Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Bagus Takwin: Aku Bahagia Karena Telah Menulis Buku

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Rabu, 04 Agustus 2010


(Wawancara ini saya temukan ketika sedang blog walking ke blognya Kang Wartax (Anwar Holid). Menurut saya wawancara ini menarik sekali jika saya masukkan ke www.SindikatPenulis.com. Akhirnya saya minta izin ke Kang Wartax, dan alhamdulillah beliau mempersilakannya. So, check it out!)
____________________________________

Oleh: Anwar Holid

PENGANTAR: Wawancara ini sebenarnya sudah berlangsung lama, kira-kira akhir 2005. Awalnya mau saya olah sebagai artikel untuk Matabaca, tetapi karena terbengkalai terus, akhirnya saya biarkan apa adanya—hanya sedikit disunting agar keterbacaannya lebih baik. Semoga bermanfaat.


Kira-kira berapa jumlah koleksi buku kamu?
Kalau dikira-kira, secara kasar kuhitung jumlah koleksi bukuku ada sekitar 6500 judul. Tentu saja banyak yang belum aku baca. Belakangan ini kecepatan bacaku jauh lebih rendah dari kecepatanku membeli buku. Jenis bukunya beragam, kebanyakan sastra (novel, kumpulan cerpen, dan puisi), filsafat, dan psikologi. Sejarah, agama dan sosiologi cukup banyak. Ada beberapa biografi, biologi, antropologi, statistik, matematika, fisika, dan buku travelling. Aku masih punya belasan komik, kebanyakan Calvin and Hobbes.

Siapa penulis favorit kamu? (misal karena cara menulis, kemampuan menafsirkan atau menalar.)
Dari penulis fiksi, aku suka Gabriel García Márquez, Ben Okri, Italo Calvino, dan Milan Kundera karena mereka memberi wawasan yang luas tentang pengolahan kata, cerita dan ide, termasuk bagaiman mengolah pikiran dengan bahan realitas dan imajinasi. Mereka pun lincah menalar secara metaforik dan mampu menafsirkan berbagai gejala di sekitarnya menjadi keindahan dalam tulisan.

Bagi kamu pribadi, apa secara finansial dunia kepenulisan cukup menjanjikan dan bisa diandalkan?
Kalau sekarang, menulis hanya memberi sedikit penghasilan finansial. Sebenarnya kalau di-manage dengan baik dan sungguh-sungguh, dunia kepenulisan di Indonesia sudah bisa menjamin nafkah hidup pantas secara sederhana. Untuk jadi kaya belum bisa.

Apa buku favorit kamu? (paling sering dibaca, sering dikutip, sangat inspiratif bagi proses kepenulisan)
Sulit menjawab ini karena tak pernah kupastikan dalam kegiatan membacaku. Aku sempat lama suka membaca ulang Catatan Pinggir Goenawan Mohamad jilid 1-5. Kumpulan esai itu seperti jendela informasi bagiku, terutama informasi tentang buku dan pemikiran tokoh-tokoh dunia. Belakangan sudah jarang baca Caping, paling baca di Tempo setiap minggu.
Kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono Hujan Bulan Juni dan Kumpulan Puisi Goenawan Mohamad terbitan Metafor masih sering kubaca setiap kali ada waktu. Beberapa kali mereka kukutip dalam tulisanku, terutama Sapardi.

Aku beberapa kali membaca Little Prince dari Antoine de Saint-Exupéry.

Yang jelas-jelas paling banyak kubaca dan sering kukutip secara tulisan maupun lisan adalah buku Ernst Cassirer, An Essay on Man, sebab selain bagus dan aku suka, buku itu juga kupakai buat mengajar. Bagiku Cassirer sangat inspiratif baik dari gagasan maupun teknik menulis serta cara memaparkan dan memanfaatkan informasi.

Sekarang aku juga suka buku From Text to Action dari Paul Ricouer, kuulang-ulang baca karena inspiratif dalam mempertemukan dua pendekatan dalam peroleh pengetahuan. Aku mau coba terapkan itu di psikologi.

Buku apa yang paling susah dipahami, namun sangat menantang? Kenapa demikian?
Sekarang aku sedang berusaha memahami buku Edmund Husserl berjudul Ideas, General Introduction to Pure Phenomenology yang menurutku susah (sebenarnya juga buku filsuf-filsuf fenomelogi lainnya.) Dulu aku pernah baca asal lewat kecuali bagian-bagian yang kubutuhkan untuk membuat tesis. Sekarang aku ingin memahami secara komprehensif sebab aku perlu pemahaman mendalam tentang fenomenologi yang akar pemikirannya ada di buku ini.
Saat ini pendekatan fenomenologi, terutama tentang intentionality, banyak digunakan membahas banyak gejala kemanusiaan, baik individual maupun kelompok. Beberapa pemikir kontemporer juga mencoba mensintesiskan pemikiran fenomenologi dengan pemikiran-pemikiran lain, seperti Giddens dengan 'Third Way'-nya, Bourdieu dengan habitus dan field, lalu para ahli kesadaran (consciousness) yang mencoba mempertemukan fenomenologi dengan berbagai pendekatan dalam ilmu kognitif. Buku Ideas menantang sekaligus juga bermanfaat untuk dipahami meski sulitnya minta ampun.

Sebelumnya aku pernah setengah mati baca De Anima dari Aristoteles.

Sebenarnya buku-buku sastra klasik juga sulit dan menantang untuk dibaca. Homer, Shakespeare, dan karya-karya sastrawan-sastrawan Rusia menuntut ketabahan dan kejelian yang tinggi untuk membacanya. Kalau sudah ketemu 'enaknya', asyik sekali membaca semua itu, tetapi sebelumnya butuh daya konsentrasi tinggi.

Apa komentar kamu tentang menulis fiksi dan nonfiksi? Kenapa kamu tetap berada di dua ranah kepenulisan itu?
Menulis fiksi membebaskanku untuk menuangkan pengalaman, termasuk khayalan dan mimpi-mimpiku. Tantangannya adalah membuat cerita atau pemaparan menarik, unik atau paling tidak memuaskan ekspresiku, melepas ketegangan yang ada di hati dan pikiran.

Sementara menulis nonfiksi membutuhkan sistematika berpikir yang ketat dan teratur. Aku perlu membuat alur dan kerangka terlebih dahulu, menyiapkan bahan-bahan yang mungkin dibutuhkan dan mencoba mencari relevansi praktis dan teoritis dari tulisanku. Disiplin berpikir literal (logika dan metodologi) lebih dituntut dalam menulis nonfiksi. Sedangkan fleksibilitas dan disiplin metaforik (perumpamaan yang bernas dan imaji yang menyentuh pembaca) lebih dituntut dalam menulis fiksi. Sebenarnya aku belum bisa optimal dalam keduanya (masih bisa dibilang jelek dalam keduanya. Aku akan belajar terus, latihan menulis terus (syukur-syukur hasil latihannya diterbitkan seperti yang lalu-lalu).

Aku menulis keduanya karena keduanya kuminati dan proses pembuatannya mengaktifkan kedua belahan otakku serta membantuku peka dalam memahami diri dan sekitarku. Keduanya membantuku menjelaskan dunia secara enklaren (penjelasan dan penemuan hukum umum) maupun verstehen (pemahaman terhadap gejala-gejala khusus, terutama gejala humaniora)

Persiapan apa yang paling penting dalam menulis?
Kalau dari pengalamanku sih secara umum banyak baca. Lalu, secara khusus penting untuk meningkatkan sensitivitas. Dari segi teknis, sangat penting tersedia rokok dan kopi serta air putih supaya tetap bisa menulis sambil mendapat kenikmatan kopi dan rokok serta terus minum air agar ginjal tidak rusak. (Kalau kebelet ke kamar mandi, jangan ditahan-tahan, kalau ditahan malah nanti ganggu mood.)

Bagaimana kebiasaan membaca dan menulis kamu? Berapa jam kamu alokasikan waktu untuk menulis?
Sekarang, kebiasaan menulis dan membacaku tidak tetap. Tetapi dalam satu hari pasti ada yang aku baca dan tulis. Kira-kira paling tidak 2 s/d 3 jam aku membaca dan menulis materi-materi yang bukan jadi pekerjaan wajibku. (Sebenarnya aku bisa sampai 6 jam membaca bahan pelajaran dan materi tambahan bagi mata kuliah yang aku ajar, lalu menulis beberapa catatan yang penting; aku mengajar setiap hari dari Senin sampai Jumat.) Biasanya sebelum tidur aku sempatkan membaca buku, jika ada yang menarik aku tulis, membuat catatan atau ide-ide yang terlintas.

Apa yang menurutmu kurang dalam dunia perbukuan Indonesia sekarang?
Di Indonesia tidak ada reviewer buku yang memadai. Informasi tentang buku baik kurang sehingga sulit bagi aku menemukan buku-buku baru yang baik tanpa membeli atau meminjam lebih dahulu. Aku tahu satu buku bagus atau tidak setelah membacanya. Kita juga kekurangan kritikus buku. Kritikusnya pada snob, sok tinggi padahal kebanyakan malas membaca dan egois. Tak ada lagi H.B. Jassin yang rendah hati dan mau membimbing penulis muda. Kritikus sekarang kebanyakan penikmat yang dipenjara oleh seleranya. Pemahaman dan wawasan mereka kurang. Teori-teori yang mereka pakai kuno. Analisisnya linear atau bergaya 'tukang periksa'. Beberapa hanya senang menanggapi tulisan teman sendiri seideologi atau sepermainan.
Saat ini juga belum saya temukan sastrawan baru yang karyanya mengagumkan di Indonesia; belum banyak kritikus yang tajam. Saya menemukan Melani Budianta saja. Yang lainnya entah di mana.

Kebiasaan dan sifat apresiatif belum terbentuk di sini. Selain itu, kurang banyak penerbit yang berani mencoba menjajaki penulis-penulis baru dengan membiayai riset mereka. Kebanyakan penerbit hanya mau enaknya, menerima yang sudah jadi. Nama lebih dipentingkan daripada kualitas karya. Kebanyakan penerbit malas. Banyak lagi sih, kupikir, kekurangan kita. Tetapi kemajuan yang kita capai beberapa tahun ini juga patut dipuji. Dunia perbukuan kita sudah bangkit dan melangkah maju. Mudah-mudahan kekurangan yang aku sebut tadi bisa dibenahi.

Bibliografi lengkap kamu apa saja?
Aku tuliskan yang buku sendiri saja ya dan ada dengan beberapa teman. (Ada beberapa tulisan dalam kumpulan yang diterbitkan Kompas, termasuk 16 tulisan tentang analisis kepribadian Capres dan Cawapres; juga dalam kumpulan Bentara; tapi aku tak terlalu ingat.
  1. Pecahan Jakarta; Kumpulan cerpen bersama Kristi Purwandari; Konsepsi, 1999, Jakarta.
  2. Fuad Hassan di Antara Hitam-Putih; editor/penyunting; Konsepsi, 1999, Jakarta.
  3. Soeharto; Ramuan Kecerdasan dan Masa Kecil yang Liat; hasil penelitian bersama Niniek L. Karim dan Hamdi Muluk; Komunitas Bambu, 2001, Jakarta.
  4. Filsafat Timur; Pengantar ke Pemikiran-pemikiran Timur; Jalasutra, 2002 dan 2003, Yogyakarta.
  5. Bermain-main dengan Cinta; Jalasutra, 2002 dan 2003, Yogyakarta.
  6. Akademos; Jalasutra, 2002 dan 2003, Yogyakarta.
  7. Patogonos; Esei yang mengisahkan hidup sepasang manusia; Kutu Buku, 2005, Jakarta.
  8. Ruwita, Novel; Penerbit Qolibri, 2005, Jakarta.
  9. Rhapsody Ingatan, Kumpulan Cerpen, Qolibri, 2005, Jakarta.
  10. Kesadaran Plural - Sintesis Kehendak Bebas dan Rasionalitas; Jalasutra, 2005, Yogyakarta.
  11. Akar-akar Ideologi; Jalasutra, 2002, Yogyakarta.
Apa yang dulu memotivasi kamu menulis dan menyelesaikan buku?
Ingin punya karya yang bisa dibanggakan dan bertahan lama. Awalnya karena aku kagum kepada para penulis yang karyanya memukau aku. Aku pikir, asyik juga ya punya karya tulis yang dibaca dan disenangi orang. Kupikir itu akan membahagiakanku. Ternyata sekarang aku merasa bahagia setiap ada yang mengomentari atau menulis e-mail dan bilang menikmati bukuku. Aku merasa bahagia karena telah menulis buku.

Ada juga harapan kecil yang terus kukumandangkan ketika bicara santai (sedikit bercanda) dengan teman-teman, aku ingin dapat Nobel Sastra, kemungkinan dari tulisan filsafatku.

Biasanya kutambah juga, "Gue ingin dapat Nobel biar bisa menolak hadiah itu, ha ha ha!" Tapi dalam hatiku ternyata keinginan itu ada juga meski tampak tidak realistik.

Buku apa yang paling berkesan yang pernah kamu tulis?
Bermain-main dengan Cinta dan Patogonos.

Suasana seperti apa yang paling kondusif untuk menulis?
Ketika teman-teman pulang dan mereka menyisakan kegembiraan, renungan dan perhatiannya kepadaku. Apa yang mereka berikan padaku mendorongkan menuliskan sesuatu. Kalau dilihat dari waktu, pagi hari sekitar jam 6 s/d 11 paling kondusi bagiku untuk menulis. Oleh karena itu, aku sering telat berangkat ke kantor.

Sebagai penulis, apa yang paling kamu harapkan dari penerbit?
Penerbit menyebarluaskan dan mempromosikan buku-bukuku. Mencarikan penanggap yang serius dan menyelenggarakan diskusi dengan isi bukuku sebagai topiknya. Penerbit juga mestinya menjaga kesejahteraan penulisnya serta mendorong, mendukung, memfasilitas (materi, mental, dan kultural) para penulisnya untuk berkembang.

Punya pengalaman menarik selama menulis? Misalnya writer's block?
Setelah bisa menulis satu cerpen dan esai, rasanya tidak pernah. Kalau pun terhenti atau tidak bisa menulis tidak kuanggap sebagai block tetapi kuanggap sudah tiba waktunya berhenti, istirahat dan jalan-jalan atau nonton film. Aku tidak ngoyo menulis dan sering mengabaikan dead-line (biasanya penerbitku mengerti ini) jadi tidak merasa terhambat jika tidak lancar menulis. Aku punya banyak sekali kegiatan yang menyenangkan sehingga jika terhambat mengerjakan yang satu, aku pindah ke kekgiatan lain. Hidup seperti itu menyenangkan bagiku.

Semoga jawabanku membantu menjelaskan. Selamat menulis.[]

Bagus Takwin ngeblog di http://bagustakwin.multiply.com/
Anwar Holid, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com/


Kurnia Effendi: "Semua buku bagi saya berkesan"

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Rabu, 02 Desember 2009 1 komentar


Assalamualaikum. Apakabar, Mas Kef?
Kabar baik. Semoga Anda juga selalu dalam lindungan Tuhan.

Sedang sibuk apa sekarang?
Sibuk macam-macam. Kalau di kantor, karena saya berada di bawah payung Pengembangan Showroom ya tentu membantu para dealer melakukan standarisasi showroom Suzuki mobil. Kadang-kadang keluar kota untuk survei atau site meeting.

Kalau urusan tulis menulis, saat ini masih konsentrasi dengan novel sejarah yang saya garap bersama Iksaka Banu. Namun tak henti juga menulis kolom untuk Indonesia Energy Watch, permintaan cerpen dari majalah remaja, menyiapkan novel cinta, dll.

Untuk komunitas, saya sedang membantu terbentuknya yayasan seni budaya. Selain itu, sebagai Ketua Asosiasi Penulis Cerita, sedang menyiapkan beberapa program, di antaranya “Gerakan Menuju 100 Buku ANITA”. Kami sedang bergegas menerbitkan buku, meminta agar setiap anggota minimal menerbitkan satu buku di tahun 2009, untuk dipamerkan nanti pada ultah asosiasi 15 Februari 2010. Kemudian, ada juga wadah untuk para komunitas berunjuk sastra di Jakarta Timur, namanya Kedailalang. Gagasan dari Saut Poltak Tambunan dan beberapa teman yang lain ini berlangsung Sabtu malam kedua setiap bulannya.

Kira-kira sudah berapa tahun Mas Kef menggeluti dunia tulis-menulis?
Menulis dari SD, jadi sudah lama sekali. Tetapi menulis untuk publik mulai 1978. Cerpen dan puisi pertama dimuat di majalah Gadis, Aktuil, dan koran Sinar Harapan. Selanjutnya saya gemar mengikuti sayembara cerpen dan puisi, menghasilkan sekitar 30 penghargaan, 8 di antaranya juara pertama.

Apakah Mas Kef pernah merasa bosan menulis? Jika pernah, apa yang Mas Kef perbuat untuk mengatasi hal tersebut?
Selayaknya semua pengarang, tentu pernah bosan menulis. Biasanya saya seling dengan kegiatan lain, misalnya menonton film, mendengarkan musik, menggambar, traveling, silaturahmi dengan teman-teman. Biasanya lantas muncul gagasan-gagasan baru dan kembali rindu menulis.

Apa yang terus memotivasi Mas Kef untuk terus menulis sampai sekarang?
Rasa berutang jasa, itulah motivasinya. Saya telah menyerap banyak pengetahuan dan wawasan dari para penulis pendahulu saya. Dengan apa saya membalas budi baik pencerahan itu jika tidak dengan menulis? Tulisan saya merupakan balas jasa kepada generasi berikutnya. Jadi akhirnya menulis itu seperti kebutuhan sebagai ucapan terima kasih.

Kira-kira, pada tahun berapa tulisan Mas Kef dimuat di media? Cerpen, novel, atau tulisan non fiksi? Bagaimana perasaan Mas Kef saat itu?
Sudah saya sampaikan di depan, bahwa tulisan saya di media pertama kali tahun 1978. Tentu merasa sangat bahagia dan memicu untuk membuat tulisan berikutnya.

Siapa sih penulis favorit Mas Kef?
Sebenarnya banyak penulis favorit saya. Katyusha, misalnya, penulis tahun 80-an yang cerpen dan cerbernya dimuat (hanya) di majalah HAI. Budi Darma, terutama untuk novel Olenka yang menurut saya materpiece beliau. Arswendo Atmowiloto oleh produktivitas dan kreativitasnya; saya sangat menyukai The Circus, novelnya yang luar biasa di masa lalu. Alistair MacLean, pengarang yang memesona untuk saya di kala muda. Dan beberapa lagi.

Buku bacaan yang paling membuat Mas Kef berkesan sampai sekarang?
Polong Saga Retak (Katyusha), Olenka (Budi Darma), Wanita (Paul I Wellman), Mimpi-Mimpi Einstein (Alan Lightman)

Bagaimana tanggapan Mas Kef dengan copy the master?
Apa ya maksudnya? Mencontek? Epigonisme? Plagiarisme? Bagi saya, terpengaruh pengarang senior itu sudah lazim. Hampir setiap pengarang demikian. Saya pun terpengaruh gaya Katyusha, Alistair, Budi Darma, Arswendo. Terinspirasi boleh saja. Epigon sulit dihindari, namun lambat laun seorang pengarang akan menemukan jati dirinya. Plagiat jangan sampai terjadi, itu tabu bagi saya.

Sudah berapa judul buku yang Mas Kef tulis? Judulnya apa saja?
Banyak sekali. Puisi tentu lebih dari 2000 judul. Buku sudah 11 buah. (Kartunama Putih, Senapan Cinta, Bercinta di Bawah Bulan, Aura Negeri Cinta, Kincir Api, Selembut Lumut Gunung, Burung Kolibri Merah Dadu, Interlude-Jeda, Four Fingered Pianist, Merjan-Merjan Jiwa, dan Kakawin Gajah Mada). Cerpen mungkin lebih dari 100 judul, termasuk cerita anak-anak.

Di antara semua buku yang sudah Mas Kef tulis, adakah yang paling berkesan bagi Mas Kef?
Semua buku bagi saya berkesan, terutama karena proses penciptaannya.

Untuk membuat satu cerpen, biasanya Mas Kef menghabiskan waktu berapa lama?
Sangat bervariatif. Ada yang 2 jam selesai, ada yang berbulan-bulan. Yang lama selesainya tentu karena diputus oleh kesibukan lain dan terlupakan. Umumnya sih beberapa hari.

Pernah mengalami writer’s block? Apa yang Mas Kef lakukan untuk mengatasi hal tersebut?
Kita sebagai pengarang harus belajar dua hal: (1) Menciptakan mood (bukan menunggu mood), dan (2) Menikmati disiplin (bukan menulis kalau sedang ingin saja).

Dalam sebulan, Mas Kef membaca berapa buku? Buku apa yang saat ini sedang Mas Kef baca?
Tidak tentu jumlahnya. Saya membaca buku cepat saat dipesan untuk resensi. Kalau untuk keperluan pribadi bisa berminggu-minggu, karena selalu tergoda membaca judul yang lain, atau tergoda untuk menulis. Jika saya memiliki waktu hanya dua jam, saya justru memanfaatkannya untuk menulis ketimbang membaca.

Mengingat Mas Kef bekerja di perusahaan otomotif, bagaimana Mas Kef menyiasati waktu untuk menulis?
Berusaha tiap hari menulis walau sebentar. Saat malam setelah selesai semua kegiatan menyisihkan waktu sejam dua jam untuk menulis. Saat kepagian tiba di kantor, masih sempat menulis barang setengah jam sampai 1 jam.

Bagi Mas Kef, arti menulis itu apa, sih?
Menulis awalnya hak buat saya sebagai seorang yang mendapatkan ide. Namun kini menulis adalah kewajiban saya karena selekas mungkin saya harus berbagi kepada orang lain (pembaca)

Apa yang Mas Kef dapatkan dari menulis?
Kepuasan batin, tentu saja. Kepopuleran (mau tak mau). Uang (jika suatu saat jadi profesi tunggal)

Sebelum menulis, bianya apa saja yang Mas Kef persiapkan?
Saya tidak pernah menyiapkan peranti secara khusus untuk menulis. Tentu saja menyalakan lap top (kalau dulu ya membuka mesin ketik). Selanjutnya ya langsung menulis. Khusus untuk novel sejarah yang sedang kami garap, kadang-kadang membuka buku-buku referensi atau googling.

Ada tidak tulisan Mas Kef yang sampai sekarang tidak selesai-selesai?
Ada, dong. Karena saya menulis dimulai dengan judul, banyak judul yang masih terbengkalai. Selain itu, novel sejarah yang saya tulis berdua itu telah hampir 10 tahun tidak kelar-kelar.

Pertanyaan terakhir, kira-kira sampai kapan Mas Kef terus menulis?
Sampai tak sanggup lagi menulis. Cita-cita saya, setelah pensiun dari pekerjaan formal, ingin total menulis.

Oke, terimakasih banyak Mas Kef atas jawaban yang sudah diberikan. Semoga Mas Kef selalu diberi kesehatan. Aamiin. Wassalamualaikum...
Alhamdulillah amin. Terima kasih juga. Sampai jumpa.



Eka Kurniawan: Aku tak merasa menulis sebagai beban.

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Senin, 09 November 2009 1 komentar

(Poto saya copas dari wikipedia.org)

Sebelumnya saya agak nervous juga ketika ingin mewawancara Eka Kurniawan. Bukan apa-apa, Eka Kurniawan adalah penulis yang karya-karyanya sering diperbincangkan banyak orang, tulisan-tulisannya (baik cerpen maupun essai) pernah muncul di media-media nasional, bahkan salah satu novelnya yang berjudul Cantik Itu Luka telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan judul Bi Wa Kizu. Dengan rekam jejak seperti itulah akhirnya saya menganggap bahwa Eka Kurniawan adalah sosok yang sudah berada jauh di atas saya, mengawang-awang seperti awan dan tentu sulit sekali untuk dijangkau. Lagi pula, mengingat sindikat penulis hanyalah situs kecil dan tidak seperti situs-situs kepenulisan lainnya yang bisa dibilang sudah mapan, saya semakin merasa kecut. Namun, dengan agak sedikit nekad dan berpikir positif bahwa wawancara ini adalah untuk kebaikan, maka saya memberanikan diri mengajukan permohonan untuk melakukan wawancara kepada beliau. Alhamdulillah, dengan sangat baik hati beliau menerima permohonan saya dengan tangan terbuka. Maka, simaklah percakapan saya (Noor H. Dee) dengan Eka Kurniawan via e-mail di bawah ini. Semoga bermanfaat. Welcome to the show. Cheers!

Assalamualaikum. Apa kabar, Mas Eka? Sedang sibuk apa sekarang?
Kabarku baik. Kesibukanku: menyelesaikan novel ketiga yang sudah kukerjakan sejak tahun 2004. Pada saat yang sama juga mempersiapkan (sudah dalam bentuk draft) novel keempat. Di luar itu, menyempatkan diri menulis cerpen, esai, blog. Juga menulis script untuk televisi. Kadang bantu orang yang mau nulis buku (sekadar konsultasi atau sebagai ghost-writer). Lumayan sibuk juga, ya?

Kalau boleh tahu, pada tahun berapa atau pada usia berapa Mas Eka mulai menyukai dunia tulis menulis?
Kalau suka nulis, kayaknya sejak umur 12-an tahun. Sejak SMP. Waktu itu puisi pertamaku dimuat di majalah anak-anak. Tapi baru serius mau jadi penulis sekitar umur 20-an, di akhir kuliah.

Siapa sih pengarang yang paling menginspirasi Mas Eka dalam menulis? Kenapa?
Sekarang sih praktis aku baca siapa saja yang aku mau dan menarik perhatianku. Tapi dalam sejarah kepenulisanku, nama Knut Hamsun dan Pramoedya Ananta Toer bisa dibilang jadi pendorong aku jadi penulis. Novel Hamsun yang berjudul "Lapar" membuat saya ingin jadi penulis secara serius. Penelitian saya atas karya-karya Pramoedya merupakan pengalaman pertama saya bersentuhan dengan kesusastraan secara serius. Tapi selepas itu, sekali lagi, saya cenderung melahap buku karya siapa pun asal saya tertarik.

Apa yang Mas Eka dapatkan dari menulis?
Macem-macem. Aku ketemu istri juga karena menulis :-)

Sampai saat ini, Mas Eka sudah menulis berapa judul buku?
Buku pribadi baru (sudah?) 5 judul: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (non fiksi), Cantik itu Luka (novel), Lelaki Harimau (novel), Gelak Sedih (kumcer), dan Cinta Tak Ada Mati (kumcer). Sebenarnya ada satu buku lagi: Corat-coret di Toilet (kumcer), tapi buku ini kugabung di buku Gelak Sedih, jadi nggak dihitung. Di luar itu, aku juga ikut di beberapa buku antologi bersama (rada susah ngitungnya, banyak!), juga nulis novel adaptasi (sekali), dan juga nerjemahin karya penulis asing (beberapa).


Di antara semua judul buku yang Mas Eka tulis, buku yang mana yang paling berkesan menurut Mas Eka? Bisa dijelaskan alasannya?
Setiap buku ditulis di waktu yang berbeda, maka kesannya juga berbeda dari waktu ke waktu.

Dalam sebulan, berapa buku yang Mas Eka beli/baca?
Nggak tentu. Kadang cuma 1 buku. Tapi bisa juga belasan buku kalau lagi semangat dan waktu melimpah.

Seberapa penting sih peran buku-buku yang Mas Eka baca dalam proses kreatif Mas Eka?
Tentu penting lah. Kira-kira kayak pemain bola mengintip pertandingan klub lain. Tapi di atas segalanya, aku membaca buku karena ingin membaca. Menulis atau tidak, aku suka membaca.

Buku apa saja yang paling berkesan buat Mas Eka, yang sering dibaca berulang-ulang?
Kecuali lagi riset, aku udah jarang baca buku berulang-ulang. Waktu sangat terbatas, dan masih banyak buku yang belum sempat dibaca.

Di antara genre fiksi dan non fiksi, Mas Eka lebih menyukai yang mana? Tolong diberikan alasannya ya, Mas.
Aku menyukai keduanya. Pada dasarnya minatku nggak cuma sastra. Aku baca buku filsafat, sejarah, antropologi, science. Yang nggak pernah kubaca paling buku "how to" dan buku-buku motivasi :-)

Menurut Mas Eka, apakah dari hanya menulis seseorang bisa survive dalam menjalani hidup ini?
Bisa ya bisa nggak. Seperti bidang lainnya. Ada yang bisa ada yang nggak. Penulis sukses, yang produktif dan dibayar dengan baik, tentu saja bisa survive. Tapi tentu juga nggak sedikit yang gagal. Memilih bidang profesi apa pun, pertanyaan itu bisa sama aja, kan?

Apa yang bisa membuat Mas Eka bertahan untuk tetap menggeluti dunia tulis-menulis sampai sekarang?
Pertama tentu karena senang. Karena senang, aku tak merasa menulis sebagai beban. Karena tak ada beban, ya nggak ada alasan untuk tidak bertahan. Kedua, aku telah memilih menulis sabagai profesiku. Tentu mesti ada komitmen.

Bagaimana peran istri, Mbak Ratih Kumala, dalam proses kreatif Mas Eka?
Dia masak mie goreng pas aku lapar :-)

Apakah Mas Eka pernah mengalami kebuntuan dalam menulis, atau bahasa kerennya writer’s block? Dan bagaimana Mas Eka menyikapinya?
Sering. Kalau pas datang writer's block, ya tinggalin tulisannya. Aku bisa isi waktu dengan baca buku, lihat film, ngegambar atau bahkan pergi bareng. Intinya, nggak maksain. Tentu saja kecuali untuk tulisan pesanan yang ada deadlinenya, pasti aku paksain nulis apa pun yang terlintas. Kalau waktu nulis novel atau cerpen, writer's block kuanggap aja alarm untuk ngelakuin hal lain.

Sebelum menulis, kira-kira yang paling penting untuk seorang penulis pahami dalam memulai sebuah tulisan itu apa?
Tahu apa yang mau ditulis. Itu saja sudah cukup.

Bagi Mas Eka, suasana yang paling kondusif untuk menulis itu seperti apa?
Asal nggak ada yang ngajak ngobrol.

Obsesi Mas Eka saat ini?
Nyelesain novel ketiga.

Pertanyaan terakhir, bisa berikan kami tips-tips sederhana ketika ingin membuat sebuah tulisan yang bagus?
Menulis saja secara jelas dan runtut.

Oke. Terimakasih atas jawaban-jawabannya, ya. Semoga Mas Eka dan Istri selalu diberikan kesehatan, sehingga bisa selalu tetap produktif dalam menulis. Wassalamualaikum....
Terima kasih.


_______________________________
Eka Kurniawan lahir di Tasikmalaya tahun 1975. Novelnya Cantik Itu Luka (2002) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan judul Bi wa Kizu (2006). Tulisan-tulisannya bisa dibaca di www.ekakurniawan.com. Saat ini tinggal di Jakarta.



Related Posts with Thumbnails
Diberdayakan oleh Blogger.