Eka Kurniawan: Aku tak merasa menulis sebagai beban.

Posted by Penulis Cilik Punya Karya On Senin, 09 November 2009 1 komentar
(Poto saya copas dari wikipedia.org)

Sebelumnya saya agak nervous juga ketika ingin mewawancara Eka Kurniawan. Bukan apa-apa, Eka Kurniawan adalah penulis yang karya-karyanya sering diperbincangkan banyak orang, tulisan-tulisannya (baik cerpen maupun essai) pernah muncul di media-media nasional, bahkan salah satu novelnya yang berjudul Cantik Itu Luka telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan judul Bi Wa Kizu. Dengan rekam jejak seperti itulah akhirnya saya menganggap bahwa Eka Kurniawan adalah sosok yang sudah berada jauh di atas saya, mengawang-awang seperti awan dan tentu sulit sekali untuk dijangkau. Lagi pula, mengingat sindikat penulis hanyalah situs kecil dan tidak seperti situs-situs kepenulisan lainnya yang bisa dibilang sudah mapan, saya semakin merasa kecut. Namun, dengan agak sedikit nekad dan berpikir positif bahwa wawancara ini adalah untuk kebaikan, maka saya memberanikan diri mengajukan permohonan untuk melakukan wawancara kepada beliau. Alhamdulillah, dengan sangat baik hati beliau menerima permohonan saya dengan tangan terbuka. Maka, simaklah percakapan saya (Noor H. Dee) dengan Eka Kurniawan via e-mail di bawah ini. Semoga bermanfaat. Welcome to the show. Cheers!

Assalamualaikum. Apa kabar, Mas Eka? Sedang sibuk apa sekarang?
Kabarku baik. Kesibukanku: menyelesaikan novel ketiga yang sudah kukerjakan sejak tahun 2004. Pada saat yang sama juga mempersiapkan (sudah dalam bentuk draft) novel keempat. Di luar itu, menyempatkan diri menulis cerpen, esai, blog. Juga menulis script untuk televisi. Kadang bantu orang yang mau nulis buku (sekadar konsultasi atau sebagai ghost-writer). Lumayan sibuk juga, ya?

Kalau boleh tahu, pada tahun berapa atau pada usia berapa Mas Eka mulai menyukai dunia tulis menulis?
Kalau suka nulis, kayaknya sejak umur 12-an tahun. Sejak SMP. Waktu itu puisi pertamaku dimuat di majalah anak-anak. Tapi baru serius mau jadi penulis sekitar umur 20-an, di akhir kuliah.

Siapa sih pengarang yang paling menginspirasi Mas Eka dalam menulis? Kenapa?
Sekarang sih praktis aku baca siapa saja yang aku mau dan menarik perhatianku. Tapi dalam sejarah kepenulisanku, nama Knut Hamsun dan Pramoedya Ananta Toer bisa dibilang jadi pendorong aku jadi penulis. Novel Hamsun yang berjudul "Lapar" membuat saya ingin jadi penulis secara serius. Penelitian saya atas karya-karya Pramoedya merupakan pengalaman pertama saya bersentuhan dengan kesusastraan secara serius. Tapi selepas itu, sekali lagi, saya cenderung melahap buku karya siapa pun asal saya tertarik.

Apa yang Mas Eka dapatkan dari menulis?
Macem-macem. Aku ketemu istri juga karena menulis :-)

Sampai saat ini, Mas Eka sudah menulis berapa judul buku?
Buku pribadi baru (sudah?) 5 judul: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (non fiksi), Cantik itu Luka (novel), Lelaki Harimau (novel), Gelak Sedih (kumcer), dan Cinta Tak Ada Mati (kumcer). Sebenarnya ada satu buku lagi: Corat-coret di Toilet (kumcer), tapi buku ini kugabung di buku Gelak Sedih, jadi nggak dihitung. Di luar itu, aku juga ikut di beberapa buku antologi bersama (rada susah ngitungnya, banyak!), juga nulis novel adaptasi (sekali), dan juga nerjemahin karya penulis asing (beberapa).


Di antara semua judul buku yang Mas Eka tulis, buku yang mana yang paling berkesan menurut Mas Eka? Bisa dijelaskan alasannya?
Setiap buku ditulis di waktu yang berbeda, maka kesannya juga berbeda dari waktu ke waktu.

Dalam sebulan, berapa buku yang Mas Eka beli/baca?
Nggak tentu. Kadang cuma 1 buku. Tapi bisa juga belasan buku kalau lagi semangat dan waktu melimpah.

Seberapa penting sih peran buku-buku yang Mas Eka baca dalam proses kreatif Mas Eka?
Tentu penting lah. Kira-kira kayak pemain bola mengintip pertandingan klub lain. Tapi di atas segalanya, aku membaca buku karena ingin membaca. Menulis atau tidak, aku suka membaca.

Buku apa saja yang paling berkesan buat Mas Eka, yang sering dibaca berulang-ulang?
Kecuali lagi riset, aku udah jarang baca buku berulang-ulang. Waktu sangat terbatas, dan masih banyak buku yang belum sempat dibaca.

Di antara genre fiksi dan non fiksi, Mas Eka lebih menyukai yang mana? Tolong diberikan alasannya ya, Mas.
Aku menyukai keduanya. Pada dasarnya minatku nggak cuma sastra. Aku baca buku filsafat, sejarah, antropologi, science. Yang nggak pernah kubaca paling buku "how to" dan buku-buku motivasi :-)

Menurut Mas Eka, apakah dari hanya menulis seseorang bisa survive dalam menjalani hidup ini?
Bisa ya bisa nggak. Seperti bidang lainnya. Ada yang bisa ada yang nggak. Penulis sukses, yang produktif dan dibayar dengan baik, tentu saja bisa survive. Tapi tentu juga nggak sedikit yang gagal. Memilih bidang profesi apa pun, pertanyaan itu bisa sama aja, kan?

Apa yang bisa membuat Mas Eka bertahan untuk tetap menggeluti dunia tulis-menulis sampai sekarang?
Pertama tentu karena senang. Karena senang, aku tak merasa menulis sebagai beban. Karena tak ada beban, ya nggak ada alasan untuk tidak bertahan. Kedua, aku telah memilih menulis sabagai profesiku. Tentu mesti ada komitmen.

Bagaimana peran istri, Mbak Ratih Kumala, dalam proses kreatif Mas Eka?
Dia masak mie goreng pas aku lapar :-)

Apakah Mas Eka pernah mengalami kebuntuan dalam menulis, atau bahasa kerennya writer’s block? Dan bagaimana Mas Eka menyikapinya?
Sering. Kalau pas datang writer's block, ya tinggalin tulisannya. Aku bisa isi waktu dengan baca buku, lihat film, ngegambar atau bahkan pergi bareng. Intinya, nggak maksain. Tentu saja kecuali untuk tulisan pesanan yang ada deadlinenya, pasti aku paksain nulis apa pun yang terlintas. Kalau waktu nulis novel atau cerpen, writer's block kuanggap aja alarm untuk ngelakuin hal lain.

Sebelum menulis, kira-kira yang paling penting untuk seorang penulis pahami dalam memulai sebuah tulisan itu apa?
Tahu apa yang mau ditulis. Itu saja sudah cukup.

Bagi Mas Eka, suasana yang paling kondusif untuk menulis itu seperti apa?
Asal nggak ada yang ngajak ngobrol.

Obsesi Mas Eka saat ini?
Nyelesain novel ketiga.

Pertanyaan terakhir, bisa berikan kami tips-tips sederhana ketika ingin membuat sebuah tulisan yang bagus?
Menulis saja secara jelas dan runtut.

Oke. Terimakasih atas jawaban-jawabannya, ya. Semoga Mas Eka dan Istri selalu diberikan kesehatan, sehingga bisa selalu tetap produktif dalam menulis. Wassalamualaikum....
Terima kasih.


_______________________________
Eka Kurniawan lahir di Tasikmalaya tahun 1975. Novelnya Cantik Itu Luka (2002) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan judul Bi wa Kizu (2006). Tulisan-tulisannya bisa dibaca di www.ekakurniawan.com. Saat ini tinggal di Jakarta.


1 komentar to Eka Kurniawan: Aku tak merasa menulis sebagai beban.

  1. says:

    Unknown Mas, aku boleh minta emailnya Mas Eka Kurniawan. Aku juga mau mewawancarai beliau. Terima kasih

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails
Diberdayakan oleh Blogger.