarkan untuk membeli: mengalirnya tulisanmu dalam pembuatan draft pertama. Tidak ada jalan untuk menulis draft pertama selain menggunakan kecepatan, fast and furious seperti judul sebuah film butut. Dan sesungguhnya apa yang saya sampaikan ini sama dengan yang disampaikan film Finding Forester, menulislah dengan perasaan dan mengeditlah dengan pikiran, bukan?

Pokoknya, nih saya kasih tau nih, tulislah draft pertama seperti kecepatan peluru yang menghabiskan hidup Kurt Cobain. Menulislah seperti bergegasnya pembabat hutan saatmenggergaji kayu di belantara Kalimantan, kalau perumpamaan itu terlalu mengawang, berlarilah seperti bencong-bencong taman Lawang saat dikejar Satpolnya Fauzi Bowo. Bisakan?

Ya, ya, karakter yang kau gunakan di awal draft itu mungkin terkesan mentah, subplotmu akan terasa tidak tereksplorasi dengan baik, tapi melajulah, sebab ketika bergegas kau tidak memiliki pilihan selain mengkhatamkan sebuah garis cerita. Dengan melakukan itu, kau akan berhasil menghalau godaan-godaan untuk merevisi yang akan menyelewengkan dirimu untuk menyelesaikan draft awal novelmu (Kau bisa! Kau baru harus merevisi membuat plot, karakter yang kuat, kata-kata yang berbobot, jika draft awalmu sudah selesai).

Inilah stressing pointnya, bahwa dengan menghindarkan diri dari revisi, saat pengerjaan draft pertama maka kau tidak menyia-nyiakan waktumu. Revisi di draft awal? Oh, (maaf) peduli setan!

Pertanyaan selanjutnya, seberapa cepat yang harus kamu lakukan dalam menyelesaikan draft awal?

Tergantung kecepatan penulis. Kebiasaan alamiah saya adalah bekerja santai, tetapi saya menulis manuskrip awal dalam waktu six pack, oh... tidak, saya melantur lagi, maksudnya: saya menyelesaikan dalam waktu enam bulan. Dan kalau tujuh bulan, sepertinya akan ada ritual bid’ah yang terpaksa saya lakukan: ritual tujuh bulanan misalnya.
Oke, back to my track, saya biasanya menyelesaikan dua halaman setiap saya duduk. Dan jika kamu melakukan hal yang sama, mendedikasikan dirimu untuk menulis tanpa mengedit, maka kamu akan tekejut betapa draft awal itu bisa kau selesaikan dengan cepat.

Dan itulah waktunya untuk menulis ulang, memulainya dengan menggunakan kecanggihan otakmu (kencanggihan merevisi) untuk membawa pembaca, masuk ke dalam dunia yang kau ciptakan. Dengan merevisi, kau bisa menjadikan genit sebuah kata, membuat sebuah kalimat menjadi cantik dan seksi, menjadikan alurmu sekuat Goliath, dan menegaskan penokohan, sehingga si pembaca menjadi susah berpaling dari tulisanmu! (Divan Semesta)

Baca juga: Menyelesaikan Novelmu dalam Empat Tahapan Sederhana (bagian 2)


5 Langkah Sederhana untuk Memulai Sebuah Cerita

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Minggu, 29 November 2009 2 komentar

Untuk memulai sebuah tulisan (cerita) memang tidak segampang menyibak gorden jendela. Malah banyak yang bilang bahwa memulai sebuah tulisan itu sulitnya bukan main. Itu bisa dibuktikan jika kita menghadiri acara workshop kepenulisan. Di saat sesi tanya-jawab, pasti ada saja seseorang yang mengangkat tangan kanannya untuk kemudian bertanya, “Bagaimana sih caranya memulai sebuah tulisan?” Padahal, kalau dipikir-pikir, buku-buku tentang kepenulisan itu sudah banyak yang diterbitkan. Arswendo sudah menulis Mengarang itu Gampang, A.S Laksana juga sudah membuat buku Creative Writing, dan masih banyak lagi buku-buku yang serupa dengan itu, tapi—apa boleh buat—sepertinya permasalahan tentang mengawali sebuah tulisan itu memang tidak akan pernah hilang sampai kiamat datang (hehe. Lebay!).

Baiklah, untuk menghindari kalimat basa-basi, di bawah ini akan saya paparkan lima langkah sederhana dalam memulai sebuah tulisan (cerita). Here we go!


1. Mulailah dengan Dialog
“Hanun, pergilah ke rawa di seberang Bukik Barisan. Biasanya di sana tumbuh aneka bunga. Petiklah setangkai dua tangkai untukku. Rasanya, penat ini terlerai bila memandang bunga-bunga,” pinta Kakek. Matanya mengedip-ngedip pelan, kulit lisutnya mengernyit dan lewat sorotan matanya, Kakek tidak lagi seriang dulu. (Bunga dari Peking, cerpen Zelfeni Wimra)

2. Mulailah dengan Deskripsi Tokoh
Lelaki tua itu masih berbau rusa dan kaus oblongnya yang lusuh masih menebar bau pembakaran yang tidak sempurna. Sangit.... (Kitab Salah Paham, cerpen Puthut EA)

3. Mulailah dengan Berita di Koran atau Televisi
Jumlah anak balita kurang gizi di Indonesia sekitar 23 juta. Dampak kurang gizi adalah terhambatnya pertumbuhan otak dan fisik. Begitu melewati usia dua tahun tanpa asupan gizi seimbang, kondisinya tak dapat diperbaiki lagi. Citra CT-scan akan memperlihatkan gambar otak yang tidak padat alias otak kosong.... Bersiaplah memanen generasi yang hilang. Tidak lama, cuma dua dasawarsa lagi. (Kompas, Selasa 11 Oktober 2005)

Rombongan sirkus itu muncul ke kota kami....
(Sirkus, cerpen Agus Noor)

4. Mulailah dengan Adegan
Ia menulis puisi panjang di depan sebujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata; mati, kematian dan airmata di dalam puisi itu, yang adalah buah apel, meja makan, dan yang paling banyak adalah: usaha mati-matian. (Kematian Seorang Istri, cerpen Puthut EA)

Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappucino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya. (Rembulan dalam Cappucino, cerpen Seno Gumira Ajidarma)


5. Mulailah dengan Seting Tempat

Dalam satu badai rasa jemu, ia terdampar di taman dan duduk di kursi sambil memakan jagung rebus begitu perlahan, sebutir demi sebutir, seolah di butir terakhir ia akan bertemu kematian.... (Cinta Tak Ada Mati, cerpen Eka Kurniawan)

Dari jauh sudah terlihat pohon itu berdiri tegak di tengah padang. Setelah berhari-hari menempuh daerah yang kering kerontang dan terpanggang matahari, pemandangan yang rimbun seperti itulah yang sekarang kubutuhkan.... (Sebatang Pohon di Tengah Padang, cerpen Seno Gumira Ajidarma)

Selesai! Sebenarnya masih banyak lagi tips untuk memulai sebuah cerita. Tapi, di sini saya hanya menampilkan lima cara saja dulu. Cara yang lumayan sering digunakan dan insya Allah mudah dipelajari. Silakan teman-teman coba semuanya, satu persatu. Dengan kita menguasai beberapa cara mengawali tulisan (cerita), semoga kita semua terhindar dari pembukaan cerita yang klise dan sudah ketinggalan zaman seperti, “Pada suatu hari....”, atau “Matahari pagi bersinar indah sekali....


Oke, terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini sampai selesai. Semoga bermanfaat. Jika kalian ada masukan, tulis komentar di bawah, ya. Senang jika kita bisa berbagi.

Salam,


Ilustrasi: Karya Ester Garcia Cortes)


Revisi atau Mati

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Minggu, 15 November 2009 0 komentar

Dalam dunia kepenulisan, revisi adalah hal yang tidak bisa kita abaikan. Untuk bisa menciptakan tulisan yang bagus, tentu kita jangan pernah sungkan untuk melakukan revisi. Penulis yang baik adalah penulis yang tidak takut untuk merevisi tulisannya yang bahkan sudah selesai.

Namun, seperti apa sih kegiatan merevisi itu? Apa bedanya dengan mengedit? Dalam dictionary.com disebutkan bahwa revisi adalah: to alter something already written or printed, in order to make corrections, improve, or update: to revise a manuscript. Merevisi artinya mengubah sesuatu yang sudah ditulis atau dicetak, dalam rangka untuk melakukan koreksi, memperbaiki, atau memperbarui. Editing adalah bagian dari revisi, tapi editing tidak sampai mengubah substansi dari sebuah tulisan, sedangkan merevisi itu kadang harus menulis ulang sebuah tulisan yang sudah selesai! Oh, tidak! Hehehe....

Seperti ketika sedang menulis puisi, misalnya, tentu kita sering menganggap bahwa puisi adalah sesuatu yang sakral, yang tidak boleh kita ubah sama sekali. Kalau puisi itu kita revisi, kita merasa berdosa sekali, dan puisi tersebut kita anggap sudah tidak suci lagi. Padahal, untuk membuat puisi yang bagus pun kita harus tetap melakukan revisi. Puisi bukan kitab suci, jadi jangan takut untuk merevisi demi mendapatkan hasil yang bagus dan berkualitas.

Sebagai contoh, saya pernah menulis puisi seperti ini:
Adakah yang lebih tidak tahu diri dari duri yang
tertancap di telapak kaki ketika kita sedang berlari? Adakah yang lebih duri dari kalimat caci yang meluncur dari bibir seorang kekasih ketika kita sedang bersedih?
Dan, adakah yang lebih caci dari hidup yang tak pernah menjanjikan apa-apa selain mati?
Kata tertancap di puisi tersebut dikritik oleh teman saya yang kebetulan adalah seorang penyair. Teman saya itu memberi saran agar kata tertancap diganti dengan kata menancap, demi mendapatkan efek psikologis pembaca. Setelah itu, saya pun merevisi puisi tersebut menjadi seperti ini: Adakah yang lebih tidak tahu diri dari duri yang menancap di telapak kaki ketika kita sedang berlari? Begitulah. Jika kita ingin membuat tulisan yang bagus, revisi adalah hal yang tidak boleh kita tinggalkan.

Minta Pendapat Teman
Sebagai penulis pemula, terkadang kita tidak bisa melihat kelemahan yang terdapat di dalam tulisan kita. Kita merasa tulisan kita baik-baik saja. Jadi, ketika ingin merevisi, kita sering bertanya-tanya dalam hati: “Apanya yang harus direvisi?” Untuk menghindari pertanyaan seperti ini, ada baiknya kita berbagi dengan teman dekat kita yang sesama penulis. Kita serahkan tulisan kita kepada mereka dan mintailah pendapatnya. “Gue baru buat cerpen, nih, tolong dikomentarin, dong!” Biasanya, dengan cara seperti itu, kita akan mengetahui kelemahan-kelemahan tulisan kita. Entah itu penokohannya yang flat (datar), terlalu banyak pengulangan kata, deskripsi setingnya yang tidak tergarap dengan baik, dialog yang terlalu kaku, banyak adegan-adegan yang tidak perlu, anakronisme, dan lain sebagainya. Setelah mendapat masukan seperti itu, tentu kita akan mendapatkan sedikit kemudahan ketika ingin melakukan revisi.

Saya juga sering melakukan hal seperti itu. Setelah selesai membuat tulisan, biasanya saya akan minta komentar dan masukan dari teman saya. Siapa tahu saja ada beberapa hal yang terlewat dari pengamatan saya. Setelah mendapatkan masukan, saya akan merevisi tulisan saya tersebut.

Jangan Pernah Malas
Jika kita malas merevisi, tentu karya-karya kita tidak akan bisa tergarap dengan maksimal, padahal karya kita itu memliki potensi yang besar untuk menjadi sebuah karya yang bagus. Dengan malas merevisi, itu artinya kita tidak peduli dengan nasib tulisan kita. Biarin ajalah, yang penting sudah jadi! Jika demikian, adalah wajar jika tulisan-tulisan kita nanti akan menjadi tulisan yang tidak menarik. Jangan jadi penulis yang egois. Jika ada masukan yang bermanfaat, ambillah. Jika menemukan kejanggalan dalam tulisan kita, ubahlah. Dengan kita melakukan revisi, tulisan kita akan menjadi tulisan yang bagus dan berkualitas. Wallahu alam.

Akhirul kalam, teruslah menulis dan jangan lupa merevisi! Jika ada masukan, bisa kalian share di kotak komentar di bawah ini. Terimakasih.

Wassalam,


*Ilustrasi: Karya Ella Dalus


Writer’s Block Dilarang Masuk!

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Senin, 09 November 2009 10 komentar

Kita pasti pernah mengalami kebuntuan dalam menulis, atau bahasa kerennya writer’s block. Namun, apa sih writer’s block itu? Ada yang bilang bahwa writer’s block adalah kutukan. Bahkan ada pendapat lain yang mengatakan bahwa writer’s block itu cuma mitos. Tapi, hampir semua orang pasti pernah mengalami hal seperti ini: duduk di depan layar komputer, jari-jari sudah gatal untuk segera menekan tuts di keyboard, dan segala macam gagasan berkelindan di dalam tempurung kepala. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Tak ada satu kata pun yang lahir. Ide tak juga kunjung mewujud. Dan, tentu saja, layar itu tetap saja kosong.

Writer’s block bisa dibilang misterius. Ia datang secara tiba-tiba tanpa pernah kita duga. Kadang ia datang dari awal ketika kita ingin menulis, sehingga membuat kertas atau layar komputer kita tetap saja kosong dari awal sampai akhir. Kadang ia datang di saat tulisan kita sudah lumayan banyak, sehingga kita sudah seperti pengendara motor yang sedang kehabisan bensin, mogok ditengah jalan tanpa bisa melakukan apa-apa. Bahkan ia juga pernah datang di saat-saat terakhir ketika tulisan kita sedikit lagi akan selesai. Bisa dibayangkan betapa menjengkelkannya jika hal tersebut terjadi oleh kita.

Mengapa Writer’s Block Bisa Terjadi?
Hernowo, penulis buku Mengikat Makna Update, pernah mengatakan bahwa faktor penyebab terjadinya writer’s block itu ada banyak. Di antaranya adalah: pertama, miskin bahasa atau kata-kata. (Punya banyak ide, tapi tak bisa dikeluarkan karena kata-kata yang tersimpan di dalam diri tak bisa menampung ide-ide hebat tersebut). Kedua, tak memiliki topik yang mengesankan (bermakna) untuk ditulis. Kita sudah kepengin atau kebelet menulis, komputer sudah dinyalakan, tapi yang mau kita tulis tidak menggairahkan diri kita, ya, akhirnya nggak ada yang bisa dikeluarkan dari diri kita. Ketiga, tidak berani dan enggan mencicil menulis. Sebenarnya kalau kita mau pelan-pelan mengeluarkan bahan-mentah tulisan, nggak ada yang namanya writer’s block itu. (baca Tentang Writer's Block, yang dimuat di Mizan.com).

Bagaimana Mengatasi Writer’s Block?
Bagi Eka Kurniawan, penulis novel Cantik itu Luka dan Lelaki Harimau, fenomena writer’s block serupa seorang pejalan yang terjebak di tengah belukar. Belukar itu bisa merupakan rumpun yang belum terjamah, bisa pula merupakan belantara jalan raya yang tanpa petunjuk. Untuk mengatasinya cukup sederhana, yaitu kita harus kembali lagi dari awal dan pertanyakan kembali apa tujuan kita menulis. Kata Eka Kurniawan, “Saya harus tahu mengapa saya masuk ke belukar tersebut: mengapa saya menulis sesuatu. Saya juga harus tahu apa yang harus saya bawa untuk membabat belukar, saya harus tahu segala yang diperlukan untuk menuliskannya. Dan saya tak akan terjebak selamanya di dalam belukar, jika saya tahu kemana arah yang hendak saya tuju: kemana saya ingin membawa tulisan saya.” (baca Writer’s Block, Bagian 1: Jalan Belukar yang dimuat di ekakurniawan.com).

Secara ringkas, mungkin tips-tips untuk menghindari writer’s block bisa saya paparkan sebagai berikut:

Tentukan Ide
Ini sangat penting. Ibarat ingin pergi ke suatu tempat, kita mesti tahu dulu tujuan kita. Kalau tidak, bisa-bisa kita bingung dan diam di tempat, atau paling buruknya kita akan tersesat. Itu sebabnya, sebelum menulis, kita mesti tahu dulu apa sih sebenarnya yang ingin kita tulis.

Write About what You Know
Ya, untuk seorang penulis pemula, sepertinya rumus “tulislah apa yang kamu tahu” itu memang bisa dijadikan sebagai panduan. Kadang kita memang selalu ingin menulis segalanya. Tentang mimpi, tentang nuklir, tentang seorang anak yang mengidap penyakit dislexia, tentang revolusi Perancis, tentang anarkis di Spanyol, tentang konspirasi sekte Mason Bebas, tentang si Google Guys Larry Page dan Sergey Brin, tentang penduduk asli Badui dalam, tentang sejarah Batavia, tentang Batik, tentang silsilah Nyi Roro Kidul, dan lain sebagainya. Semuanya ingin kita tulis, seolah-olah hidup kita sebentar lagi akan selesai. Padahal pengetahuan kita akan itu semua tidaklah terlalu banyak, bahkan bisa dibilang amat sedikit. Itu sebabnya, ketika kita ingin menulis sesuatu yang tidak kita tahu, writer’s block pasti akan datang menyapa kita. Waspadalah! Waspadalah!

Cari Data
Jika kita tetap ngotot untuk menulis cerpen atau novel tentang—misalnya—konspirasi sekte Mason Bebas, padahal pemahaman kita akan hal itu sangatlah sedikit, apa boleh buat, kita harus cari data yang banyak. Kita bisa searching di google.com dan cari sebanyak-banyaknya situs yang membahas tentang tema yang ingin kita tulis. Kita ketikkan saja kata kunci seperti Freemason, Zionis, Teodor Herzl, Kabala, Talmud, dan lain semacamnya. Atau mungkin bisa juga kita baca buku-buku yang membahas tentang permasalahan tersebut. Catat segala hal yang menurut kita penting. Insya Allah, dengan banyaknya data yang kita punya, writer’s block akan mudah diatasi.

Paragraf Pertama Begitu Menggoda
Buatlah paragraf pertama yang bagus—setidaknya bagus menurut kita. Sebab, paragraf pertama yang bagus bisa menyemangati kita untuk membuat paragraf-paragraf yang berikutnya. Gairah kita akan menjadi semakin terpacu. Sebaliknya, jika paragraf pertamanya sudah jelek, kita tentu jadi malas untuk membuat paragraf yang berikutnya. Itu sebabnya, menurut saya, paragraf pertama adalah unsur yang sangat penting dalam memulai sebuah tulisan. Seperti yang sudah kita tahu bersama, bahwa Gabriel Garcia Marquez butuh waktu yang sangat lama hanya untuk membuat paragraf pertama, dan setelah paragraf pertama sudah selesai, maka ia akan menulis terus tanpa bisa dihentikan.

Untuk membuat paragraf pertama yang bagus, tentu saja kita harus banyak berlatih. Kita bisa membaca tulisan-tulisan para penulis yang—katakanlah—sudah senior. Kalau perlu, tiru saja sampai sama persis. Setelah itu kita modifikasi dengan gaya kita. Tambal-sulam dengan kalimat-kalimat yang kita punya. Jangan khawatir, tindakan copy the master bukanlah tindakan kriminal. Bahkan penulis yang sudah terkenal pun pernah melakukan hal yang demikian. Saat ini kita sedang tidak berbicara tentang plagiat dan orisinalitas. Saat ini kita sedang belajar menulis. Itu saja.

Macet di Tengah Jalan?
Kalau ditengah jalan tiba-tiba tulisan kita macet, sabar dan tidak usah panik. Barangkali memang sudah saatnya kita untuk berhenti sejenak. Seduh kopi dulu jika kita memang pecandu kopi. Kalau perlu rebus indomie dulu, sebab siapa tahu saja kita sedang lapar. Tapi sejenak saja, jangan lama-lama. Takutnya nanti kita malah tercerabut dari tulisan kita. Sebab writer’s block sering juga terjadi karena hal ini. Ketika kita rehat terlalu lama, dan ketika kita mencoba untuk menulis kembali, tiba-tiba saja kita jadi bingung untuk melanjutkan tulisan kita itu. Feel kita jadi berbeda. Segala yang kita rasa jadi tak sama. Kita seolah-olah harus memulai lagi dari awal. Hufff..... Kalau terjadi seperti ini, kita bisa membaca tulisan kita itu dari awal, resapi setiap kalimat yang sudah kita tulis, rasakan segala rima yang sudah kita ciptakan, sampai akhirnya feel kita kembali seperti semula dan semangat kita kembali menyala.

Menemukan Jalan Buntu? Turn Off Your Computer!
Jika tulisan kita benar-benar macet dan seolah-olah kita seperti terjebak di jalan buntu dan kita tidak bisa bergerak kemana-mana, padahal segala daya dan upaya sudah kita kerahkan, mungkin memang sudah saatnya untuk segera mematikan layar komputer kita atau menutup buku tulis kita. Buka pintu kamar, dan bermainlah keluar rumah. Tak usah terlalu dipaksakan, yang penting kita sudah berusaha. Sebab, segala sesuatu yang terlalu dipaksakan itu tidak baik. Apa pun itu. Pergilah keluar rumah dan saksikanlah segala peristiwa yang terjadi di sekitar kita: sekumpulan bocah bermain kejar-kejaran, seekor kucing mengeong di pinggir jalan, tukang sayur sedang berjualan, dan lain sebagainya. Semoga saja dengan menyaksikan segala hal yang terjadi di sekeliling kita, energi menulis kita menjadi terpompa kembali. Dan jalan buntu yang semula menghadang kita, akan dengan mudah kita hancurkan.

Sepertinya sekian dulu tulisan ini saya buat. Semoga bermanfaat. Jika kalian memiliki tips-tips yang terlewat oleh saya, alangkah baiknya jika kita saling berbagi. Selamat menulis!

Salam,


*Ilustrasi Karya: Ella Dalus


Related Posts with Thumbnails
Diberdayakan oleh Blogger.