Lima Unsur dalam Fiksi yang Mesti Kita Tahu

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Rabu, 05 Mei 2010 3 komentar

(Ilustrasi karya: Ella Dalus)


Dunia fiksi adalah dunia kebebasan tanpa batas. Kita bisa pergi ke mana saja, melanglang buana semau kita, menghentikan waktu dan menjalankannya kembali, semua itu bisa kita lakukan kapan saja. Kita juga bisa menciptakan makhluk-makhluk aneh yang belum sempat tuhan ciptakan, membangun sebuah pulau yang tak pernah tercatat dalam sejarah, mematikan tokoh protagonis, memberi penghargaan kepada tokoh antagonis, membalik segalanya, merusak segalanya, mendekonstruksi realita sehari-hari dengan imajinasi. Ya, dengan menulis fiksi, kita bisa melakukan apa saja.

Namun, kita juga mesti tahu, bahwa sebebas apa pun kita menulis fiksi, ada beberapa panduan yang mesti kita ikuti.

Penulisan fiksi yang bagus sekiranya harus memiliki lima unsur. Kesemua unsur tersebut adalah bahan paling penting untuk kita gunakan dalam membuat cerita fiksi yang memikat, indah, menawan, memukau, sehingga membuat pembaca begitu betah berlama-lama membaca cerita kita.

Kelima unsur penting itu adalah sebagai berikut:

  • Karakter
  • Plot / Alur
  • Seting / Latar
  • Tema
  • Style / Gaya
Jika kelima unsur di atas terjalin mulus dan terpilin dengan begitu rapi, kita akan bisa membuat cerita fiksi yang—katakanlah—berhasil.

So, here we go!

KARAKTER
Kebanyakan orang merasa bahwa karakterisasi adalah unsur paling penting dalam naskah fiksi. Penggambaran karakter yang kuat bisa membuat pembaca merasa memiliki hubungan emosional dengan tokoh karakter yang kita karang itu. Karakter yang kuat di sini maksudnya bukan berarti harus berbadan six pack seperti model iklan L-Men, melainkan karakter itu memiliki keunikan, tidak stereotip, dan mampu membuat pembaca berfikir bahwa karakter tokoh karangan kita itu benar-benar ada di dunia nyata. Cerita fiksi tanpa adanya karakterisasi atau penokohan, adalah cerita yang bisa dikatakan sangat tidak menarik.

PLOT / ALUR
Plot juga merupakan unsur yang penting dalam cerita fiksi, yaitu rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu. Plot tidak bisa disamakan dengan jalan cerita, tapi lebih kepada hubungan sebab-akibat. Cerita seperti: “Saya bangun tidur, melamun sebentar, kemudian beranjak mendekati jendela.” Ini namanya jalan cerita, bukan plot. Jika cerita itu diubah seperti ini: “Saya bangun tidur dan merasa tenggorokan saya kering, Dengan langkah perlahan saya langsung menuju kulkas.” Inilah yang dinamakan plot. Ada hubungan sebab-akibat di dalam cerita itu. Itu hanya contoh sederhananya. Jadi di sini sudah jelas betapa pentingnya plot dalam cerita fiksi. Plot yang baik dapat menggugah rasa ingin tahu pembaca akan kelanjutan cerita kita.

SETING / LATAR
Seting adalah informasi yang menggambarkan waktu dan tempat dalam sebuah cerita fiksi. Kapan cerita itu terjadi dan di mana kisah itu berlangsung. Hal ini penting sekali, sebab dengan adanya seting, pembaca bisa lebih menghayati cerita fiksi yang kita buat itu. Dengan seting (tempat dan waktu) kita juga bisa menciptakan karakter tokoh dengan baik, dan dari seting kita juga bisa menentukan konflik demi mendapatkan emosi pembaca. Seting yang baik bukanlah cuma dijadikan sebagai latar belakang sebuah cerita fiksi saja, melainkan juga merupakan satu kesatuan dari cerita. Saling berkesinambungan.

TEMA
Tema adalah inti dari apa yang sebenarnya ingin kita ceritakan. Atau, bisa juga disebut sebagai ide pokok dari rangkaian cerita fiksi yang ingin kita tuliskan. Kita akan kesulitan menulis jika kita belum memiliki tema. Dengan tema yang menarik, pembaca akan antusias dengan tulisan kita. Jadi, jika kita ingin menulis, tentukan tema sekarang juga.

STYLE / GAYA
Apabila kita ingin menulis tentang tema yang—katakanlah—sudah klise, misalnya kisah tentang pertaubatan seorang pendosa, kita tetap bisa membuat cerita itu menjadi menarik.
"Lho, kok bisa?"
"Ya bisa, dong!"
"Bagaimana caranya?"
"Gampang!"
"Gampang bagaimana? Kasih tahu, dong!”
"Sabar, dong!"
"Aduuuh... bikin penasaran aja, deh!"
"Hehehe... gampang. Jawabannya adalah dengan gaya tulisan kamu!"

Ya, dalam menulis cerita fiksi, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat cerita fiksi kita menjadi menarik, salah satunya adalah: gaya menulis. Mungkin kita bisa menulis cerita dengan menggunakan gaya punggung... eh, ini mah renang! Maaf, maksud saya, kita bisa menulis cerita dengan berbagai macam gaya. Komponen-komponen dalam gaya bisa berupa sudut pandang yang unik, narasi yang aduhai, rima yang memesona, ending yang mengejutkan, dan lain sebagainya. Tapi, kita mesti ingat, jangan terlalu sering bermain-main dengan gaya, sebab takutnya kita malah dianggap sebagai badut atraksi kata-kata. Gaya hanyalah salah satu hal yang dapat membantu menjadikan cerita fiksi kita menjadi semakin memukau.

KESIMPULAN
Apa sih pentingnya kita memahami unsur-unsur fiksi tersebut? Bukankah lebih baik kita duduk di depan komputer dan mulai menulis, lantas biarkan energi kreativitas kita yang akan melakukan hal tersebut?

Hmm... Sebenarnya dengan kita paham dan akrab dengan unsur-unsur fiksi tersebut, itu akan menguntungkan kita sebagai seorang penulis. Di antaranya adalah sebagai berikut:
  • Mengetahui semua unsur-unsur ini akan memudahkan kita untuk berbicara dengan cerdas mengenai menulis fiksi.
  • Kita akan dapat mengidentifikasi masalah dengan lebih mudah.
  • Memahami unsur-unsur ini akan memberikan kita perspektif baru sebagai pembaca fiksi.
  • Jika unsur-unsur cerita fiksi adalah bahan bangunan, maka kita harus tahu apa yang harus kita kerjakan selanjutnya.
Ya, kamu mungkin bisa saja cuma duduk dan langsung menulis dengan kreativitas yang—katakanlah—masih mentah, dan bisa jadi hasil tulisan itu akan menjadi tulisan yang baik. Namun, semakin kamu memahami unsur-unsur di atas tadi, semakin lengkaplah kamu untuk menjadi seorang penulis fiksi yang baik. Semoga bermanfaat! (Noor H. Dee)


Menyelesaikan Novelmu dalam Empat Tahapan Sederhana (bagian 1)

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Selasa, 04 Mei 2010 16 komentar

(Ilustrasi karya: Ella Dalus)

Kau harus memiliki stamina untuk mentransformasikan sebuah draft pertama yang ringan menjadi sebuah cerita dengan kekuatan yang simultan.

Gunakan empat strategi ini untuk membuat draftmu menjadi novel yang berbobot dan berkembang. Namun, sebelum itu saya akan menjelaskan siapa novelis itu: novelis adalah pelari jarak jauh yang harus memiliki stamina yang tangguh; seorang supir truk tronton antar provinsi atau pengarung samudera atau Cheng-Ho-nya di dalam samudera penulisan. Tidak ada pelari sprint, atau penulis karbitan di dalam pembuatan novel. Jika memang ada—di dalam dunia penulisan—tentunya tidak untuk novelis.

Mengapa?

Sebab permasalahannya, di dalam novel terdapat banyak karakter, terdapat banyak scene/adegan, terlalu banyak struktur cerita dan halaman yang harus dibangun, dan kalimat yang unik untuk dituliskan, bahkan ditulis ulang, direvisi, dan dipoles, dipercantik seperti sepatu kulit Edward Forrer.

Ketahanan/stamina memang merupakan kunci untuk menyelesaikan sebuah tugas. Meski demikian, stamina tidak juga menjadi faktor penentu. Karena, jika penulis novel diibaratkan sebagai sesuatu yang harus menjelajah jauh, maka pembaca novel bisa juga diibaratkan sebagai pelari maraton olimpiade.

Bayangkan, mereka harus berlari puluhan kilometer, dan ini berarti proses revisi harus seimbang dengan proses panjang yang harus mereka lakukan di dalam berlari. Proses revisi itu mesti berdarah-darah, harus berhati-hati memilih kata dan bahasa karena jika kata salah digunakan, maka kata-kata itu seperti halnya kubangan di tengah jalan yang akan mencelekai dirimu ketika kau mengendarai motor di jalan Margonda. Itulah, mengapa sudah kukatakan saudara, proses revisi itu mempertaruhkan passion, mempertaruhkan hasrat pembaca, dan tentu saja, mempertaruhkan harga diri kita, agar si pembaca mau mengikuti, berkeliling-keliling, dan masuk menjelajah tulisan kita.

Membuat novel bukanlah sebuah pekerjaan ringan. Dalam pembuatan narasinya kita harus berputar-putar, dan seperti itulah yang harus dilakukan, yakni: membuat pembaca mabuk hingga tetesan terakhir 'tinta' yang kita tuangkan. Sebagai seorang novelis, kamu tentu memerlukan strategi/teknik yang kongkret untuk menjadikan draft pertamamu menjadi kisah panjang yang bisa membuatmu berdiri tegak.

Inilah aturan-aturan yang akan membuat pembacamu tidak jatuh tertidur karena bosan, atau menyerah dan modar sebelum mereka menuntaskan bab terakhir masterpiece-mu: novelmu.

TULISKAN SELURUH DRAFT PERTAMAMU DENGAN CEPAT

Aturan pertama dalam membuat novel adalah haram untuk memfokuskan diri dengan revisi. Dalam sesi ini kamu harus benar-benar menggodam atau menghancurkan hasrat untuk merevisi yang kamu tulis. Pokoknya, tuliskan saja!

Well, jika kamu perfectionist, sok sempurna, hal ini akan menyulitkan kamu, karena proses penulisan draft pertama dengan cepat berarti mencoba memaafkan tulisanmu yang, amit-amit butut.

Cepat memang berarti kacau balau dalam pemilihan diksi, sintaks, susunan/kaidah berbahasa, tapi meski dengannya, merasa mengkhianati ego, tetap saja hal itu sebanding dengan harga yang kau bayarkan untuk membeli: mengalirnya tulisanmu dalam pembuatan draft pertama. Tidak ada jalan untuk menulis draft pertama selain menggunakan kecepatan, fast and furious seperti judul sebuah film butut. Dan sesungguhnya apa yang saya sampaikan ini sama dengan yang disampaikan film Finding Forester, menulislah dengan perasaan dan mengeditlah dengan pikiran, bukan?

Pokoknya, nih saya kasih tau nih, tulislah draft pertama seperti kecepatan peluru yang menghabiskan hidup Kurt Cobain. Menulislah seperti bergegasnya pembabat hutan saatmenggergaji kayu di belantara Kalimantan, kalau perumpamaan itu terlalu mengawang, berlarilah seperti bencong-bencong taman Lawang saat dikejar Satpolnya Fauzi Bowo. Bisakan?

Ya, ya, karakter yang kau gunakan di awal draft itu mungkin terkesan mentah, subplotmu akan terasa tidak tereksplorasi dengan baik, tapi melajulah, sebab ketika bergegas kau tidak memiliki pilihan selain mengkhatamkan sebuah garis cerita. Dengan melakukan itu, kau akan berhasil menghalau godaan-godaan untuk merevisi yang akan menyelewengkan dirimu untuk menyelesaikan draft awal novelmu (Kau bisa! Kau baru harus merevisi membuat plot, karakter yang kuat, kata-kata yang berbobot, jika draft awalmu sudah selesai).

Inilah stressing pointnya, bahwa dengan menghindarkan diri dari revisi, saat pengerjaan draft pertama maka kau tidak menyia-nyiakan waktumu. Revisi di draft awal? Oh, (maaf) peduli setan!

Pertanyaan selanjutnya, seberapa cepat yang harus kamu lakukan dalam menyelesaikan draft awal?

Tergantung kecepatan penulis. Kebiasaan alamiah saya adalah bekerja santai, tetapi saya menulis manuskrip awal dalam waktu six pack, oh... tidak, saya melantur lagi, maksudnya: saya menyelesaikan dalam waktu enam bulan. Dan kalau tujuh bulan, sepertinya akan ada ritual bid’ah yang terpaksa saya lakukan: ritual tujuh bulanan misalnya.
Oke, back to my track, saya biasanya menyelesaikan dua halaman setiap saya duduk. Dan jika kamu melakukan hal yang sama, mendedikasikan dirimu untuk menulis tanpa mengedit, maka kamu akan tekejut betapa draft awal itu bisa kau selesaikan dengan cepat.

Dan itulah waktunya untuk menulis ulang, memulainya dengan menggunakan kecanggihan otakmu (kencanggihan merevisi) untuk membawa pembaca, masuk ke dalam dunia yang kau ciptakan. Dengan merevisi, kau bisa menjadikan genit sebuah kata, membuat sebuah kalimat menjadi cantik dan seksi, menjadikan alurmu sekuat Goliath, dan menegaskan penokohan, sehingga si pembaca menjadi susah berpaling dari tulisanmu! (Divan Semesta)

Baca juga: Menyelesaikan Novelmu dalam Empat Tahapan Sederhana (bagian 2)


Apakah Esai Itu?

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Senin, 03 Mei 2010 11 komentar


Penulis : Lucile Vaughan Payne


Esai bukanlah sekadar rekaman fakta-fakta atau hasil imajinasi murni. Tulisan yang Anda buat dalam pelajaran sejarah yang dipenuhi dengan fakta-fakta yang dikumpulkan dari berbagai referensi mungkin nampak seperti sebuah esai. Namun, seberapa pun cermatnya Anda dalam menulis ulang semua fakta tersebut, meskipun dengan bahasa Anda sendiri, tulisan itu bukanlah esai. Esai juga bukan kejadian atau pengalaman yang Anda tuliskan dalam pelajaran bahasa, tak peduli betapa nyata, cerdas, menyentuh, berurutan, jelas, rinci, dan lengkapnya tulisan Anda itu.

Mungkin Anda telah membuat ratusan tulisan dalam bentuk seperti di atas dan mengumpulkan semua berdasarkan 'temanya'. Anda mungkin akan menyebutnya sebagai sebuah esai, tapi itu juga bukan esai. Jadi, apakah esai itu? Esai adalah ekspresi tertulis dari opini penulisnya.

Sebuah esai akan makin baik jika penulisnya dapat menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan, tanpa mengedepankan salah satunya. Tujuannya selalu sama, yaitu mengekspresikan opini. Esai memang bisa berbeda menurut kualitas, jenis, panjang, gaya, dan subjek. Esai juga bisa berbentuk sederhana sampai yang sangat kompleks, namun semuanya akan menunjukkan sebuah opini pribadi sebagai analisa akhir. Inilah perbedaan mendasar antara esai dengan tulisan ekspositoris atau sebuah laporan. Sebuah esai tidak hanya sekadar menunjukkan fakta atau menceritakan sebuah pengalaman; ia menyelipkan opini penulis di antara fakta-fakta dan pengalaman tersebut.

Tentu, Anda harus memiliki sebuah opini sebelum menulis esai. Hanya saja, Anda juga harus memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan opini itu, bagaimana menyampaikannya, dan bagaimana mengungkapkan nilai yang dibawanya. Sebelum mendapatkan opini, Anda harus lebih dulu menentukan subjek yang hendak ditanggapi karena opini harus berhubungan dengan subjek tertentu.

SUBJEK ESAI

Apa yang harus ditulis? Pertanyaan ini memiliki jawaban yang tidak terbatas. Anda dapat menuliskan segala jenis topik; dari persahabatan, politik, sepatu, menjual lilin, sampai esai tentang esai itu sendiri. Satu-satunya persyaratan yang harus dipenuhi adalah bahwa penulis harus cukup memahami topik tersebut sehingga ia dapat membentuk sebuah opini. Lalu, apa batasan dari 'cukup memahami' itu? Jawabannya juga tidak sulit. Sebagai manusia, seperti yang lain, kita pasti 'cukup memahami' dan akrab dengan banyak hal di sekitar kita; persahabatan, hubungan keluarga, pertumbuhan, makan, tidur, dan banyak lainnya. Tentunya semua itu dapat dipakai sebagai bahan menulis esai.

Bagaimanapun juga, 'pemahaman yang cukup' untuk menuliskan tema-tema spesifik memerlukan pengetahuan atau pemahaman akan disiplin ilmu tertentu. Kita mungkin bisa menulis sebuah esai mengenai topik seperti persahabatan tanpa perlu memberikan banyak fakta. Namun, untuk topik-topik seperti Puritanisme atau sejenisnya, tentunya kita memerlukan informasi yang dapat diuji secara 'ilmiah'. Referensi sendiri bisa didapatkan dari banyak sumber, mulai dari buku sampai media internet. Menulis tentang bidang yang sesuai dengan minat kita juga akan sangat mempermudah dan mempercepat proses penulisan itu sendiri. Karenanya, seorang yang mempunyai hobi dalam satu bidang tertentu juga dapat disebut sebagai seorang yang memiliki 'pemahaman yang cukup'. Bahkan, sekalipun kita tidak menaruh minat yang begitu besar dalam satu bidang pembahasan, kita tetap dapat menulis sebuah esai yang baik asalkan dapat mengumpulkan banyak fakta. Dengan membaca berbagai informasi yang bisa dipertanyakan, dibandingkan, atau yang dapat Anda nilai sendiri, pengetahuan tentang satu bidang baru juga akan Anda dapatkan dengan cepat.

Menulis sebuah esai yang didasari oleh pengetahuan khusus memang cenderung lebih mudah daripada menulis esai tentang hal-hal atau pengalaman yang sudah sering ditemui di sekitar kita. Berbeda dengan kebiasaan yang sering terjadi dalam sebuah opini, seorang penulis esai hendaknya tidak boleh hanya berpegang pada 'perasaan bahwa ia benar', namun lebih beranggapan bahwa 'pikiran saya benar'. Jadi, opini yang terdapat dalam sebuah esai juga harus didasarkan pada apa yang Anda pikirkan dan bukan hanya pada apa yang Anda rasakan. Yang jelas, setiap esai harus memiliki opini, dan opini yang terbaik adalah didasari oleh pikiran dan perasaan.

APAKAH OPINI ITU? BAGAIMANA ANDA MEMUNCULKANNYA?

Banyak orang yang mendefinisikan opini dengan sangat bebas. Segala prasangka, sentimen, tuduhan, dan segala jenis omongan yang tanpa dasar seringkali disebut sebagai sebuah opini. Namun, opini yang ingin disampaikan dalam sebuah esai harus memenuhi definisi sebagai berikut.

Opini: sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan yang mutlak atau pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; apa yang dipikirkan seseorang; penilaian.

Ujilah opini Anda dengan definisi di atas untuk menilai apakah Anda telah memiliki topik esai yang baik. Apakah opini tersebut didasari atas keyakinan mutlak? Atau pengetahuan yang sahih? Apakah Anda dapat membuktikan kebenarannya di atas semua keraguan yang beralasan? Jika ya, berarti itu bukan opini, tetapi fakta -- atau sebuah hasil observasi yang telah diterima secara luas sehingga menjadi sebuah fakta. Fakta harus terlebih dulu diubah menjadi sebuah opini sebelum dimunculkan dalam sebuah esai. Misalnya, fakta menunjukkan bahwa jumlah penduduk negara kita tahun ini adalah sekian ratus juta. Untuk mengubah fakta tersebut menjadi sebuah opini tugas Anda sekarang adalah menilainya. Anda bisa menilai bahwa budaya negara kita berubah karena pertambahan penduduk yang demikian cepat; atau perlunya perubahan kebijakan ekonomi yang dapat menjamin setiap warga bisa mencukupi kebutuhannya, dll. Dengan membuat sebuah penilaian/tanggapan, maka Anda telah mengubah fakta menjadi sebuah opini. Dengan demikian, Anda telah memiliki topik esai yang baik.

Namun, tidak semua opini dapat menjadi topik sebuah esai. Jika ada pernyataan 'menjalin persahabatan penting bagi hubungan antarmanusia', pernyataan ini bisa disebut opini karena tidak dapat dibuktikan secara ilmiah atau statistik. Walau demikian, pernyataan itu merupakan opini yang lemah untuk dikemukakan dalam sebuah esai karena tidak merangsang timbulnya argumen lain. Dari segi praktis, itu adalah fakta. Untuk membuatnya menarik, Anda bisa mengubahnya menjadi opini yang lebih tajam seperti 'persahabatan adalah hal terpenting bagi manusia', misalnya. Tapi cara yang lebih efektif dalam menarik minat pembaca adalah dengan mengawalinya dengan berbagai pertanyaan menantang seperti, 'apakah persahabatan antarpria lebih awet daripada wanita?' 'bisakah persahabatan yang murni terjalin antara pria dan wanita, ataukah antara orang tua dan anak?' dst.

Jika kita melihat pertanyaan-pertanyaan tersebut, pembaca mungkin bisa menjawab ya atau tidak saja. Tapi bagaimana jika Anda mengubah kata tanya tersebut dengan kata tanya yang lebih memerlukan penjelasan seperti 'mengapa', 'apakah', atau 'bagaimana'?

-Bagaimana orang tua dapat bersahabat dengan anak?
-Mengapa persahabatan antarpria lebih awet daripada antarwanita? (atau sebaliknya)
-Apakah persahabatan itu?


Makin banyak pertanyaan yang Anda ajukan pada diri Anda akan semakin baik. Setelah itu, Anda akan dapat mengenali pertanyaan yang penting dan yang tidak, yang terlalu luas dan yang terlalu sempit, dsb. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tak jarang Anda juga akan menemukan opini-opini yang belum pernah Anda sampaikan sebelumnya (artinya: Anda tidak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya Anda pikirkan). Teruslah melontarkan pertanyaan. Ketika Anda menemukan satu opini pribadi yang sangat menarik berarti Anda telah memasuki wilayah seorang penulis esai.

APA YANG MEMBUAT SEBUAH OPINI MENARIK?


Jika diminta untuk memilih sebuah opini yang paling menarik, mungkin kita akan memilih berdasarkan minat kita karena kita akan selalu dapat menulis dengan baik topik yang kita kuasai/sukai atau yang dengan gampang kita tuliskan. Namun, topik yang menarik sesungguhnya adalah yang 'bertentangan'! Jika jumlah orang yang tidak setuju dengan tulisan Anda cukup signifikan, maka bisa dipastikan pandangan Anda akan menarik perhatian. Pembaca tidak akan tertarik dengan sesuatu yang artinya memang sudah jelas dan tepat. Anda tentu boleh menuliskan hal seperti itu, namun siapa yang akan mengindahkannya?

Sebuah esai akan gagal jika tidak mempunyai argumen. Setiap analisa akhir dari esai adalah argumen. Analisa akhir itulah yang menjadi opini penulis esai tentang satu topik yang berlawanan dengan opini orang lain. Kalimat 'A lebih baik (atau jelek) dari B' adalah kalimat yang jelas akan menimbulkan argumentasi. Namun, Anda juga tak perlu harus menyatakan sejelas itu. Saat menyatakan bahwa 'balap mobil mempromosikan keamanan berkendara', berarti Anda telah berargumentasi dengan pendapat banyak orang yang menganggap balap mobil hanya akan mengakibatkan kecelakaan.

MENGUJI PERTENTANGAN


Ketika sedang membuat sebuah opini esai, usahakan agar Anda juga dapat menjawab setiap pertanyaan yang mungkin muncul dari opini yang bertentangan. Yang dimaksud dengan opini yang bertentangan tentu tidak selalu berarti berkebalikan. Jika Anda mengatakan "Animal Farm" adalah novel terbaik sepanjang masa, tentu tak akan ada orang yang cukup sembrono menyatakan "Animal Farm" sebagai novel terjelek sepanjang masa. Mungkin yang ada ialah kritik atas pernyataan Anda tersebut, yang mungkin akan mengatakan novel itu terlalu pendek, penokohannya kurang tajam, dsb. Jadi, opini yang menentang tidak selalu kebalikan dari opini Anda. Yang jelas akan ada perbedaannya.

Dengan mempertimbangkan secara seksama kemungkinan pertanyaan ini, mungkin pikiran dan opini Anda akan berubah. Bagus! Anda masih memiliki opini, walau mungkin telah berubah. Opini baru itu tentu akan lebih kuat dari sebelumnya. Atau meski opini awal Anda tetap yang paling kuat, dengan menguji berbagai kemungkinan pertentangan ini, Anda akan mendapat lebih banyak ide untuk mempertahankan pendapat Anda.

Meski demikian, opini hanyalah sebuah pendapat pribadi tentang kebenaran. Anda tidak bisa mengharapkan opini esai Anda menjadi bukti ilmiah. Tujuan Anda adalah untuk meyakinkan, bukan membuktikan. Kekuatan esai Anda diukur dari keberhasilannya meyakinkan pembaca. Setiap opini esai Anda pada akhirnya dapat diuji kekuatannya dengan dua pertanyaan berikut.

1. Bisakah sebuah argumen yang valid dibuat untuk menentangnya?
2. Bisakah saya mempertahankan pendapat melawan argumen tersebut?

Jika keduanya Anda jawab "ya" berarti Anda sudah boleh lega dan yakin bahwa Anda telah berhasil membuat esai yang menarik.

PERCAYA PADA APA YANG ANDA KATAKAN

Topik sebuah esai memang harus berupa argumen. Namun, argumen tersebut harus jujur dan cerdas. Anda memang boleh mengemukakan opini yang berlawanan dengan pendapat banyak orang. Namun, menyatakan sebuah opini berani hanya untuk menarik perhatian adalah tindakan yang konyol. Lebih buruk lagi, tindakan itu menunjukkan suatu ketidakjujuran. Anda mungkin bisa berhenti melakukan tindakan konyol, namun ketidakjujuran tidak bisa diobati. Kejujuran adalah hal terpenting karena ketidakjujuran dalam esai akan segera tercium oleh pembaca. Jadi, selalulah percaya pada apa yang Anda katakan, walau sekali lagi ini bukan berarti Anda harus reaktif menolak semua pendapat yang menentangnya. (t/ary)

Bahan diterjemahkan dan diedit (dengan beberapa penyesuaian konteks perkembangan zaman) dari:

Buku : The Lively Art of Writing
Penulis : Lucile Vaughan Payne
Judul Artikel : What is An Essay?
Penerbit : Follett Publishing Company, 1965
Halaman : 13-22


Kurnia Effendi: "Semua buku bagi saya berkesan"

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Rabu, 02 Desember 2009 1 komentar


Assalamualaikum. Apakabar, Mas Kef?
Kabar baik. Semoga Anda juga selalu dalam lindungan Tuhan.

Sedang sibuk apa sekarang?
Sibuk macam-macam. Kalau di kantor, karena saya berada di bawah payung Pengembangan Showroom ya tentu membantu para dealer melakukan standarisasi showroom Suzuki mobil. Kadang-kadang keluar kota untuk survei atau site meeting.

Kalau urusan tulis menulis, saat ini masih konsentrasi dengan novel sejarah yang saya garap bersama Iksaka Banu. Namun tak henti juga menulis kolom untuk Indonesia Energy Watch, permintaan cerpen dari majalah remaja, menyiapkan novel cinta, dll.

Untuk komunitas, saya sedang membantu terbentuknya yayasan seni budaya. Selain itu, sebagai Ketua Asosiasi Penulis Cerita, sedang menyiapkan beberapa program, di antaranya “Gerakan Menuju 100 Buku ANITA”. Kami sedang bergegas menerbitkan buku, meminta agar setiap anggota minimal menerbitkan satu buku di tahun 2009, untuk dipamerkan nanti pada ultah asosiasi 15 Februari 2010. Kemudian, ada juga wadah untuk para komunitas berunjuk sastra di Jakarta Timur, namanya Kedailalang. Gagasan dari Saut Poltak Tambunan dan beberapa teman yang lain ini berlangsung Sabtu malam kedua setiap bulannya.

Kira-kira sudah berapa tahun Mas Kef menggeluti dunia tulis-menulis?
Menulis dari SD, jadi sudah lama sekali. Tetapi menulis untuk publik mulai 1978. Cerpen dan puisi pertama dimuat di majalah Gadis, Aktuil, dan koran Sinar Harapan. Selanjutnya saya gemar mengikuti sayembara cerpen dan puisi, menghasilkan sekitar 30 penghargaan, 8 di antaranya juara pertama.

Apakah Mas Kef pernah merasa bosan menulis? Jika pernah, apa yang Mas Kef perbuat untuk mengatasi hal tersebut?
Selayaknya semua pengarang, tentu pernah bosan menulis. Biasanya saya seling dengan kegiatan lain, misalnya menonton film, mendengarkan musik, menggambar, traveling, silaturahmi dengan teman-teman. Biasanya lantas muncul gagasan-gagasan baru dan kembali rindu menulis.

Apa yang terus memotivasi Mas Kef untuk terus menulis sampai sekarang?
Rasa berutang jasa, itulah motivasinya. Saya telah menyerap banyak pengetahuan dan wawasan dari para penulis pendahulu saya. Dengan apa saya membalas budi baik pencerahan itu jika tidak dengan menulis? Tulisan saya merupakan balas jasa kepada generasi berikutnya. Jadi akhirnya menulis itu seperti kebutuhan sebagai ucapan terima kasih.

Kira-kira, pada tahun berapa tulisan Mas Kef dimuat di media? Cerpen, novel, atau tulisan non fiksi? Bagaimana perasaan Mas Kef saat itu?
Sudah saya sampaikan di depan, bahwa tulisan saya di media pertama kali tahun 1978. Tentu merasa sangat bahagia dan memicu untuk membuat tulisan berikutnya.

Siapa sih penulis favorit Mas Kef?
Sebenarnya banyak penulis favorit saya. Katyusha, misalnya, penulis tahun 80-an yang cerpen dan cerbernya dimuat (hanya) di majalah HAI. Budi Darma, terutama untuk novel Olenka yang menurut saya materpiece beliau. Arswendo Atmowiloto oleh produktivitas dan kreativitasnya; saya sangat menyukai The Circus, novelnya yang luar biasa di masa lalu. Alistair MacLean, pengarang yang memesona untuk saya di kala muda. Dan beberapa lagi.

Buku bacaan yang paling membuat Mas Kef berkesan sampai sekarang?
Polong Saga Retak (Katyusha), Olenka (Budi Darma), Wanita (Paul I Wellman), Mimpi-Mimpi Einstein (Alan Lightman)

Bagaimana tanggapan Mas Kef dengan copy the master?
Apa ya maksudnya? Mencontek? Epigonisme? Plagiarisme? Bagi saya, terpengaruh pengarang senior itu sudah lazim. Hampir setiap pengarang demikian. Saya pun terpengaruh gaya Katyusha, Alistair, Budi Darma, Arswendo. Terinspirasi boleh saja. Epigon sulit dihindari, namun lambat laun seorang pengarang akan menemukan jati dirinya. Plagiat jangan sampai terjadi, itu tabu bagi saya.

Sudah berapa judul buku yang Mas Kef tulis? Judulnya apa saja?
Banyak sekali. Puisi tentu lebih dari 2000 judul. Buku sudah 11 buah. (Kartunama Putih, Senapan Cinta, Bercinta di Bawah Bulan, Aura Negeri Cinta, Kincir Api, Selembut Lumut Gunung, Burung Kolibri Merah Dadu, Interlude-Jeda, Four Fingered Pianist, Merjan-Merjan Jiwa, dan Kakawin Gajah Mada). Cerpen mungkin lebih dari 100 judul, termasuk cerita anak-anak.

Di antara semua buku yang sudah Mas Kef tulis, adakah yang paling berkesan bagi Mas Kef?
Semua buku bagi saya berkesan, terutama karena proses penciptaannya.

Untuk membuat satu cerpen, biasanya Mas Kef menghabiskan waktu berapa lama?
Sangat bervariatif. Ada yang 2 jam selesai, ada yang berbulan-bulan. Yang lama selesainya tentu karena diputus oleh kesibukan lain dan terlupakan. Umumnya sih beberapa hari.

Pernah mengalami writer’s block? Apa yang Mas Kef lakukan untuk mengatasi hal tersebut?
Kita sebagai pengarang harus belajar dua hal: (1) Menciptakan mood (bukan menunggu mood), dan (2) Menikmati disiplin (bukan menulis kalau sedang ingin saja).

Dalam sebulan, Mas Kef membaca berapa buku? Buku apa yang saat ini sedang Mas Kef baca?
Tidak tentu jumlahnya. Saya membaca buku cepat saat dipesan untuk resensi. Kalau untuk keperluan pribadi bisa berminggu-minggu, karena selalu tergoda membaca judul yang lain, atau tergoda untuk menulis. Jika saya memiliki waktu hanya dua jam, saya justru memanfaatkannya untuk menulis ketimbang membaca.

Mengingat Mas Kef bekerja di perusahaan otomotif, bagaimana Mas Kef menyiasati waktu untuk menulis?
Berusaha tiap hari menulis walau sebentar. Saat malam setelah selesai semua kegiatan menyisihkan waktu sejam dua jam untuk menulis. Saat kepagian tiba di kantor, masih sempat menulis barang setengah jam sampai 1 jam.

Bagi Mas Kef, arti menulis itu apa, sih?
Menulis awalnya hak buat saya sebagai seorang yang mendapatkan ide. Namun kini menulis adalah kewajiban saya karena selekas mungkin saya harus berbagi kepada orang lain (pembaca)

Apa yang Mas Kef dapatkan dari menulis?
Kepuasan batin, tentu saja. Kepopuleran (mau tak mau). Uang (jika suatu saat jadi profesi tunggal)

Sebelum menulis, bianya apa saja yang Mas Kef persiapkan?
Saya tidak pernah menyiapkan peranti secara khusus untuk menulis. Tentu saja menyalakan lap top (kalau dulu ya membuka mesin ketik). Selanjutnya ya langsung menulis. Khusus untuk novel sejarah yang sedang kami garap, kadang-kadang membuka buku-buku referensi atau googling.

Ada tidak tulisan Mas Kef yang sampai sekarang tidak selesai-selesai?
Ada, dong. Karena saya menulis dimulai dengan judul, banyak judul yang masih terbengkalai. Selain itu, novel sejarah yang saya tulis berdua itu telah hampir 10 tahun tidak kelar-kelar.

Pertanyaan terakhir, kira-kira sampai kapan Mas Kef terus menulis?
Sampai tak sanggup lagi menulis. Cita-cita saya, setelah pensiun dari pekerjaan formal, ingin total menulis.

Oke, terimakasih banyak Mas Kef atas jawaban yang sudah diberikan. Semoga Mas Kef selalu diberi kesehatan. Aamiin. Wassalamualaikum...
Alhamdulillah amin. Terima kasih juga. Sampai jumpa.



5 Langkah Sederhana untuk Memulai Sebuah Cerita

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Minggu, 29 November 2009 2 komentar

Untuk memulai sebuah tulisan (cerita) memang tidak segampang menyibak gorden jendela. Malah banyak yang bilang bahwa memulai sebuah tulisan itu sulitnya bukan main. Itu bisa dibuktikan jika kita menghadiri acara workshop kepenulisan. Di saat sesi tanya-jawab, pasti ada saja seseorang yang mengangkat tangan kanannya untuk kemudian bertanya, “Bagaimana sih caranya memulai sebuah tulisan?” Padahal, kalau dipikir-pikir, buku-buku tentang kepenulisan itu sudah banyak yang diterbitkan. Arswendo sudah menulis Mengarang itu Gampang, A.S Laksana juga sudah membuat buku Creative Writing, dan masih banyak lagi buku-buku yang serupa dengan itu, tapi—apa boleh buat—sepertinya permasalahan tentang mengawali sebuah tulisan itu memang tidak akan pernah hilang sampai kiamat datang (hehe. Lebay!).

Baiklah, untuk menghindari kalimat basa-basi, di bawah ini akan saya paparkan lima langkah sederhana dalam memulai sebuah tulisan (cerita). Here we go!


1. Mulailah dengan Dialog
“Hanun, pergilah ke rawa di seberang Bukik Barisan. Biasanya di sana tumbuh aneka bunga. Petiklah setangkai dua tangkai untukku. Rasanya, penat ini terlerai bila memandang bunga-bunga,” pinta Kakek. Matanya mengedip-ngedip pelan, kulit lisutnya mengernyit dan lewat sorotan matanya, Kakek tidak lagi seriang dulu. (Bunga dari Peking, cerpen Zelfeni Wimra)

2. Mulailah dengan Deskripsi Tokoh
Lelaki tua itu masih berbau rusa dan kaus oblongnya yang lusuh masih menebar bau pembakaran yang tidak sempurna. Sangit.... (Kitab Salah Paham, cerpen Puthut EA)

3. Mulailah dengan Berita di Koran atau Televisi
Jumlah anak balita kurang gizi di Indonesia sekitar 23 juta. Dampak kurang gizi adalah terhambatnya pertumbuhan otak dan fisik. Begitu melewati usia dua tahun tanpa asupan gizi seimbang, kondisinya tak dapat diperbaiki lagi. Citra CT-scan akan memperlihatkan gambar otak yang tidak padat alias otak kosong.... Bersiaplah memanen generasi yang hilang. Tidak lama, cuma dua dasawarsa lagi. (Kompas, Selasa 11 Oktober 2005)

Rombongan sirkus itu muncul ke kota kami....
(Sirkus, cerpen Agus Noor)

4. Mulailah dengan Adegan
Ia menulis puisi panjang di depan sebujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata; mati, kematian dan airmata di dalam puisi itu, yang adalah buah apel, meja makan, dan yang paling banyak adalah: usaha mati-matian. (Kematian Seorang Istri, cerpen Puthut EA)

Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappucino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya. (Rembulan dalam Cappucino, cerpen Seno Gumira Ajidarma)


5. Mulailah dengan Seting Tempat

Dalam satu badai rasa jemu, ia terdampar di taman dan duduk di kursi sambil memakan jagung rebus begitu perlahan, sebutir demi sebutir, seolah di butir terakhir ia akan bertemu kematian.... (Cinta Tak Ada Mati, cerpen Eka Kurniawan)

Dari jauh sudah terlihat pohon itu berdiri tegak di tengah padang. Setelah berhari-hari menempuh daerah yang kering kerontang dan terpanggang matahari, pemandangan yang rimbun seperti itulah yang sekarang kubutuhkan.... (Sebatang Pohon di Tengah Padang, cerpen Seno Gumira Ajidarma)

Selesai! Sebenarnya masih banyak lagi tips untuk memulai sebuah cerita. Tapi, di sini saya hanya menampilkan lima cara saja dulu. Cara yang lumayan sering digunakan dan insya Allah mudah dipelajari. Silakan teman-teman coba semuanya, satu persatu. Dengan kita menguasai beberapa cara mengawali tulisan (cerita), semoga kita semua terhindar dari pembukaan cerita yang klise dan sudah ketinggalan zaman seperti, “Pada suatu hari....”, atau “Matahari pagi bersinar indah sekali....


Oke, terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini sampai selesai. Semoga bermanfaat. Jika kalian ada masukan, tulis komentar di bawah, ya. Senang jika kita bisa berbagi.

Salam,


Ilustrasi: Karya Ester Garcia Cortes)


Tanya-Jawab Seputar Menulis Buku Anak

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Kamis, 19 November 2009 8 komentar

Aku ingin jadi penulis buku cerita anak. Tapi aku tidak punya background, aku bukan siapa-siapa dan tidak kenal siapa-siapa. Bisa nggak, ya?

Siapa saja bisa jadi penulis asal memang ada keinginan. Akan ada banyak orang yang menolong kita sepanjang perjalanan kita. Penerbit, editor, illustrator, dll. Jadi memang hanya modal mau saja.

Bagaimana cara cari tahu tentang penerbit? Aku nggak kenal penerbit satu pun!
Tinggal pergi ke toko buku, lihat buku-buku yang ada. Catat alamat dan kontak dari penerbit-penerbit (tertulis di dalam sampul buku atau di back cover). Perhatikan selera dari masing masing penerbit. Teliti penerbit A biasa menerbitkan buku seperti apa, penerbit B seperti apa, dll.

Kalau nggak kenal memang boleh langsung ngirim naskah?
Boleh banget! Langsung saja kirim. Jangan lupa satu minggu setelah kirim, cek apakah memang naskah sudah tiba dengan selamat. Jangan sampai sudah menunggu 3 bulan ternyata naskah tidak sampai.

Kalau mau bikin buku anak bergambar, yang dikirim apa, ya? Teks saja, atau beserta gambar atau gimana? Terus kalau aku nggak bisa gambar gimana?
Biasanya yang aku lakukan adalah mengirimkan teks dan contoh gambar dari beberapa illustrator. Illustrator yang disukai penerbit yang akan dipilih. Ada juga penerbit yang punya in house/rekanan illustrator sendiri. Tapi tetap saja kita boleh merekomendasikan illustrator. Alasan kenapa aku tidak pernah langsung mengirimkan teks beserta gambarnya: selera penerbit berbeda-beda, kita tidak tahu illustrator mana yang mereka sukai dan gambar tidak bisa dibuat sebelum mengetahui ukuran buku dan yang lebih penting lagi, konsep buku juga harus digodok dulu.

Aku nggak kenal illustrator. Gimana, dong?
Aku dulu pasang iklan lowongan di kampus-kampus dan juga pasang iklan di milis. Juga bisa minta dikenalin oleh penulis lain atau jika kenal satu saja illustrator, bisa merembet ke teman-temannya. (Jika perlu, aku bisa kenalkan ke beberapa, di milis Pembaca Buku Anak ini juga banyak anggota teman teman illustrator)

Siapa yang membayar illustrator?
Ini bisa banyak arrangement. Bisa penerbit yang bayar, bisa penulis yang bayar, bisa juga bagi royalty antara penulis dan illustrator.

Berapa sih fee illustrator?
Beragam banget. Tergantung senioritas illustrator dan tergantung gambar manual atau komputer. Basically tergantung nego. Rangenya antara Rp 40,000–Rp 120,000 per halaman (mungkin ada juga yang di luar range itu).

Terkadang ada penerbit yang menawarkan untuk beli putus atau sistem royalty. Sebaiknya pilih yang mana?
Positifnya dari beli putus: uang diterima di depan dan jumlahnya pasti.
Negatifnya dari beli putus: jika cetak ulang atau license rights dibeli oleh penerbit luar negeri, nggak dapat lagi.
Positifnya dari royalty: jika cetak ulang atau rights dibeli oleh penerbit luar negeri, tetap dapat bagian.
Negatif dari royalty: uang diterima belakangan (setelah ada penjualan) dan jumlahnya tidak pasti (tergantung penjualan).
Setiap orang punya kondisi yang berbeda, jadi masing-masing yang harus menimbang semua positif dan negatif dan menetapkan mana yang ia akan ambil.

Berapa lama sih waktu tunggu kabar apakah naskah kita diterima atau ditolak?
Beragam sekali! Pengalamanku rangenya di antara 24 jam dan lebih dari satu tahun!

Boleh nggak sih kontak ke penerbit untuk nanya-nanya apakah naskah kita diterima atau tidak. Apakah mengganggu?
Boleh asal tidak terlalu sering. Pertama mengirim, pastikan bahwa naskah sudah tiba dengan selamat. Jika dibilang waktu review adalah 3 bulan, 3 bulan kemudian boleh menanyakan. Jika belum ada kabar, tanyakan sebulan sekali.

Boleh nggak ngirim naskah yang sama ke lebih dari satu penerbit yang berbeda?
Sebaiknya jangan, tapi ada juga beberapa penerbit yang memperbolehkan itu. Sebaiknya tanya ke penerbitnya apakah itu diperbolehkan. Tapi sebaiknya tulis saja lebih banyak cerita, supaya punya cukup bahan untuk disebar ke banyak penerbit.

Aku sudah mengirim berkali-kali, tapi ditolak terus. Gimana, dong?
Kirim lagi! Serius! Karena penolakan naskah itu bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa penerbit sudah penuh jadwal terbitnya untuk tahun itu, bisa naskahnya bukan tipe yang sedang dicari penerbit. Naskah dan penerbit itu jodoh-jodohan. Pernah aku mengirim naskah A ke penerbit X dan naskah B ke penerbit Y, dua-duanya ditolak. Lalu aku coba kirim naskah A ke penerbit Y dan naskah B ke penerbit X (kutukar), dan dua-duanya langsung diterima. Jadi tetap kirim naskah yang ditolak ke penerbit lain, dan kirim naskah lain lagi ke penerbit yang baru menolak (jadi penting untuk rajin menulis untuk punya stok naskah). Juga rajin-rajin ke toko buku untuk melihat “selera” dari masing-masing penerbit.

Ide suka buntu. Gimana dong caranya supaya dapet ide?
Untuk buku anak, yang paling manjur adalah sering-sering bermain dengan anak. Masuklah ke dalam kehidupan mereka. Selain dari itu, sering-seringlah bermimpi. Juga baca buku yang banyak (tidak hanya buku anak).

Nb: FAQ ini ditulis oleh Mbak Arleen Amidjaja—penulis buku anak, yang saya copas dari milis Pembaca Buku Anak (penulis-bacaan-anak@yahoogroups.com). Semoga bermanfaat, ya!

Salam,

(Ilustrasi: Karya Ester Garcia Cortes)


Revisi atau Mati

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Minggu, 15 November 2009 0 komentar

Dalam dunia kepenulisan, revisi adalah hal yang tidak bisa kita abaikan. Untuk bisa menciptakan tulisan yang bagus, tentu kita jangan pernah sungkan untuk melakukan revisi. Penulis yang baik adalah penulis yang tidak takut untuk merevisi tulisannya yang bahkan sudah selesai.

Namun, seperti apa sih kegiatan merevisi itu? Apa bedanya dengan mengedit? Dalam dictionary.com disebutkan bahwa revisi adalah: to alter something already written or printed, in order to make corrections, improve, or update: to revise a manuscript. Merevisi artinya mengubah sesuatu yang sudah ditulis atau dicetak, dalam rangka untuk melakukan koreksi, memperbaiki, atau memperbarui. Editing adalah bagian dari revisi, tapi editing tidak sampai mengubah substansi dari sebuah tulisan, sedangkan merevisi itu kadang harus menulis ulang sebuah tulisan yang sudah selesai! Oh, tidak! Hehehe....

Seperti ketika sedang menulis puisi, misalnya, tentu kita sering menganggap bahwa puisi adalah sesuatu yang sakral, yang tidak boleh kita ubah sama sekali. Kalau puisi itu kita revisi, kita merasa berdosa sekali, dan puisi tersebut kita anggap sudah tidak suci lagi. Padahal, untuk membuat puisi yang bagus pun kita harus tetap melakukan revisi. Puisi bukan kitab suci, jadi jangan takut untuk merevisi demi mendapatkan hasil yang bagus dan berkualitas.

Sebagai contoh, saya pernah menulis puisi seperti ini:
Adakah yang lebih tidak tahu diri dari duri yang
tertancap di telapak kaki ketika kita sedang berlari? Adakah yang lebih duri dari kalimat caci yang meluncur dari bibir seorang kekasih ketika kita sedang bersedih?
Dan, adakah yang lebih caci dari hidup yang tak pernah menjanjikan apa-apa selain mati?
Kata tertancap di puisi tersebut dikritik oleh teman saya yang kebetulan adalah seorang penyair. Teman saya itu memberi saran agar kata tertancap diganti dengan kata menancap, demi mendapatkan efek psikologis pembaca. Setelah itu, saya pun merevisi puisi tersebut menjadi seperti ini: Adakah yang lebih tidak tahu diri dari duri yang menancap di telapak kaki ketika kita sedang berlari? Begitulah. Jika kita ingin membuat tulisan yang bagus, revisi adalah hal yang tidak boleh kita tinggalkan.

Minta Pendapat Teman
Sebagai penulis pemula, terkadang kita tidak bisa melihat kelemahan yang terdapat di dalam tulisan kita. Kita merasa tulisan kita baik-baik saja. Jadi, ketika ingin merevisi, kita sering bertanya-tanya dalam hati: “Apanya yang harus direvisi?” Untuk menghindari pertanyaan seperti ini, ada baiknya kita berbagi dengan teman dekat kita yang sesama penulis. Kita serahkan tulisan kita kepada mereka dan mintailah pendapatnya. “Gue baru buat cerpen, nih, tolong dikomentarin, dong!” Biasanya, dengan cara seperti itu, kita akan mengetahui kelemahan-kelemahan tulisan kita. Entah itu penokohannya yang flat (datar), terlalu banyak pengulangan kata, deskripsi setingnya yang tidak tergarap dengan baik, dialog yang terlalu kaku, banyak adegan-adegan yang tidak perlu, anakronisme, dan lain sebagainya. Setelah mendapat masukan seperti itu, tentu kita akan mendapatkan sedikit kemudahan ketika ingin melakukan revisi.

Saya juga sering melakukan hal seperti itu. Setelah selesai membuat tulisan, biasanya saya akan minta komentar dan masukan dari teman saya. Siapa tahu saja ada beberapa hal yang terlewat dari pengamatan saya. Setelah mendapatkan masukan, saya akan merevisi tulisan saya tersebut.

Jangan Pernah Malas
Jika kita malas merevisi, tentu karya-karya kita tidak akan bisa tergarap dengan maksimal, padahal karya kita itu memliki potensi yang besar untuk menjadi sebuah karya yang bagus. Dengan malas merevisi, itu artinya kita tidak peduli dengan nasib tulisan kita. Biarin ajalah, yang penting sudah jadi! Jika demikian, adalah wajar jika tulisan-tulisan kita nanti akan menjadi tulisan yang tidak menarik. Jangan jadi penulis yang egois. Jika ada masukan yang bermanfaat, ambillah. Jika menemukan kejanggalan dalam tulisan kita, ubahlah. Dengan kita melakukan revisi, tulisan kita akan menjadi tulisan yang bagus dan berkualitas. Wallahu alam.

Akhirul kalam, teruslah menulis dan jangan lupa merevisi! Jika ada masukan, bisa kalian share di kotak komentar di bawah ini. Terimakasih.

Wassalam,


*Ilustrasi: Karya Ella Dalus


Writer’s Block Dilarang Masuk!

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Senin, 09 November 2009 10 komentar

Kita pasti pernah mengalami kebuntuan dalam menulis, atau bahasa kerennya writer’s block. Namun, apa sih writer’s block itu? Ada yang bilang bahwa writer’s block adalah kutukan. Bahkan ada pendapat lain yang mengatakan bahwa writer’s block itu cuma mitos. Tapi, hampir semua orang pasti pernah mengalami hal seperti ini: duduk di depan layar komputer, jari-jari sudah gatal untuk segera menekan tuts di keyboard, dan segala macam gagasan berkelindan di dalam tempurung kepala. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Tak ada satu kata pun yang lahir. Ide tak juga kunjung mewujud. Dan, tentu saja, layar itu tetap saja kosong.

Writer’s block bisa dibilang misterius. Ia datang secara tiba-tiba tanpa pernah kita duga. Kadang ia datang dari awal ketika kita ingin menulis, sehingga membuat kertas atau layar komputer kita tetap saja kosong dari awal sampai akhir. Kadang ia datang di saat tulisan kita sudah lumayan banyak, sehingga kita sudah seperti pengendara motor yang sedang kehabisan bensin, mogok ditengah jalan tanpa bisa melakukan apa-apa. Bahkan ia juga pernah datang di saat-saat terakhir ketika tulisan kita sedikit lagi akan selesai. Bisa dibayangkan betapa menjengkelkannya jika hal tersebut terjadi oleh kita.

Mengapa Writer’s Block Bisa Terjadi?
Hernowo, penulis buku Mengikat Makna Update, pernah mengatakan bahwa faktor penyebab terjadinya writer’s block itu ada banyak. Di antaranya adalah: pertama, miskin bahasa atau kata-kata. (Punya banyak ide, tapi tak bisa dikeluarkan karena kata-kata yang tersimpan di dalam diri tak bisa menampung ide-ide hebat tersebut). Kedua, tak memiliki topik yang mengesankan (bermakna) untuk ditulis. Kita sudah kepengin atau kebelet menulis, komputer sudah dinyalakan, tapi yang mau kita tulis tidak menggairahkan diri kita, ya, akhirnya nggak ada yang bisa dikeluarkan dari diri kita. Ketiga, tidak berani dan enggan mencicil menulis. Sebenarnya kalau kita mau pelan-pelan mengeluarkan bahan-mentah tulisan, nggak ada yang namanya writer’s block itu. (baca Tentang Writer's Block, yang dimuat di Mizan.com).

Bagaimana Mengatasi Writer’s Block?
Bagi Eka Kurniawan, penulis novel Cantik itu Luka dan Lelaki Harimau, fenomena writer’s block serupa seorang pejalan yang terjebak di tengah belukar. Belukar itu bisa merupakan rumpun yang belum terjamah, bisa pula merupakan belantara jalan raya yang tanpa petunjuk. Untuk mengatasinya cukup sederhana, yaitu kita harus kembali lagi dari awal dan pertanyakan kembali apa tujuan kita menulis. Kata Eka Kurniawan, “Saya harus tahu mengapa saya masuk ke belukar tersebut: mengapa saya menulis sesuatu. Saya juga harus tahu apa yang harus saya bawa untuk membabat belukar, saya harus tahu segala yang diperlukan untuk menuliskannya. Dan saya tak akan terjebak selamanya di dalam belukar, jika saya tahu kemana arah yang hendak saya tuju: kemana saya ingin membawa tulisan saya.” (baca Writer’s Block, Bagian 1: Jalan Belukar yang dimuat di ekakurniawan.com).

Secara ringkas, mungkin tips-tips untuk menghindari writer’s block bisa saya paparkan sebagai berikut:

Tentukan Ide
Ini sangat penting. Ibarat ingin pergi ke suatu tempat, kita mesti tahu dulu tujuan kita. Kalau tidak, bisa-bisa kita bingung dan diam di tempat, atau paling buruknya kita akan tersesat. Itu sebabnya, sebelum menulis, kita mesti tahu dulu apa sih sebenarnya yang ingin kita tulis.

Write About what You Know
Ya, untuk seorang penulis pemula, sepertinya rumus “tulislah apa yang kamu tahu” itu memang bisa dijadikan sebagai panduan. Kadang kita memang selalu ingin menulis segalanya. Tentang mimpi, tentang nuklir, tentang seorang anak yang mengidap penyakit dislexia, tentang revolusi Perancis, tentang anarkis di Spanyol, tentang konspirasi sekte Mason Bebas, tentang si Google Guys Larry Page dan Sergey Brin, tentang penduduk asli Badui dalam, tentang sejarah Batavia, tentang Batik, tentang silsilah Nyi Roro Kidul, dan lain sebagainya. Semuanya ingin kita tulis, seolah-olah hidup kita sebentar lagi akan selesai. Padahal pengetahuan kita akan itu semua tidaklah terlalu banyak, bahkan bisa dibilang amat sedikit. Itu sebabnya, ketika kita ingin menulis sesuatu yang tidak kita tahu, writer’s block pasti akan datang menyapa kita. Waspadalah! Waspadalah!

Cari Data
Jika kita tetap ngotot untuk menulis cerpen atau novel tentang—misalnya—konspirasi sekte Mason Bebas, padahal pemahaman kita akan hal itu sangatlah sedikit, apa boleh buat, kita harus cari data yang banyak. Kita bisa searching di google.com dan cari sebanyak-banyaknya situs yang membahas tentang tema yang ingin kita tulis. Kita ketikkan saja kata kunci seperti Freemason, Zionis, Teodor Herzl, Kabala, Talmud, dan lain semacamnya. Atau mungkin bisa juga kita baca buku-buku yang membahas tentang permasalahan tersebut. Catat segala hal yang menurut kita penting. Insya Allah, dengan banyaknya data yang kita punya, writer’s block akan mudah diatasi.

Paragraf Pertama Begitu Menggoda
Buatlah paragraf pertama yang bagus—setidaknya bagus menurut kita. Sebab, paragraf pertama yang bagus bisa menyemangati kita untuk membuat paragraf-paragraf yang berikutnya. Gairah kita akan menjadi semakin terpacu. Sebaliknya, jika paragraf pertamanya sudah jelek, kita tentu jadi malas untuk membuat paragraf yang berikutnya. Itu sebabnya, menurut saya, paragraf pertama adalah unsur yang sangat penting dalam memulai sebuah tulisan. Seperti yang sudah kita tahu bersama, bahwa Gabriel Garcia Marquez butuh waktu yang sangat lama hanya untuk membuat paragraf pertama, dan setelah paragraf pertama sudah selesai, maka ia akan menulis terus tanpa bisa dihentikan.

Untuk membuat paragraf pertama yang bagus, tentu saja kita harus banyak berlatih. Kita bisa membaca tulisan-tulisan para penulis yang—katakanlah—sudah senior. Kalau perlu, tiru saja sampai sama persis. Setelah itu kita modifikasi dengan gaya kita. Tambal-sulam dengan kalimat-kalimat yang kita punya. Jangan khawatir, tindakan copy the master bukanlah tindakan kriminal. Bahkan penulis yang sudah terkenal pun pernah melakukan hal yang demikian. Saat ini kita sedang tidak berbicara tentang plagiat dan orisinalitas. Saat ini kita sedang belajar menulis. Itu saja.

Macet di Tengah Jalan?
Kalau ditengah jalan tiba-tiba tulisan kita macet, sabar dan tidak usah panik. Barangkali memang sudah saatnya kita untuk berhenti sejenak. Seduh kopi dulu jika kita memang pecandu kopi. Kalau perlu rebus indomie dulu, sebab siapa tahu saja kita sedang lapar. Tapi sejenak saja, jangan lama-lama. Takutnya nanti kita malah tercerabut dari tulisan kita. Sebab writer’s block sering juga terjadi karena hal ini. Ketika kita rehat terlalu lama, dan ketika kita mencoba untuk menulis kembali, tiba-tiba saja kita jadi bingung untuk melanjutkan tulisan kita itu. Feel kita jadi berbeda. Segala yang kita rasa jadi tak sama. Kita seolah-olah harus memulai lagi dari awal. Hufff..... Kalau terjadi seperti ini, kita bisa membaca tulisan kita itu dari awal, resapi setiap kalimat yang sudah kita tulis, rasakan segala rima yang sudah kita ciptakan, sampai akhirnya feel kita kembali seperti semula dan semangat kita kembali menyala.

Menemukan Jalan Buntu? Turn Off Your Computer!
Jika tulisan kita benar-benar macet dan seolah-olah kita seperti terjebak di jalan buntu dan kita tidak bisa bergerak kemana-mana, padahal segala daya dan upaya sudah kita kerahkan, mungkin memang sudah saatnya untuk segera mematikan layar komputer kita atau menutup buku tulis kita. Buka pintu kamar, dan bermainlah keluar rumah. Tak usah terlalu dipaksakan, yang penting kita sudah berusaha. Sebab, segala sesuatu yang terlalu dipaksakan itu tidak baik. Apa pun itu. Pergilah keluar rumah dan saksikanlah segala peristiwa yang terjadi di sekitar kita: sekumpulan bocah bermain kejar-kejaran, seekor kucing mengeong di pinggir jalan, tukang sayur sedang berjualan, dan lain sebagainya. Semoga saja dengan menyaksikan segala hal yang terjadi di sekeliling kita, energi menulis kita menjadi terpompa kembali. Dan jalan buntu yang semula menghadang kita, akan dengan mudah kita hancurkan.

Sepertinya sekian dulu tulisan ini saya buat. Semoga bermanfaat. Jika kalian memiliki tips-tips yang terlewat oleh saya, alangkah baiknya jika kita saling berbagi. Selamat menulis!

Salam,


*Ilustrasi Karya: Ella Dalus


Eka Kurniawan: Aku tak merasa menulis sebagai beban.

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On 1 komentar

(Poto saya copas dari wikipedia.org)

Sebelumnya saya agak nervous juga ketika ingin mewawancara Eka Kurniawan. Bukan apa-apa, Eka Kurniawan adalah penulis yang karya-karyanya sering diperbincangkan banyak orang, tulisan-tulisannya (baik cerpen maupun essai) pernah muncul di media-media nasional, bahkan salah satu novelnya yang berjudul Cantik Itu Luka telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan judul Bi Wa Kizu. Dengan rekam jejak seperti itulah akhirnya saya menganggap bahwa Eka Kurniawan adalah sosok yang sudah berada jauh di atas saya, mengawang-awang seperti awan dan tentu sulit sekali untuk dijangkau. Lagi pula, mengingat sindikat penulis hanyalah situs kecil dan tidak seperti situs-situs kepenulisan lainnya yang bisa dibilang sudah mapan, saya semakin merasa kecut. Namun, dengan agak sedikit nekad dan berpikir positif bahwa wawancara ini adalah untuk kebaikan, maka saya memberanikan diri mengajukan permohonan untuk melakukan wawancara kepada beliau. Alhamdulillah, dengan sangat baik hati beliau menerima permohonan saya dengan tangan terbuka. Maka, simaklah percakapan saya (Noor H. Dee) dengan Eka Kurniawan via e-mail di bawah ini. Semoga bermanfaat. Welcome to the show. Cheers!

Assalamualaikum. Apa kabar, Mas Eka? Sedang sibuk apa sekarang?
Kabarku baik. Kesibukanku: menyelesaikan novel ketiga yang sudah kukerjakan sejak tahun 2004. Pada saat yang sama juga mempersiapkan (sudah dalam bentuk draft) novel keempat. Di luar itu, menyempatkan diri menulis cerpen, esai, blog. Juga menulis script untuk televisi. Kadang bantu orang yang mau nulis buku (sekadar konsultasi atau sebagai ghost-writer). Lumayan sibuk juga, ya?

Kalau boleh tahu, pada tahun berapa atau pada usia berapa Mas Eka mulai menyukai dunia tulis menulis?
Kalau suka nulis, kayaknya sejak umur 12-an tahun. Sejak SMP. Waktu itu puisi pertamaku dimuat di majalah anak-anak. Tapi baru serius mau jadi penulis sekitar umur 20-an, di akhir kuliah.

Siapa sih pengarang yang paling menginspirasi Mas Eka dalam menulis? Kenapa?
Sekarang sih praktis aku baca siapa saja yang aku mau dan menarik perhatianku. Tapi dalam sejarah kepenulisanku, nama Knut Hamsun dan Pramoedya Ananta Toer bisa dibilang jadi pendorong aku jadi penulis. Novel Hamsun yang berjudul "Lapar" membuat saya ingin jadi penulis secara serius. Penelitian saya atas karya-karya Pramoedya merupakan pengalaman pertama saya bersentuhan dengan kesusastraan secara serius. Tapi selepas itu, sekali lagi, saya cenderung melahap buku karya siapa pun asal saya tertarik.

Apa yang Mas Eka dapatkan dari menulis?
Macem-macem. Aku ketemu istri juga karena menulis :-)

Sampai saat ini, Mas Eka sudah menulis berapa judul buku?
Buku pribadi baru (sudah?) 5 judul: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (non fiksi), Cantik itu Luka (novel), Lelaki Harimau (novel), Gelak Sedih (kumcer), dan Cinta Tak Ada Mati (kumcer). Sebenarnya ada satu buku lagi: Corat-coret di Toilet (kumcer), tapi buku ini kugabung di buku Gelak Sedih, jadi nggak dihitung. Di luar itu, aku juga ikut di beberapa buku antologi bersama (rada susah ngitungnya, banyak!), juga nulis novel adaptasi (sekali), dan juga nerjemahin karya penulis asing (beberapa).


Di antara semua judul buku yang Mas Eka tulis, buku yang mana yang paling berkesan menurut Mas Eka? Bisa dijelaskan alasannya?
Setiap buku ditulis di waktu yang berbeda, maka kesannya juga berbeda dari waktu ke waktu.

Dalam sebulan, berapa buku yang Mas Eka beli/baca?
Nggak tentu. Kadang cuma 1 buku. Tapi bisa juga belasan buku kalau lagi semangat dan waktu melimpah.

Seberapa penting sih peran buku-buku yang Mas Eka baca dalam proses kreatif Mas Eka?
Tentu penting lah. Kira-kira kayak pemain bola mengintip pertandingan klub lain. Tapi di atas segalanya, aku membaca buku karena ingin membaca. Menulis atau tidak, aku suka membaca.

Buku apa saja yang paling berkesan buat Mas Eka, yang sering dibaca berulang-ulang?
Kecuali lagi riset, aku udah jarang baca buku berulang-ulang. Waktu sangat terbatas, dan masih banyak buku yang belum sempat dibaca.

Di antara genre fiksi dan non fiksi, Mas Eka lebih menyukai yang mana? Tolong diberikan alasannya ya, Mas.
Aku menyukai keduanya. Pada dasarnya minatku nggak cuma sastra. Aku baca buku filsafat, sejarah, antropologi, science. Yang nggak pernah kubaca paling buku "how to" dan buku-buku motivasi :-)

Menurut Mas Eka, apakah dari hanya menulis seseorang bisa survive dalam menjalani hidup ini?
Bisa ya bisa nggak. Seperti bidang lainnya. Ada yang bisa ada yang nggak. Penulis sukses, yang produktif dan dibayar dengan baik, tentu saja bisa survive. Tapi tentu juga nggak sedikit yang gagal. Memilih bidang profesi apa pun, pertanyaan itu bisa sama aja, kan?

Apa yang bisa membuat Mas Eka bertahan untuk tetap menggeluti dunia tulis-menulis sampai sekarang?
Pertama tentu karena senang. Karena senang, aku tak merasa menulis sebagai beban. Karena tak ada beban, ya nggak ada alasan untuk tidak bertahan. Kedua, aku telah memilih menulis sabagai profesiku. Tentu mesti ada komitmen.

Bagaimana peran istri, Mbak Ratih Kumala, dalam proses kreatif Mas Eka?
Dia masak mie goreng pas aku lapar :-)

Apakah Mas Eka pernah mengalami kebuntuan dalam menulis, atau bahasa kerennya writer’s block? Dan bagaimana Mas Eka menyikapinya?
Sering. Kalau pas datang writer's block, ya tinggalin tulisannya. Aku bisa isi waktu dengan baca buku, lihat film, ngegambar atau bahkan pergi bareng. Intinya, nggak maksain. Tentu saja kecuali untuk tulisan pesanan yang ada deadlinenya, pasti aku paksain nulis apa pun yang terlintas. Kalau waktu nulis novel atau cerpen, writer's block kuanggap aja alarm untuk ngelakuin hal lain.

Sebelum menulis, kira-kira yang paling penting untuk seorang penulis pahami dalam memulai sebuah tulisan itu apa?
Tahu apa yang mau ditulis. Itu saja sudah cukup.

Bagi Mas Eka, suasana yang paling kondusif untuk menulis itu seperti apa?
Asal nggak ada yang ngajak ngobrol.

Obsesi Mas Eka saat ini?
Nyelesain novel ketiga.

Pertanyaan terakhir, bisa berikan kami tips-tips sederhana ketika ingin membuat sebuah tulisan yang bagus?
Menulis saja secara jelas dan runtut.

Oke. Terimakasih atas jawaban-jawabannya, ya. Semoga Mas Eka dan Istri selalu diberikan kesehatan, sehingga bisa selalu tetap produktif dalam menulis. Wassalamualaikum....
Terima kasih.


_______________________________
Eka Kurniawan lahir di Tasikmalaya tahun 1975. Novelnya Cantik Itu Luka (2002) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan judul Bi wa Kizu (2006). Tulisan-tulisannya bisa dibaca di www.ekakurniawan.com. Saat ini tinggal di Jakarta.



Menulis adalah Ekskresi

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Minggu, 08 November 2009 3 komentar

Menulis itu apa?


Menulis adalah ekskresi: mengeluarkan banyak khayalan yang ada di dalam diri, di dalam angan supaya kondisi kita kembali normal adanya. Mari kita sederhanakan. Ekskresi muncul karena input. Kita makan maka keluarlah itu ampas melalui keringat atau melalui sesuatu yang saya tidak tega menyebutkannya. Ketika kita ditempa sekian banyak informasi yang datang, input itu mau kita apakan?. Dibiarkan menjejal di kepala? Kalau sesudah makan kita nggak ekskresi, badan bakal jadi septictank yang berjalan. Kita pasti kesakitan[1].

Kalau kita sudah melahap informasi—atau dipaksa memakannya—kejadiannya bakal sama. Pening kepala ini kalau tidak segera mengeluarkannya. Itulah mengapa saya bilang menulis itu ekskresi, sebab menulis bukan saja terkait dengan kesehatan tubuh, melainkan kesehatan mental juga.

Menulis bisa dianalogikan dengan apa saja. Kalau bermusik adalah seni melukis dengan nada, melukis adalah seni ekspresi menggunakan kanvas, maka menulis itu apa? Menulis itu merupakan seni melukis dengan kata. Melaluinya kita dapat mengekspresikan kegundah-gulanaan mengenai fenomena; mendeskripsikan khayalan-khayalan absurd didalamnya, dan merekonstruksi dunia yang ada di dalam benak manusia.

Dalam kaitannya dengan hal yang terakhir, seorang filsuf China pernah mengatakan bahwa, dengan menulis kita dapat menurunkan bulan yang ada di atas angkasa menuju dunia manusia.

Meski terlalu berlebihan, saya meng-akur-kan pernyatan filsuf itu. Mudah-mudahan kamu mengerti tentang ini :).

Nah, setelah membicarakan perumpamaan menulis yang kurang serius. Sekarang saya akan memaparkan usaha menulis menurut pandangan saya pribadi.

Bagi saya, menulis adalah usaha untuk masuk ke dalam. Menulis adalah memasuki jiwa untuk memecahkan misteri diri kita selaku manusia. Menulis adalah kegiatan meneropong neumena[2] yang ada dibalik fenomena. Ada sebuah cerita pendek mahsyur, yang bakal menjelaskan bagaimana kegiatan menulis dapat menjadi kegiatan meneropong neumena. Ceritanya begini:

Suatu saat seorang pemuda kebingungan mencari kunci di beranda rumahnya. Setelah sejam dua jam mencari dan tidak menemukan kunci, seseorang bertanya padanya,

“Dimana kau jatuhkan kunci itu?”

Sambil garuk-garuk giginya (?) si pemuda berkata, “Saya jatuhkan di dalam rumah.”

“Aneh-aneh saja kau ini! Kalau terjatuh di dalam rumah kenapa mencarinya di beranda?”

Dengan mimik lugu, pemuda itu bilang, “Abisnya di dalam gelap, sedangkan diluar terang!”

Bagi saya cerita itu begitu membekas di dalam diri saya. Saya menganggap bahwa dia—yang menulis cerita—adalah manusia yang senantiasa meneropong pendalaman dirinya. Ia menemukan bahwa manusia selalu mencari jawaban di luar jiwa. Manusia takut untuk mengeksplorasi padahal diri manusia kaya akan jawaban kehidupan. Manusia takut untuk ‘mengekskavasi’ padahal di dalam diri manusia terdapat penyembuh bagi kesakitan jiwa; padahal di dalam jiwa terdapat antibodi yang bakal menyembuhkan kegelisahan—yang jika dibiarkan dapat menyebabkan manusia jadi penghuni tetap rumah sakit jiwa.

Menulis berarti menguak berbagai macam penyadaran. Menulis berarti membedah dan menemukan diri menggunakan teropong neumena. Seandainya neumena ditemukan, maka penemuan itu akan memperkuat penghambaan diri seseorang pada-Allah-nya.

Dengan menulis, saya senantiasa berusaha untuk menghadirkan diri sebaik-baiknya dihadapan Dia, dihadapan Allah selaku pemilik saya.

Menulis itu apa?

Bagi saya, menulis adalah kegiatan melawan. Saat menulis, dalam diri saya tumbuh kesadaran bahwa das sein tidak sesuai dengan das sollen, bahwa realita tidak sesuai dengan bayangan di dalam benak. Dengan menulis saya menyadari bahwa realitas sosial, tidak sesuai dengan kemanusiaan[3]. Saya menyadari bahwa banyak anak manusia mati karena negara tidak memberikan jaminan kehidupan untuknya. Saya menyadari bahwa banyak ketimpangan terjadi; menyadari bahwa banyak dari kalangan kita yang dizalimi, maka di sanalah menulis menjadi sebuah alat untuk mengembangbiakan ‘subversivisme’. Maka untuk itulah saya berharap kalian mau menulis dan menjadikan realitas sosial sebagai pemantik untuk mengabarkan kebobrokan dan penindasan sistemik yang nyata dan merajalela.

Ayo, jadikanlah tulisan sebagai lambang keterjijikan diri pada sistem bobrok yang menghegemoni ini. Ayo muntahkan! Ayo, jadikanlah realitas sosial sebagai detonator jiwa. Ayo ledakan! Sebab, menulis adalah berkata-kata, sebab berkata-kata adalah: SENJATA![4].

Menjadi Penulis Hebat
Nah, sekarang kita bicara bagaimana caranya jadi penulis hebat. Gimana caranya? Saya juga tidak tahu, karena saya jarang merasa hebat. Lagipula hebat itu kan relatif. Kehebatan menurut kamu mungkin berbeda dengan kehebatan saya.

Kamu mungkin menganggap bahwa penulis terhebat di Indonesia itu adalah Dee Supernova, Djenar Maesa Ayu, atau Helvy Tiana Rosa. Namun, bagi saya, penulis terhebat adalah Pramudya Ananta Toer[5]. Itulah, mengapa saat ini saya jadi kesulitan membuat tips untuk menjadi penulis hebat (karena saya merasa seperti Liliput di hadapan ke-Gulliveran-nya Mas Pram). Tapi baiklah, karena saya harus profesional, maka saya bisa berpura-pura, melakonkan diri jadi penulis hebat, dan kamu pun jangan lupa untuk membayangkannya.

“Bagaimana caranya menjadi penulis hebat?”

“Hm... saya bisa menyelesaikan bahasan ini hanya dengan satu kata, yakni, menulislah!”

“Ah, kamu mah nge-bete-in aja.”

“Lha, mau gimana lagi? Ya satu-satunya cara cuma begitu. Nulis itu kan sama aja dengan naik sepeda, berenang, atau main bilyar. Kalau mau bisa jadi penulis hebat, ya harus praktek! Jalani proses penulisan. Jangan menyerah.”

“Kalo jawabannya cuma gitu doang, saya jadi nyesel memuat tulisan kamu di situs keren ini! Perasaan dalam pelatihan-pelatihan penulisan, sarannya nggak gitu doang, deh. Kamu menyesatkan saya, ah!”

“Ye, dibilang nggak percaya. Nih, saya kasih tahu. Begini, meski kamu ikut pelatihan dua ribu kali sama Ustad Roy, kamu tetep nggak akan jadi penulis hebat, kalau kamu nggak menulis. Fungsi pelatihan penulisan itu sebenarnya bukan apa-apa selain memotivasi, supaya kamu mau nulis, dan mau menjalani proses untuk menjadi penulis hebat."

“Perasaan nggak gitu-gitu amat. Seingat saya, kalau mau jadi penulis hebat, harus baca buku.”

“Nah, itu tahu, tapi apa baca buku itu menulis?. Baca buku ya baca buku! Bukan menulis!"

“Tapi, bukannya dari membaca, kita bisa dapat inspirasi, dapat pemantik seperti yang kamu bilang di atas tadi?”

“O, nanya tentang inspirasi, toh? Okey saya kasih tahu. Siap mendengarkan?”

“Siap!”
***
Banyak orang yang ingin menulis tetapi tak mendapat inpirasi. Dia menunggu-nunggu inspirasi seolah-olah inspirasi adalah bayi yang bakal jatuh dari paruh bangau. Tidak-tidak! Jangan seperti itu, jangan menunggu, seolah-olah inspirasi akan datang langsung begitu saja. Undanglah inspirasi datang. Pancinglah dia!

Bagaimana cara memancingnya?. Ada banyak cara, misalnya dengan jalan-jalan, nonton film, atau membaca buku. Kita akan bahas satu persatu.

Jalan-Jalan
Kamu bisa melakukannya ke mana saja. Misalkan melalui jalan yang jarang kamu lalui. Lihat keadaan, lihat pagar, lihat tukang surabi, lihat selokan yang kamu lewati. Nah, itu yang keuangannya pas-pasan kayak saya. Kalau kamu punya uang banyak, kamu bisa pergi naik mobil ke daerah-daerah yang belum pernah kamu singgahi; tinggal di pedesaan dan berinteraksi dengan orang-orang baru yang bakal membuat kamu fresh. Atau kamu bisa pergi ke pantai, atau naek gunung, dan lain sebagainya.

Nonton Film.
Film ini benar-benar membantu, untuk mendatangkan sesuatu yang kita obrolkan. Mengenai film, saya pernah punya pengalaman pribadi. Suatu waktu saya pernah iseng menonton film India. Film itu mengisahkan tentang cinta (standar), dan di film itu, ada dialog yang mengharuskan saya untuk menulis, karena saya terinspirasi.

Suatu saat Sanjay membuat Prita menangis. Prita masuk ke kamar dan mengurung diri selama berhari-hari. Karena keperihan yang dalam, saat disuruh orang tuanya makan ia selalu menolaknya.

Orang tua Prita khawatir kesehatan anaknya, maka diutuslah nenek yang sangat menyayangi Prita. Setelah mengetahui apa yang menyebakan tubuh Prita menjadi kurus, neneknya memberikan pertanyaan yang menyadarkan, “Jika hati terluka, mengapa justru perut yang kau sakiti?.”

Jdak! Kalimat-kalimat itu mengiang-ngiang di kuping. Setelah selesai nonton, saya langsung menulis dan mengembangkan perkataan itu dalam bentuk essay.

Membaca buku
Kata seseorang, seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik pula. Seorang kawan mengatakan demikian. Membaca adalah salah satu cara terbaik dalam mengembangkan imajinasi dan mendatangkan inspirasi. Jika kamu menonton, kamu terlalu dimanjakan oleh visualisai sehingga benak kamu tidak terlalu memainkan imajinasi. Membaca itu berbeda, dengannya kita dapat membuat imajinasi yang tak terkira.

Pokoknya, cobalah baca novel, ensiklopedia, atau kumpulan puisi, essay, dan cerpen. Jika bacaan itu bagus, saya yakin kamu bakal tersentak dan tiba-tiba... inspirasi yang kamu tunggu-tunggu itu datang.

“Bang, kalau inspirasi sudah datang, apa yang harus saya lakukan?”

“Bang bang bang ... kamu yang BANGKONG![6]."

“Hehe... Gimana, dong?”

“Kamu ini kayak anak kecil yang maunya disuapin! Pokonya nulis! Nulis! Nulis! Dan nulis! Kalau udah dapet inspirasi nulis! Kalo belum dapet, undang itu inpirasi, terus nulis!”

“Kalau udah dapet inspirasi, harus segera ditulis ya, Bang?.”

“Ya jangan didiemin. Kalo dalam prinsip bisnis, uang itu harus diputerin supaya nggak abis, nah... inspirasi juga kayak gitu! Kalau inspirasi nggak langsung ditulis, nanti jadi basi. Kalau udah basi rasanya nggak enak, jadi hambar!”

“Hambar kayak nasi goreng yang kemaren abang masak itu, ya?” “Heu... kumaha sia we lah!. Tapi gimana nih, udah dapet poinnya belum?”

“Lumayan! Pokoknya kalau ada inspirasi langsung ditulis.”

“Nah, begitu dong! Sekarang dari obrolan ini, kamu dapet inspirasi nggak?”

“Dapet, Bang!”

“Kalau gitu langsung tulis. Omong-omong inspirasinya tentang apa?”

“Hehehe... jangan, ah. Nanti marah!”

“Ye, mau bikin penasaran, ya? Tentang nasi goreng, ya?”

“Bukan!”

“Tentang apa atuh?”

“Tentang upil! Upil yang nyempil di gigi abang!.

“Huarggggggggggh!”

Setelah Mendapatkan Inspirasi, Kemudian menulislah!<>Finding Forester mengajarkan bahwa di awal menulis kita harus melakukannya dengan hati. Setelahnya, baru gunakan pikiran.

Menulis dengan hati membuat penulisan kita lancar, tidak patah-patah, karena dalam menulisnya kita tidak menggunakan pikiran. Karenanya, wajarlah setelah tulisan selesai, kamu pasti akan menemukan tulisan yang tidak terstruktur. Hei! Jangan dulu kecewa, karena seperti halnya sesuatu yang tertumpah, kata-kata yang tertumpah bakal ada yang tidak klop dengan tema penulisan. Nggak apa-apa, jangan cemas, karena rata-rata penulis sekaliber apa pun pasti memiliki pengalaman seperti itu.

Setelah tertumpah baru tulislah dengan Pikiran. Edit tulisan kamu. Strukturkan! Kamu pilih-pilah kata, bolak-balikkan susunannya sampai pas seperti yang kamu inginkan, keinginan yang sekiranya sesuai dengan pemahaman pembaca yang bakal menilai kerja kamu. Setelah edit berulang kali. Selesailah itu tulisan. Lalu?

Sebarkan!

Mengenai sebar-menyebar tulisan ini juga bukan sesuatu yang mudah. Di awal penulisan kamu sudah harus mengetahui kalangan mana yang kamu bidik. Kamu sendiri udah tahu kan, kalau secara alamiah, ketika ada sesuatu yang disuka, pastilah ada sesuatu yang tidak disuka. Kalau kamu menulis sesuatu yang berat, misalnya ideologi dengan bahasa yang ilmiah maka ‘jangan kasih’ itu tulisan ke orang-orang yang kurang faham mengenai bahasan yang menjelimetkan. Kecuali, kamu mampu membahasakan dengan baik, sesuai dengan bahasa kalangan yang ingin kamu berikan.

Maksudnya bagaimana?

Begini, saya akan menuliskan pandangan mengenai ideologi. Menurut Marx, ideologi adalah kesadaran palsu, tetapi menurut Annabhani berbeda lagi. Ideologi merupakan sebuah pemahaman fundamental, pemahaman yang radic mengenai alam semesta manusia dan kehidupan. Yang dari landasan pemahaman itu, direkonstruksi way of life mengenai kehidupan.

Kalau saya bicara pada orang-orang kayak kamu, maka kita bisa nyambung, tanpa perlu menjelaskan lagi mengenai ‘kesadaran palsu’, makna ‘fundamental’, ‘radic’, ‘rekonstruksi’ dan ‘way of life’. Tentang hal itu, kita sudah bisa connect satu sama lainnya. Tapi coba utarakan hal itu pada ibu-ibu yang suka jualan gado-gado dekat kosan kita. Wah, pasti sangat sulit untuk dipahaminya.

Oleh karenanya, saat melakukannya, kamu harus menulis tulisan yang sesuai dengan segmentasinya. Sesuaikanlah! Pas-kan-lah, supaya kata-kata kamu, supaya pemikiran kamu bisa segera dimamah biak dan dicerna.

Saat informasi yang kamu sampaikan sudah pas dengan segmentasinya, kemudian massif dibaca ‘kalangannya’. Maka lama-kelamaan kalangan itu akan mengalami keinginan ekskresi seperti yang dulu pernah kamu rasakan. Mereka akan mengalami keinginan untuk memuntahkan, dan meledakkan.

Menyambung dengan bahasan kita sebelumnya, maka sejak saat tulisan itu dibaca, kamu sudah berperan sebagai pengembangbiak ‘subversivisme dalam berpikir. Maka sejak saat itulah kamu menjadi seorang yang ikut berpartisipasi untuk menutup zaman yang usang, kemudian menggantikannya dengan zaman yang baru. (Divansemesta)


Catatan Kaki:
1. Secara alamiah/hukum alamnya memang begitu. Air yang terus-menerus ada disebuah walungan (walungan= kolam). Lama-kelamaan akan mendangkal dan keruh seandainya air tersebut tidak mengalir. Komputer juga demikian. Coba, masukin data kedalam komputer 20 giga kita dengan film-film yang kapasitasnya ternyata lebih dari 20 giga, maka komputer kita bakal error. Ini sama saja dengan otak manusia.< 2. Neumena adalah sesuatu yang tersembunyi di balik fenomena. Orang-orang di Timur mengatakan apa yang disebut filosof barat tentang hal ini (neumena) sebagai hikmah.

3. Bukan kemanusiaan-isme atau humanisme. Saya tidak berpihak pada humanisme tapi saya berpihak pada kemanusiaan.

4. Saya membaca judul dari sebuah buku tentang kata-kata adalah senjata saya lupa bukunya apa.yang pasti buku itu terbitan INSIST. Cari, deh.

5. Coba kamu baca buku Tetralogi Pulau Buru-nya dia, mungkin anda bisa membandingkan sudut pandang kita mengenai kehebatan ini.

6. Kodok


Related Posts with Thumbnails
Diberdayakan oleh Blogger.