Tampilkan postingan dengan label Non-Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Non-Fiksi. Tampilkan semua postingan

Apakah Esai Itu?

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Senin, 03 Mei 2010 11 komentar


Penulis : Lucile Vaughan Payne


Esai bukanlah sekadar rekaman fakta-fakta atau hasil imajinasi murni. Tulisan yang Anda buat dalam pelajaran sejarah yang dipenuhi dengan fakta-fakta yang dikumpulkan dari berbagai referensi mungkin nampak seperti sebuah esai. Namun, seberapa pun cermatnya Anda dalam menulis ulang semua fakta tersebut, meskipun dengan bahasa Anda sendiri, tulisan itu bukanlah esai. Esai juga bukan kejadian atau pengalaman yang Anda tuliskan dalam pelajaran bahasa, tak peduli betapa nyata, cerdas, menyentuh, berurutan, jelas, rinci, dan lengkapnya tulisan Anda itu.

Mungkin Anda telah membuat ratusan tulisan dalam bentuk seperti di atas dan mengumpulkan semua berdasarkan 'temanya'. Anda mungkin akan menyebutnya sebagai sebuah esai, tapi itu juga bukan esai. Jadi, apakah esai itu? Esai adalah ekspresi tertulis dari opini penulisnya.

Sebuah esai akan makin baik jika penulisnya dapat menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan, tanpa mengedepankan salah satunya. Tujuannya selalu sama, yaitu mengekspresikan opini. Esai memang bisa berbeda menurut kualitas, jenis, panjang, gaya, dan subjek. Esai juga bisa berbentuk sederhana sampai yang sangat kompleks, namun semuanya akan menunjukkan sebuah opini pribadi sebagai analisa akhir. Inilah perbedaan mendasar antara esai dengan tulisan ekspositoris atau sebuah laporan. Sebuah esai tidak hanya sekadar menunjukkan fakta atau menceritakan sebuah pengalaman; ia menyelipkan opini penulis di antara fakta-fakta dan pengalaman tersebut.

Tentu, Anda harus memiliki sebuah opini sebelum menulis esai. Hanya saja, Anda juga harus memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan opini itu, bagaimana menyampaikannya, dan bagaimana mengungkapkan nilai yang dibawanya. Sebelum mendapatkan opini, Anda harus lebih dulu menentukan subjek yang hendak ditanggapi karena opini harus berhubungan dengan subjek tertentu.

SUBJEK ESAI

Apa yang harus ditulis? Pertanyaan ini memiliki jawaban yang tidak terbatas. Anda dapat menuliskan segala jenis topik; dari persahabatan, politik, sepatu, menjual lilin, sampai esai tentang esai itu sendiri. Satu-satunya persyaratan yang harus dipenuhi adalah bahwa penulis harus cukup memahami topik tersebut sehingga ia dapat membentuk sebuah opini. Lalu, apa batasan dari 'cukup memahami' itu? Jawabannya juga tidak sulit. Sebagai manusia, seperti yang lain, kita pasti 'cukup memahami' dan akrab dengan banyak hal di sekitar kita; persahabatan, hubungan keluarga, pertumbuhan, makan, tidur, dan banyak lainnya. Tentunya semua itu dapat dipakai sebagai bahan menulis esai.

Bagaimanapun juga, 'pemahaman yang cukup' untuk menuliskan tema-tema spesifik memerlukan pengetahuan atau pemahaman akan disiplin ilmu tertentu. Kita mungkin bisa menulis sebuah esai mengenai topik seperti persahabatan tanpa perlu memberikan banyak fakta. Namun, untuk topik-topik seperti Puritanisme atau sejenisnya, tentunya kita memerlukan informasi yang dapat diuji secara 'ilmiah'. Referensi sendiri bisa didapatkan dari banyak sumber, mulai dari buku sampai media internet. Menulis tentang bidang yang sesuai dengan minat kita juga akan sangat mempermudah dan mempercepat proses penulisan itu sendiri. Karenanya, seorang yang mempunyai hobi dalam satu bidang tertentu juga dapat disebut sebagai seorang yang memiliki 'pemahaman yang cukup'. Bahkan, sekalipun kita tidak menaruh minat yang begitu besar dalam satu bidang pembahasan, kita tetap dapat menulis sebuah esai yang baik asalkan dapat mengumpulkan banyak fakta. Dengan membaca berbagai informasi yang bisa dipertanyakan, dibandingkan, atau yang dapat Anda nilai sendiri, pengetahuan tentang satu bidang baru juga akan Anda dapatkan dengan cepat.

Menulis sebuah esai yang didasari oleh pengetahuan khusus memang cenderung lebih mudah daripada menulis esai tentang hal-hal atau pengalaman yang sudah sering ditemui di sekitar kita. Berbeda dengan kebiasaan yang sering terjadi dalam sebuah opini, seorang penulis esai hendaknya tidak boleh hanya berpegang pada 'perasaan bahwa ia benar', namun lebih beranggapan bahwa 'pikiran saya benar'. Jadi, opini yang terdapat dalam sebuah esai juga harus didasarkan pada apa yang Anda pikirkan dan bukan hanya pada apa yang Anda rasakan. Yang jelas, setiap esai harus memiliki opini, dan opini yang terbaik adalah didasari oleh pikiran dan perasaan.

APAKAH OPINI ITU? BAGAIMANA ANDA MEMUNCULKANNYA?

Banyak orang yang mendefinisikan opini dengan sangat bebas. Segala prasangka, sentimen, tuduhan, dan segala jenis omongan yang tanpa dasar seringkali disebut sebagai sebuah opini. Namun, opini yang ingin disampaikan dalam sebuah esai harus memenuhi definisi sebagai berikut.

Opini: sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan yang mutlak atau pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; apa yang dipikirkan seseorang; penilaian.

Ujilah opini Anda dengan definisi di atas untuk menilai apakah Anda telah memiliki topik esai yang baik. Apakah opini tersebut didasari atas keyakinan mutlak? Atau pengetahuan yang sahih? Apakah Anda dapat membuktikan kebenarannya di atas semua keraguan yang beralasan? Jika ya, berarti itu bukan opini, tetapi fakta -- atau sebuah hasil observasi yang telah diterima secara luas sehingga menjadi sebuah fakta. Fakta harus terlebih dulu diubah menjadi sebuah opini sebelum dimunculkan dalam sebuah esai. Misalnya, fakta menunjukkan bahwa jumlah penduduk negara kita tahun ini adalah sekian ratus juta. Untuk mengubah fakta tersebut menjadi sebuah opini tugas Anda sekarang adalah menilainya. Anda bisa menilai bahwa budaya negara kita berubah karena pertambahan penduduk yang demikian cepat; atau perlunya perubahan kebijakan ekonomi yang dapat menjamin setiap warga bisa mencukupi kebutuhannya, dll. Dengan membuat sebuah penilaian/tanggapan, maka Anda telah mengubah fakta menjadi sebuah opini. Dengan demikian, Anda telah memiliki topik esai yang baik.

Namun, tidak semua opini dapat menjadi topik sebuah esai. Jika ada pernyataan 'menjalin persahabatan penting bagi hubungan antarmanusia', pernyataan ini bisa disebut opini karena tidak dapat dibuktikan secara ilmiah atau statistik. Walau demikian, pernyataan itu merupakan opini yang lemah untuk dikemukakan dalam sebuah esai karena tidak merangsang timbulnya argumen lain. Dari segi praktis, itu adalah fakta. Untuk membuatnya menarik, Anda bisa mengubahnya menjadi opini yang lebih tajam seperti 'persahabatan adalah hal terpenting bagi manusia', misalnya. Tapi cara yang lebih efektif dalam menarik minat pembaca adalah dengan mengawalinya dengan berbagai pertanyaan menantang seperti, 'apakah persahabatan antarpria lebih awet daripada wanita?' 'bisakah persahabatan yang murni terjalin antara pria dan wanita, ataukah antara orang tua dan anak?' dst.

Jika kita melihat pertanyaan-pertanyaan tersebut, pembaca mungkin bisa menjawab ya atau tidak saja. Tapi bagaimana jika Anda mengubah kata tanya tersebut dengan kata tanya yang lebih memerlukan penjelasan seperti 'mengapa', 'apakah', atau 'bagaimana'?

-Bagaimana orang tua dapat bersahabat dengan anak?
-Mengapa persahabatan antarpria lebih awet daripada antarwanita? (atau sebaliknya)
-Apakah persahabatan itu?


Makin banyak pertanyaan yang Anda ajukan pada diri Anda akan semakin baik. Setelah itu, Anda akan dapat mengenali pertanyaan yang penting dan yang tidak, yang terlalu luas dan yang terlalu sempit, dsb. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tak jarang Anda juga akan menemukan opini-opini yang belum pernah Anda sampaikan sebelumnya (artinya: Anda tidak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya Anda pikirkan). Teruslah melontarkan pertanyaan. Ketika Anda menemukan satu opini pribadi yang sangat menarik berarti Anda telah memasuki wilayah seorang penulis esai.

APA YANG MEMBUAT SEBUAH OPINI MENARIK?


Jika diminta untuk memilih sebuah opini yang paling menarik, mungkin kita akan memilih berdasarkan minat kita karena kita akan selalu dapat menulis dengan baik topik yang kita kuasai/sukai atau yang dengan gampang kita tuliskan. Namun, topik yang menarik sesungguhnya adalah yang 'bertentangan'! Jika jumlah orang yang tidak setuju dengan tulisan Anda cukup signifikan, maka bisa dipastikan pandangan Anda akan menarik perhatian. Pembaca tidak akan tertarik dengan sesuatu yang artinya memang sudah jelas dan tepat. Anda tentu boleh menuliskan hal seperti itu, namun siapa yang akan mengindahkannya?

Sebuah esai akan gagal jika tidak mempunyai argumen. Setiap analisa akhir dari esai adalah argumen. Analisa akhir itulah yang menjadi opini penulis esai tentang satu topik yang berlawanan dengan opini orang lain. Kalimat 'A lebih baik (atau jelek) dari B' adalah kalimat yang jelas akan menimbulkan argumentasi. Namun, Anda juga tak perlu harus menyatakan sejelas itu. Saat menyatakan bahwa 'balap mobil mempromosikan keamanan berkendara', berarti Anda telah berargumentasi dengan pendapat banyak orang yang menganggap balap mobil hanya akan mengakibatkan kecelakaan.

MENGUJI PERTENTANGAN


Ketika sedang membuat sebuah opini esai, usahakan agar Anda juga dapat menjawab setiap pertanyaan yang mungkin muncul dari opini yang bertentangan. Yang dimaksud dengan opini yang bertentangan tentu tidak selalu berarti berkebalikan. Jika Anda mengatakan "Animal Farm" adalah novel terbaik sepanjang masa, tentu tak akan ada orang yang cukup sembrono menyatakan "Animal Farm" sebagai novel terjelek sepanjang masa. Mungkin yang ada ialah kritik atas pernyataan Anda tersebut, yang mungkin akan mengatakan novel itu terlalu pendek, penokohannya kurang tajam, dsb. Jadi, opini yang menentang tidak selalu kebalikan dari opini Anda. Yang jelas akan ada perbedaannya.

Dengan mempertimbangkan secara seksama kemungkinan pertanyaan ini, mungkin pikiran dan opini Anda akan berubah. Bagus! Anda masih memiliki opini, walau mungkin telah berubah. Opini baru itu tentu akan lebih kuat dari sebelumnya. Atau meski opini awal Anda tetap yang paling kuat, dengan menguji berbagai kemungkinan pertentangan ini, Anda akan mendapat lebih banyak ide untuk mempertahankan pendapat Anda.

Meski demikian, opini hanyalah sebuah pendapat pribadi tentang kebenaran. Anda tidak bisa mengharapkan opini esai Anda menjadi bukti ilmiah. Tujuan Anda adalah untuk meyakinkan, bukan membuktikan. Kekuatan esai Anda diukur dari keberhasilannya meyakinkan pembaca. Setiap opini esai Anda pada akhirnya dapat diuji kekuatannya dengan dua pertanyaan berikut.

1. Bisakah sebuah argumen yang valid dibuat untuk menentangnya?
2. Bisakah saya mempertahankan pendapat melawan argumen tersebut?

Jika keduanya Anda jawab "ya" berarti Anda sudah boleh lega dan yakin bahwa Anda telah berhasil membuat esai yang menarik.

PERCAYA PADA APA YANG ANDA KATAKAN

Topik sebuah esai memang harus berupa argumen. Namun, argumen tersebut harus jujur dan cerdas. Anda memang boleh mengemukakan opini yang berlawanan dengan pendapat banyak orang. Namun, menyatakan sebuah opini berani hanya untuk menarik perhatian adalah tindakan yang konyol. Lebih buruk lagi, tindakan itu menunjukkan suatu ketidakjujuran. Anda mungkin bisa berhenti melakukan tindakan konyol, namun ketidakjujuran tidak bisa diobati. Kejujuran adalah hal terpenting karena ketidakjujuran dalam esai akan segera tercium oleh pembaca. Jadi, selalulah percaya pada apa yang Anda katakan, walau sekali lagi ini bukan berarti Anda harus reaktif menolak semua pendapat yang menentangnya. (t/ary)

Bahan diterjemahkan dan diedit (dengan beberapa penyesuaian konteks perkembangan zaman) dari:

Buku : The Lively Art of Writing
Penulis : Lucile Vaughan Payne
Judul Artikel : What is An Essay?
Penerbit : Follett Publishing Company, 1965
Halaman : 13-22


Menulis adalah Ekskresi

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Minggu, 08 November 2009 3 komentar

Menulis itu apa?


Menulis adalah ekskresi: mengeluarkan banyak khayalan yang ada di dalam diri, di dalam angan supaya kondisi kita kembali normal adanya. Mari kita sederhanakan. Ekskresi muncul karena input. Kita makan maka keluarlah itu ampas melalui keringat atau melalui sesuatu yang saya tidak tega menyebutkannya. Ketika kita ditempa sekian banyak informasi yang datang, input itu mau kita apakan?. Dibiarkan menjejal di kepala? Kalau sesudah makan kita nggak ekskresi, badan bakal jadi septictank yang berjalan. Kita pasti kesakitan[1].

Kalau kita sudah melahap informasi—atau dipaksa memakannya—kejadiannya bakal sama. Pening kepala ini kalau tidak segera mengeluarkannya. Itulah mengapa saya bilang menulis itu ekskresi, sebab menulis bukan saja terkait dengan kesehatan tubuh, melainkan kesehatan mental juga.

Menulis bisa dianalogikan dengan apa saja. Kalau bermusik adalah seni melukis dengan nada, melukis adalah seni ekspresi menggunakan kanvas, maka menulis itu apa? Menulis itu merupakan seni melukis dengan kata. Melaluinya kita dapat mengekspresikan kegundah-gulanaan mengenai fenomena; mendeskripsikan khayalan-khayalan absurd didalamnya, dan merekonstruksi dunia yang ada di dalam benak manusia.

Dalam kaitannya dengan hal yang terakhir, seorang filsuf China pernah mengatakan bahwa, dengan menulis kita dapat menurunkan bulan yang ada di atas angkasa menuju dunia manusia.

Meski terlalu berlebihan, saya meng-akur-kan pernyatan filsuf itu. Mudah-mudahan kamu mengerti tentang ini :).

Nah, setelah membicarakan perumpamaan menulis yang kurang serius. Sekarang saya akan memaparkan usaha menulis menurut pandangan saya pribadi.

Bagi saya, menulis adalah usaha untuk masuk ke dalam. Menulis adalah memasuki jiwa untuk memecahkan misteri diri kita selaku manusia. Menulis adalah kegiatan meneropong neumena[2] yang ada dibalik fenomena. Ada sebuah cerita pendek mahsyur, yang bakal menjelaskan bagaimana kegiatan menulis dapat menjadi kegiatan meneropong neumena. Ceritanya begini:

Suatu saat seorang pemuda kebingungan mencari kunci di beranda rumahnya. Setelah sejam dua jam mencari dan tidak menemukan kunci, seseorang bertanya padanya,

“Dimana kau jatuhkan kunci itu?”

Sambil garuk-garuk giginya (?) si pemuda berkata, “Saya jatuhkan di dalam rumah.”

“Aneh-aneh saja kau ini! Kalau terjatuh di dalam rumah kenapa mencarinya di beranda?”

Dengan mimik lugu, pemuda itu bilang, “Abisnya di dalam gelap, sedangkan diluar terang!”

Bagi saya cerita itu begitu membekas di dalam diri saya. Saya menganggap bahwa dia—yang menulis cerita—adalah manusia yang senantiasa meneropong pendalaman dirinya. Ia menemukan bahwa manusia selalu mencari jawaban di luar jiwa. Manusia takut untuk mengeksplorasi padahal diri manusia kaya akan jawaban kehidupan. Manusia takut untuk ‘mengekskavasi’ padahal di dalam diri manusia terdapat penyembuh bagi kesakitan jiwa; padahal di dalam jiwa terdapat antibodi yang bakal menyembuhkan kegelisahan—yang jika dibiarkan dapat menyebabkan manusia jadi penghuni tetap rumah sakit jiwa.

Menulis berarti menguak berbagai macam penyadaran. Menulis berarti membedah dan menemukan diri menggunakan teropong neumena. Seandainya neumena ditemukan, maka penemuan itu akan memperkuat penghambaan diri seseorang pada-Allah-nya.

Dengan menulis, saya senantiasa berusaha untuk menghadirkan diri sebaik-baiknya dihadapan Dia, dihadapan Allah selaku pemilik saya.

Menulis itu apa?

Bagi saya, menulis adalah kegiatan melawan. Saat menulis, dalam diri saya tumbuh kesadaran bahwa das sein tidak sesuai dengan das sollen, bahwa realita tidak sesuai dengan bayangan di dalam benak. Dengan menulis saya menyadari bahwa realitas sosial, tidak sesuai dengan kemanusiaan[3]. Saya menyadari bahwa banyak anak manusia mati karena negara tidak memberikan jaminan kehidupan untuknya. Saya menyadari bahwa banyak ketimpangan terjadi; menyadari bahwa banyak dari kalangan kita yang dizalimi, maka di sanalah menulis menjadi sebuah alat untuk mengembangbiakan ‘subversivisme’. Maka untuk itulah saya berharap kalian mau menulis dan menjadikan realitas sosial sebagai pemantik untuk mengabarkan kebobrokan dan penindasan sistemik yang nyata dan merajalela.

Ayo, jadikanlah tulisan sebagai lambang keterjijikan diri pada sistem bobrok yang menghegemoni ini. Ayo muntahkan! Ayo, jadikanlah realitas sosial sebagai detonator jiwa. Ayo ledakan! Sebab, menulis adalah berkata-kata, sebab berkata-kata adalah: SENJATA![4].

Menjadi Penulis Hebat
Nah, sekarang kita bicara bagaimana caranya jadi penulis hebat. Gimana caranya? Saya juga tidak tahu, karena saya jarang merasa hebat. Lagipula hebat itu kan relatif. Kehebatan menurut kamu mungkin berbeda dengan kehebatan saya.

Kamu mungkin menganggap bahwa penulis terhebat di Indonesia itu adalah Dee Supernova, Djenar Maesa Ayu, atau Helvy Tiana Rosa. Namun, bagi saya, penulis terhebat adalah Pramudya Ananta Toer[5]. Itulah, mengapa saat ini saya jadi kesulitan membuat tips untuk menjadi penulis hebat (karena saya merasa seperti Liliput di hadapan ke-Gulliveran-nya Mas Pram). Tapi baiklah, karena saya harus profesional, maka saya bisa berpura-pura, melakonkan diri jadi penulis hebat, dan kamu pun jangan lupa untuk membayangkannya.

“Bagaimana caranya menjadi penulis hebat?”

“Hm... saya bisa menyelesaikan bahasan ini hanya dengan satu kata, yakni, menulislah!”

“Ah, kamu mah nge-bete-in aja.”

“Lha, mau gimana lagi? Ya satu-satunya cara cuma begitu. Nulis itu kan sama aja dengan naik sepeda, berenang, atau main bilyar. Kalau mau bisa jadi penulis hebat, ya harus praktek! Jalani proses penulisan. Jangan menyerah.”

“Kalo jawabannya cuma gitu doang, saya jadi nyesel memuat tulisan kamu di situs keren ini! Perasaan dalam pelatihan-pelatihan penulisan, sarannya nggak gitu doang, deh. Kamu menyesatkan saya, ah!”

“Ye, dibilang nggak percaya. Nih, saya kasih tahu. Begini, meski kamu ikut pelatihan dua ribu kali sama Ustad Roy, kamu tetep nggak akan jadi penulis hebat, kalau kamu nggak menulis. Fungsi pelatihan penulisan itu sebenarnya bukan apa-apa selain memotivasi, supaya kamu mau nulis, dan mau menjalani proses untuk menjadi penulis hebat."

“Perasaan nggak gitu-gitu amat. Seingat saya, kalau mau jadi penulis hebat, harus baca buku.”

“Nah, itu tahu, tapi apa baca buku itu menulis?. Baca buku ya baca buku! Bukan menulis!"

“Tapi, bukannya dari membaca, kita bisa dapat inspirasi, dapat pemantik seperti yang kamu bilang di atas tadi?”

“O, nanya tentang inspirasi, toh? Okey saya kasih tahu. Siap mendengarkan?”

“Siap!”
***
Banyak orang yang ingin menulis tetapi tak mendapat inpirasi. Dia menunggu-nunggu inspirasi seolah-olah inspirasi adalah bayi yang bakal jatuh dari paruh bangau. Tidak-tidak! Jangan seperti itu, jangan menunggu, seolah-olah inspirasi akan datang langsung begitu saja. Undanglah inspirasi datang. Pancinglah dia!

Bagaimana cara memancingnya?. Ada banyak cara, misalnya dengan jalan-jalan, nonton film, atau membaca buku. Kita akan bahas satu persatu.

Jalan-Jalan
Kamu bisa melakukannya ke mana saja. Misalkan melalui jalan yang jarang kamu lalui. Lihat keadaan, lihat pagar, lihat tukang surabi, lihat selokan yang kamu lewati. Nah, itu yang keuangannya pas-pasan kayak saya. Kalau kamu punya uang banyak, kamu bisa pergi naik mobil ke daerah-daerah yang belum pernah kamu singgahi; tinggal di pedesaan dan berinteraksi dengan orang-orang baru yang bakal membuat kamu fresh. Atau kamu bisa pergi ke pantai, atau naek gunung, dan lain sebagainya.

Nonton Film.
Film ini benar-benar membantu, untuk mendatangkan sesuatu yang kita obrolkan. Mengenai film, saya pernah punya pengalaman pribadi. Suatu waktu saya pernah iseng menonton film India. Film itu mengisahkan tentang cinta (standar), dan di film itu, ada dialog yang mengharuskan saya untuk menulis, karena saya terinspirasi.

Suatu saat Sanjay membuat Prita menangis. Prita masuk ke kamar dan mengurung diri selama berhari-hari. Karena keperihan yang dalam, saat disuruh orang tuanya makan ia selalu menolaknya.

Orang tua Prita khawatir kesehatan anaknya, maka diutuslah nenek yang sangat menyayangi Prita. Setelah mengetahui apa yang menyebakan tubuh Prita menjadi kurus, neneknya memberikan pertanyaan yang menyadarkan, “Jika hati terluka, mengapa justru perut yang kau sakiti?.”

Jdak! Kalimat-kalimat itu mengiang-ngiang di kuping. Setelah selesai nonton, saya langsung menulis dan mengembangkan perkataan itu dalam bentuk essay.

Membaca buku
Kata seseorang, seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik pula. Seorang kawan mengatakan demikian. Membaca adalah salah satu cara terbaik dalam mengembangkan imajinasi dan mendatangkan inspirasi. Jika kamu menonton, kamu terlalu dimanjakan oleh visualisai sehingga benak kamu tidak terlalu memainkan imajinasi. Membaca itu berbeda, dengannya kita dapat membuat imajinasi yang tak terkira.

Pokoknya, cobalah baca novel, ensiklopedia, atau kumpulan puisi, essay, dan cerpen. Jika bacaan itu bagus, saya yakin kamu bakal tersentak dan tiba-tiba... inspirasi yang kamu tunggu-tunggu itu datang.

“Bang, kalau inspirasi sudah datang, apa yang harus saya lakukan?”

“Bang bang bang ... kamu yang BANGKONG![6]."

“Hehe... Gimana, dong?”

“Kamu ini kayak anak kecil yang maunya disuapin! Pokonya nulis! Nulis! Nulis! Dan nulis! Kalau udah dapet inspirasi nulis! Kalo belum dapet, undang itu inpirasi, terus nulis!”

“Kalau udah dapet inspirasi, harus segera ditulis ya, Bang?.”

“Ya jangan didiemin. Kalo dalam prinsip bisnis, uang itu harus diputerin supaya nggak abis, nah... inspirasi juga kayak gitu! Kalau inspirasi nggak langsung ditulis, nanti jadi basi. Kalau udah basi rasanya nggak enak, jadi hambar!”

“Hambar kayak nasi goreng yang kemaren abang masak itu, ya?” “Heu... kumaha sia we lah!. Tapi gimana nih, udah dapet poinnya belum?”

“Lumayan! Pokoknya kalau ada inspirasi langsung ditulis.”

“Nah, begitu dong! Sekarang dari obrolan ini, kamu dapet inspirasi nggak?”

“Dapet, Bang!”

“Kalau gitu langsung tulis. Omong-omong inspirasinya tentang apa?”

“Hehehe... jangan, ah. Nanti marah!”

“Ye, mau bikin penasaran, ya? Tentang nasi goreng, ya?”

“Bukan!”

“Tentang apa atuh?”

“Tentang upil! Upil yang nyempil di gigi abang!.

“Huarggggggggggh!”

Setelah Mendapatkan Inspirasi, Kemudian menulislah!<>Finding Forester mengajarkan bahwa di awal menulis kita harus melakukannya dengan hati. Setelahnya, baru gunakan pikiran.

Menulis dengan hati membuat penulisan kita lancar, tidak patah-patah, karena dalam menulisnya kita tidak menggunakan pikiran. Karenanya, wajarlah setelah tulisan selesai, kamu pasti akan menemukan tulisan yang tidak terstruktur. Hei! Jangan dulu kecewa, karena seperti halnya sesuatu yang tertumpah, kata-kata yang tertumpah bakal ada yang tidak klop dengan tema penulisan. Nggak apa-apa, jangan cemas, karena rata-rata penulis sekaliber apa pun pasti memiliki pengalaman seperti itu.

Setelah tertumpah baru tulislah dengan Pikiran. Edit tulisan kamu. Strukturkan! Kamu pilih-pilah kata, bolak-balikkan susunannya sampai pas seperti yang kamu inginkan, keinginan yang sekiranya sesuai dengan pemahaman pembaca yang bakal menilai kerja kamu. Setelah edit berulang kali. Selesailah itu tulisan. Lalu?

Sebarkan!

Mengenai sebar-menyebar tulisan ini juga bukan sesuatu yang mudah. Di awal penulisan kamu sudah harus mengetahui kalangan mana yang kamu bidik. Kamu sendiri udah tahu kan, kalau secara alamiah, ketika ada sesuatu yang disuka, pastilah ada sesuatu yang tidak disuka. Kalau kamu menulis sesuatu yang berat, misalnya ideologi dengan bahasa yang ilmiah maka ‘jangan kasih’ itu tulisan ke orang-orang yang kurang faham mengenai bahasan yang menjelimetkan. Kecuali, kamu mampu membahasakan dengan baik, sesuai dengan bahasa kalangan yang ingin kamu berikan.

Maksudnya bagaimana?

Begini, saya akan menuliskan pandangan mengenai ideologi. Menurut Marx, ideologi adalah kesadaran palsu, tetapi menurut Annabhani berbeda lagi. Ideologi merupakan sebuah pemahaman fundamental, pemahaman yang radic mengenai alam semesta manusia dan kehidupan. Yang dari landasan pemahaman itu, direkonstruksi way of life mengenai kehidupan.

Kalau saya bicara pada orang-orang kayak kamu, maka kita bisa nyambung, tanpa perlu menjelaskan lagi mengenai ‘kesadaran palsu’, makna ‘fundamental’, ‘radic’, ‘rekonstruksi’ dan ‘way of life’. Tentang hal itu, kita sudah bisa connect satu sama lainnya. Tapi coba utarakan hal itu pada ibu-ibu yang suka jualan gado-gado dekat kosan kita. Wah, pasti sangat sulit untuk dipahaminya.

Oleh karenanya, saat melakukannya, kamu harus menulis tulisan yang sesuai dengan segmentasinya. Sesuaikanlah! Pas-kan-lah, supaya kata-kata kamu, supaya pemikiran kamu bisa segera dimamah biak dan dicerna.

Saat informasi yang kamu sampaikan sudah pas dengan segmentasinya, kemudian massif dibaca ‘kalangannya’. Maka lama-kelamaan kalangan itu akan mengalami keinginan ekskresi seperti yang dulu pernah kamu rasakan. Mereka akan mengalami keinginan untuk memuntahkan, dan meledakkan.

Menyambung dengan bahasan kita sebelumnya, maka sejak saat tulisan itu dibaca, kamu sudah berperan sebagai pengembangbiak ‘subversivisme dalam berpikir. Maka sejak saat itulah kamu menjadi seorang yang ikut berpartisipasi untuk menutup zaman yang usang, kemudian menggantikannya dengan zaman yang baru. (Divansemesta)


Catatan Kaki:
1. Secara alamiah/hukum alamnya memang begitu. Air yang terus-menerus ada disebuah walungan (walungan= kolam). Lama-kelamaan akan mendangkal dan keruh seandainya air tersebut tidak mengalir. Komputer juga demikian. Coba, masukin data kedalam komputer 20 giga kita dengan film-film yang kapasitasnya ternyata lebih dari 20 giga, maka komputer kita bakal error. Ini sama saja dengan otak manusia.< 2. Neumena adalah sesuatu yang tersembunyi di balik fenomena. Orang-orang di Timur mengatakan apa yang disebut filosof barat tentang hal ini (neumena) sebagai hikmah.

3. Bukan kemanusiaan-isme atau humanisme. Saya tidak berpihak pada humanisme tapi saya berpihak pada kemanusiaan.

4. Saya membaca judul dari sebuah buku tentang kata-kata adalah senjata saya lupa bukunya apa.yang pasti buku itu terbitan INSIST. Cari, deh.

5. Coba kamu baca buku Tetralogi Pulau Buru-nya dia, mungkin anda bisa membandingkan sudut pandang kita mengenai kehebatan ini.

6. Kodok


Mengkritik dengan Cerdas

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Kamis, 05 November 2009 7 komentar

Sebagai seorang penulis--apalagi penulis pemula seperti saya--kadang kalau menerima kritik itu memang menjengkelkan. Bagaimana tidak? Kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat awal tulisan yang mantap, memikirkan ending yang aduhai, mencari metafora-metafora yang tidak kuno, memikirkan frasa-frasa yang menurut kita bertenaga, dan lain sebagainya. Tapi, ketika tulisan itu kita sebar ke orang lain, kok ya malah dikritik? Menyedihkan sekali, bukan? Padahal sebelumnya kita sudah yakin sekali bahwa tulisan kita ini adalah tulisan yang paling bagus senusantara. Kuntowijoyo sama Danarto mah lewat, begitulah kita berkata sehabis membaca tulisan yang baru selesai kita buat. Tapi, apa boleh buat, meskipun menjengkelkan, setidaknya kita juga harus tahu diri. Bahwa siapa tahu saja tulisan kita memang buruk, dan kitanya saja yang terlalu narsis. Bukankah konsekuensi seorang penulis itu adalah harus siap menerima kritikan? Kalau tulisan kita tidak mau dikritik, ya, sepertinya kita tidak usah menulis saja. Simpel, toh?

Dalam hidup ini kita memang tidak akan pernah bisa melepas diri dari yang namanya kritikan. Setiap orang dari berbagai macam profesi—petinju, pelukis, penari, supir taksi, karyawan kantoran, tukang bakmi ayam, dan lain sebagainya—pasti pernah dikritik. Begitu pula dengan penulis. So, enjoy aja, begitu kata iklan rokok yang sering kita lihat di televisi. Meskipun kita jengkelnya bukan main, sebaiknya kita berfikir positif saja, bahwa kritik itu adalah demi meningkatkan kemampuan menulis kita juga.

Nah, karena kita tahu bahwa dikritik itu tidak menyenangkan, maka sebaiknya ketika ingin mengkritik tulisan seseorang, kita juga harus memiliki siasat agar kritikan kita tidaklah terlalu pahit didengar. Meskipun ada perkataan “katakanlah kebenaran meskipun pahit”, tetapi untuk seorang penulis pemula (seperti saya, contohnya), kritikan yang pahit tentu saja bisa menghancurkan mental—dan bahkan bukan tidak mungkin penulis pemula tersebut akan berhenti menulis sebab dia memiliki pemikiran semacam ini: “Ah, gue emang nggak bakat nulis! Gue emang nggak bakat! Argh!!!” Nah lho! Makanya, kita juga harus hati-hati dalam memberikan kritik. Maksud hati ingin menolong, malah menghancurkan mental seseorang. Tentu kita nggak ingin semua itu terjadi.

Itu sebabnya, sebagai penulis, sepertinya kita juga wajib tahu tentang bagaimana cara memberikan kritik yang baik dan benar terhadap sebuah tulisan. Agar kritikan kita dapat membangun dan bukan malah mengancurkan mental seseorang.

Tujuan Mengkritik
Pertama mungkin kita harus tahu dulu apa tujuan kita mengkritik. Apakah kita mengkritik karena ingin memberikan manfaat kepada orang lain? Atau ingin mengajak berkelahi? Kalau ingin mengajak berkelahi, maaf, sebaiknya tidak usah membaca tulisan ini. Sebab, ditulisan ini saya hanya akan memaparkan tentang bagaimana caranya agar kita bisa membuat kritik yang bagus dan bermanfaat. Sebab, tujuan kita mengkritik itu memang seperti itu. Kita mengkritik untuk membantu orang lain, bukan untuk membuat mental seseorang menjadi runtuh.

Oke... mari kita mulai!

Beberapa Tipe Penulis
Ada beberapa penulis yang tidak bisa dikritik. Meskipun mereka berkata, “Eh, gue ada tulisan baru, nih. Mohon dikomentarin, ya.”, bukan berarti mereka ingin dikritik. Mereka hanya ingin dianggap betapa tulisannya sangat bagus. Istilahnya, mereka hanya ingin narsis. Jika berhadapan dengan penulis seperti ini, kita jangan terlalu serius menanggapi karya-karyanya. Sebab, jika tulisannya kita kritik, bisa dipastikan mereka akan selalu berkilah dan akan berkata seperti ini, “Oh, itu emang sengaja gue menulis kayak gitu. Biar nggak kayak kebanyakan orang. Itu style gue.”. Atau berkata seperti ini, “Ini gaya tulisan gue. Ini ciri khas gue. Gue emang sengaja nulis tanda serunya banyak-banyak. Biar orang lain pada tahu, bahwa kalau ada tulisan yang tanda serunya banyak-banyak, mereka pasti bisa nebak kalau tulisan itu adalah karya gue. Iya, gue akuin, untuk menciptakan gaya sendiri itu emang sulit. Tapi gue udah berhasil menemukannya. Yeah!” Hufff! Menghadapi penulis seperti ini, alangkah baiknya kita diam saja.

Ada juga beberapa penulis yang tahan banting alias siap menerima segala macam kritikan dengan lapang dada. Penulis tipe ini adalah penulis yang siap “babak belur” demi meningkatkan kemampuannya. Meskipun dikritik dengan cara apa pun, baik dikritik dengan pedas atau dikritik dengan halus, ia akan menerima dengan senyum merekah (meskipun hatinya berdarah-darah. Hehe). Tapi ingat, tidak semua penulis seperti itu.

Baca Dahulu Sebelum Mengkritik
Jika kita ingin mengkritik sebuah tulisan, kita wajib untuk membacanya terlebih dahulu. Bacalah dengan teliti, kata demi kata, peristiwa demi peristiwa, pokoknya segala hal yang ada di dalam teks tersebut harus kita baca sampai selesai. Buatlah semacam catatan di tulisan tersebut jika memang ada yang perlu kita beri masukan. Beri tanda pada setiap kata atau kalimat yang sekiranya ingin kita kritik. Tulislah semua pemikiran kita setelah membaca habis tulisan tersebut. Jika kita masih memiliki waktu agak lama, kita bisa membaca ulang tulisan itu agar tidak ada yang terlewat. Lagi pula, dengan kita bersikap serius seperti itu, tentu komentar kita akan didengar dengan serius pula. Sebaliknya, jika kita seperti ogah-ogahan dalam memberi kritik, jangan harap penulis yang kita kritik itu akan mendengarkan kita.

Kritik Tulisannya, Jangan Penulisnya!
Yup. Ketika ingin mengkritik sebuah tulisan, alangkah baiknya kita jangan menggunakan kata “Kamu”, tetapi gunakanlah kata “Tulisan kamu”. Ingat, yang harus kita kritik adalah tulisannya, bukan penulisnya. Jadi jangan sampai kalimat seperti ini terucap dari mulut kita ketika kita ingin mengkritik tulisan seseorang, “Kamu kayaknya kurang bagus kalau menulis puisi! Kamu harus banyak belajar lagi, jangan cuma modal semangat saja.” Gubrag! Bisa dipastikan penulis tersebut akan sakit hati dan mungkin tidak akan pernah mau menulis lagi. Begitulah, sekali lagi, jangan kritik penulisnya, tapi kritiklah isi tulisannya, seperti: plot, ending cerita, karakter tokoh, setting, dan lain-lain. Mengenai hal ini, Melissa Donovan, kontributor situs Writing Forward, mengatakan, “You are judging the work, not the individual who produced it.” Sekali lagi, yang harus kita kritik adalah hasil kerjanya, bukan individunya.

Mulailah dengan Pujian
Ketika kita ingin memulai sebuah kritikan, kita harus selalu mengawalinya dari sesuatu yang bagus-bagus dulu. Maksudnya begini, jika kamu membaca tulisan seorang penulis pemula, dan ternyata tulisan itu sangat buruk, kita cari dulu apa sih yang bagus dari tulisan tersebut. Sebab, seburuk apa pun sebuah tulisan, pasti masih memiliki kelebihan. Entah itu ide ceritanya, atau tokoh-tokohnya yang unik, atau hal-hal yang lainnya. Jadi, dengan begitu kita bisa memulai dengan sebuah pujian. Misalnya seperti, “Waw, ide ceritanya menarik banget. Asli, gue aja nggak kepikiran untuk nulis cerita kayak gini. Kok, elo bisa sih dapet ide keren kayak gini? Salut gue!”

Jika ada seseorang yang berkata seperti itu, pasti kita tersanjung bukan main. Iya, kan? Tapi, berikanlah pujian itu dengan jujur. Maksudnya adalah sesuatu yang kita puji itu memang benar-benar bagus. Jadi kita terbebas dari yang namanya kebohongan. Lagi pula, kalau pujian kita tidak tulus dan jujur, pasti penulis tersebut akan sakit hati dan tidak akan pernah percaya lagi sama komentar-komentar kita. Setelah memberi pujian, baru deh kita beri masukan seperti, “Kayaknya kalau cerita ini dimulai dari sang tokoh yang lagi buang ludah, pasti jadinya keren, deh. Soalnya kalau awal ceritanya ‘matahari pagi ini indah sekali...’ atau ‘pada suatu hari...’ itu sudah sering banget dipakai dan sudah klise.” Dan seterusnya....

Dengan mengkritik seperti ini, tentu lebih mudah diterima oleh seseorang yang sedang kita kritik.

Gaya Menulis Setiap Orang Berbeda
Sebelum mengkritik, ada baiknya kita harus tahu betul gaya menulis seperti apa yang kita suka, dan cobalah pisahkan hal tersebut ketika kita ingin memberikan kritik. Jangan sampai mentang-mentang kita tidak suka cerita dengan ending terbuka, lantas kita menganggap bahwa cerita teman kita itu jelek, hanya gara-gara cerita teman kita itu menggunakan ending terbuka. Bisa dipahami kan maksud saya?

Hindari Ungkapan Negatif
Kritiklah dengan bahasa yang santun, dan hindari penggunaan ungkapan-ungkapan negatif seperti: “Tulisanmu ini membosankan!”, “Tema cerita seperti ini udah basi!”, atau “Dari tahun ke tahun tulisanmu nggak pernah berubah. Statis!”, dan lain semacamnya. Ada baiknya jika kita gunakan ungkapan-ungkapan positif seperti ini: “Ceritamu ini akan menjadi lebih menarik jika...”, “Sepertinya ceritamu ini akan lebih menggigit jika...”, dan lain semacamnya.

Saya ingatkan sekali lagi, bahwa kita mengkritik adalah untuk membantu, bukan untuk menyakiti.

Beberapa Kesimpulan dalam Mengkritik
Di bawah ini saya akan memaparkan beberapa kesimpulan dalam mengkritik yang mudah-mudahan bermanfaat:
  • Jangan mengkritik jika kita tidak diminta untuk mengkritik
  • Berikan pendapat yang bagus dan jangan buang-buang waktu kepada penulis yang hanya mementingkan egonya
  • Kritik tulisannya, bukan penulisnya
  • Awali dari sesuatu yang bagus, kemudian baru kita paparkan kelemahannya
  • Berusahalah untuk objektif, dan pisahkan antara gaya yang kita suka dengan tulisan yang ingin kita kritik
  • Beri usulan yang paling kuat demi kemajuan penulis. Jangan beri usulan yang tidak jelas
  • Bersabarlah dan teruslah belajar untuk bisa mengkritik dengan baik
Sepertinya sekian dulu tulisan ini saya buat. Jadi, sudah siapkah kita menjadi pengkritik yang baik?

Semoga bermanfaat!

Wassalam,


Catatan: Tulisan ini saya kembangkan dari tulisannya Melissa Donovan yang berjudul How to Give Good Critique, yang dimuat di situs Writing Forward.com


Related Posts with Thumbnails
Diberdayakan oleh Blogger.